Serpong – Humas BRIN. Plt Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Sumaryanto menyatakan, target Key Performance Indicator (KPI) ORTN yang harus diselesaikan tahun 2022 diantaranya adalah 100 publikasi internasional. Hal ini disampaikan Agus pada kegiatan internalisasi program kegiatan ORTN tahun 2022, sekaligus memperingati hari lahirnya BATAN yang sekarang berubah nama menjadi ORTN yang ke-63, Selasa (07/12).

“Tahun 2022 kita mempunyai Key Performance Indicator yang harus diselesaikan, diantaranya 100 publikasi internasional, 10 kekayaan intelektual, 11 standar, 2 desain purwarupa atau prototype serta pencapaian dana eksternal kurang lebih 50% diluar dana DIPA. Saya yakin ini bisa kita capai, karena paling tidak kita memiliki 77 Peneliti Ahli utama, 144 Peneliti Ahli Madya. Dengan SDM sejumlah itu, kita semua yakin, kita bisa menyelesaikannya,” kata Agus.

Agus menegaskan bahwa nuklir tetap menjadi tugas dan peran utama ORTN atau BATAN. “Bagaimana nuklir lebih menjadi bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan bisa menjadi keunggulan daya saing negeri kita. Tidak hanya ditingkat regional namun juga di tingkat internasional,” ujar Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, rumah program ORTN merupakan rumah program hasil inovasi teknologi nuklir. Terdapat 3 hal  pokok output rumah program ORTN adalah Sistem Pemantauan Radiasi untuk Keselamatan dan Keamanan (SPRKK), Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) serta  kegiatan teknologi radiasi nuklir dan berkas partikel.

“SPRKK masuk dalam Program Riset Nasional.  Teknologi PLTN antara lain meliputi teknologi eksplorasi, teknologi bahan bakar, teknologi pengelolaan limbah dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk dalam kegiatan teknologi radiasi nuklir dan berkas partikel antara lain teknologi iradiator, teknologi akselerator, dan teknologi neutron,” papar Agus.

Selain Rumah Program, menurut Agus ORTN juga mengusulkan revitalisasi fasilitas kenukliran  agar semua Periset dan SDM iptek dapat melakukan penelitian riset dengan baik. “Tentunya fasilitas riset akan kita perbaiki, akan kita upgrade, dan bahkan ada yang diganti,” ujar Agus.

“Revitalisasi akan dibagi menjadi 2 bagian yaitu berbasis reaktor dan berbasis non-reaktor. Untuk itu kita mengusulkan ke pemerintah melalui Bappenas,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini Agus Sumaryanto juga menyampaikan bahwa ORTN akan mendorong terus dalam menjaga hubungan baik dengan organisasi kenukliran seperti International Atomic Energy Agency (IAEA), dengan harapan ORTN bisa memiliki bargaining yang lebih dengan organisasi kenukliran tersebut.

“Dengan tetap menjalin hubungan baik, ORTN dapat meminta bantuan IAEA jika pada suatu saat kita membangun reaktor riset atau reaktor daya non-komersial, seperti bantuan kujungan profesor atau tenaga-tenaga ahli,” kata Agus.

Agus berharap, seluruh siivitas ORTN agar tidak berhenti dan tidak merasa lelah tetap bekerja di nuklir. “Kesempatan terbuka luas, terbuka lebar, nuklir bisa menjadi besar. Yang kita hadapi adalah tantangan dengan luar negeri. Menjadi tantangan kita bersama, kita akan unggul di nuklir, mampu bersaing, mampu berdaya saing dengan negara-negara lain, tetap semangat, tetap konsisten dan tawakal melaksanakan tugas kita,” harapnya.  (yrt /ed:pur)

Sebarkan