Jakarta – Humas BRIN. Kerja sama dan kolaborasi yang luas dengan semua pihak di Asia Tenggara, dibutuhkan untuk membangun kembali ekonomi dan ketahanan masyarakat dalam upaya mencapai keberlanjutan jangka panjang (SDGs). Hal itu disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Laksana Tri Handoko saat memberikan sambutan secara dari pada kegiatan The 4th SEASIA Biennial Conference di Hotel Le Meridien Jakarta, Kamis (9/6).

“Semua pihak termasuk pemerintah, akademisi, komunitas, sektor swasta, dan khususnya masyarakat sipil Asia Tenggara perlu bekerja sama dan berkolaborasi. Konsorsium ini adalah bagian dari usaha kita untuk mempromosikan dialog kerja sama dengan semua anggota konsorsium SEASIA,” kata Handoko.

Dia mengatakan konferensi SEASIA ini dapat dijadikan momentum untuk mengatasi tantangan pasca pandemik yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Saya percaya konferensi ini akan menyediakan kesempatan unik untuk mendiskusikan terkait penelitian dan tanggapan kebijakan pasca COVID-19,” ucapnya lagi.

Hal senada diungkapkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim. Ia menyebut agenda 4th SEASIA sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), terwujud dalam gotong royong untuk memulihkan semua aspek kehidupan dari dampak pandemi.

Lebih lanjut Ia mengatakan, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, tak bisa mengesampingkan aspek kesehatan. Begitupun sebaliknya, dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan kita juga perlu mempertimbangkan aspek kebudayaan. “Pelaksanaan 4th SEASIA memainkan peran strategis untuk menguatkan komitmen tersebut,” tegasnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memberikan tiga poin pertanyaan yang dapat mendasari pada agenda konferensi ini. Pertama adalah bagaimana negara-negara di Asia Tenggara dapat berkembang menuju masyarakat yang berketahanan? Kemudian untuk membangun ketahanan di kawasan, pengalaman penting apa yang akan berkontribusi, tidak hanya kepada negara-negara Asia Tenggara itu sendiri tetapi juga kepada dunia yang lebih luas? Terakhir adalah aturan apa yang dapat dimainkan oleh Asia Tenggara untuk menjadikannya tempat yang lebih baik? “Asia Tenggara adalah rumah dari keberagaman etnis, agama, dan budaya. Hal tersebut adalah aset dari negara-negara di region ini,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Konsorsium SEASIA Hsin-Huang Michael Hsiao menjelaskan sejarah berdirinya Konsorsium SEASIA. BRIN, yang sebelumnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), adalah satu dari sepuluh institusi pendidikan di wilayah Asia Tenggara yang bersama-sama mendirikan SEASIA pada tahun 2013, di Kyoto, Jepang.

Saat ini anggota SEASIA telah berkembang menjadi 15 institusi Pendidikan dalam wilayah Asia yang lebih luas, mewakili Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Tiongkok, Hongkong, Filipa, Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand, dan Kamboja.

Pada sesi pembicara kunci, Prof Bart Barendregt dari Institut Antropologi dan Sosiologi Budaya Leiden mengemukakan pendapatnya mengenai permasalahan di Asia Tenggara. Ia mengungkapkan bahwa permasalahan masyarakat di dunia khususnya Asia Tenggara tidak terlepas dari bidang Antropologi. Antropologi adalah studi tentang orang-orang di seluruh dunia, sejarah evolusi manusia, perilaku, bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, serta berkomunikasi dan bersosialiasi satu sama lain.

Bart mengatakan, pada masa modern, istilah antropologi berkembang menjadi sebuah ilmu pembelajaran dalam melihat bagaimana orang lain dapat membayangkan masa depannya. Antropologi melihat masa depan bukanlah sesuatu yang tidak teratur atau takdir karena masa depan terbentuk dari rutinitas hidup dan budaya yang dilakukan.

Namun demikian, terdapat faktor gangguan (disruptions) yang dapat mempersulit kondisi, seperti terjadinya pandemi COVID-19, perubahan iklim, pemanasan global, dan hal-hal lainnya yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. “Ini adalah tantangan yang harus kita hadapi semua. Dengan memanfaatkan teknologi seperti big data analytics kita dapat menyelesaikan hal tersebut,” jelasnya.

Menteri Luar Negeri yang diwakilkan oleh Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Yayan GH Mulyana menerangkan tentang pentingnya kolaborasi dan kemitraan. Ia mengungkapkan dengan hubungan internasional dan kerja sama yang terjalin kuat dari berbagai pihak secara mekanisme bilateral dan multilateral, dapat memberikan apa yang kita sebut dengan strategi diplomasi vaksin. “Kunci suksesnya adalah kolaborasi dan kemitraan antar negara, dan Presidensi G20 nanti dan Konferensi SEASIA ini adalah bagiannya,” sebutnya.

Kegiatan The 4th SEASIA Biennial Conference digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) bekerja sama dengan SEASIA (Southeast Asia Studies in Asia) Consortium. Rangkaian kegiatan yang berlangsung tiga hari ini mengusung tema “Managing Disruption, Developing Resilience for a Better Southeast Asia”.

Agenda hari pertama dilanjutkan dengan sesi diskusi meja bundar yang membahas Tanggapan dan Tantangan Kebijakan COVID-19 di Asia Tenggara. Kemudian dilanjutkan pada hari kedua dengan topik diskusi “Mengatur Risiko Sistemik dan Risiko Berjenjang di Asia Tenggara” dan topik “Lingkungan, Perubahan Iklim dan Pengelolaan Sumber Daya Alam”. Konferensi akan diakhiri pada hari ke tiga yang memiliki topik diskusi mengenai ASEAN, Multilateralisme, Asing Kebijakan dan Keamanan di Kawasan Indo-Pasifik, Penerbitan Akademik dan Ilmiah di Asia, dan terakhir adalah Forum Adat tentang “Penguatan Inklusi Masyarakat Adat dalam Kemajuan ASEAN”. (RBA/ed:jml)

Sebarkan