Jakarta – Dalam benak Anda, pasti Anda menganggap bahwa puncak Bulan Purnama selalu jatuh di malam ke-15 penanggalan Hijriah. Benarkah demikian? Mari kita simak ulasan astronomisnya. Berdasarkan keterangan oleh peneliti Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN Andi Pangerang, Penanggalan Hijriah adalah penanggalan yang digunakan oleh umat Islam yang mana sistemnya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Fenomena yang digunakan untuk menandai tanggal 1 setiap bulannya adalah terlihatnya Bulan sabit muda yang sangat tipis, lazim disebut hilal, beberapa saat setelah Matahari terbenam. Pergantian hari dalam penanggalan Hijriah dimulai sejak terbenamnya Matahari, tidak seperti penanggalan Masehi yang pergantian harinya dimulai sejak tengah malam.

Hilal biasanya muncul beberapa jam setelah fase Bulan Baru astronomis, yang mana Bulan Baru ini ditandai oleh nilai bujur ekliptika Matahari maupun Bulan yang bernilai sama. Dengan kata lain, selisih bujur ekliptika antara Matahari dan Bulan bernilai nol derajat. Bujur ekliptika sendiri adalah sudut yang ditempuh benda langit di sepanjang ekliptika atau bidang edar yang diukur dari Titik Pertama Aries (First Point of Aries) atau perpotongan antara ekliptika dengan ekuator langit atau perpanjangan ekuator Bumi yang memotong bola langit.

Selang waktu dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya berkisar antara 29 hari 5,5 jam hingga 29 hari 20 jam. Inilah yang membuat terkadang umur bulan dalam penanggalan Hijriah terkadang 29 hari, terkadang 30 hari, terkadang berselang-seling 29 dan 30 hari, terkadang dua bulan berturut-turut 29 hari dan terkadang dua bulan berturut-turut 30 hari.

Kemunculan hilal berkisar antara 5 hingga 25 jam setelah fase Bulan Baru astronomis. Sedangkan, selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis berkisar antara 13 hari 21,6 jam hingga 15 hari 14,7 jam antara tahun 1000 Hijriah hingga 2000 Hijriah. Purnama astronomis ditandai oleh selisih antara bujur ekliptika Matahari dan Bulan sebesar 180 derajat. Oleh karenanya, Purnama juga disebut sebagai Oposisi atau Istiqbal yang berarti “membelakangi” atau “berlawanan”. Karena selisih maksimum bujur ekliptika Matahari dan Bulan sebesar 180 derajat yang juga merupakan Purnama astronomis, maka Purnama astronomis dapat disebut juga sebagai puncak Purnama.

Dalam simulasi ini, kita menggunakan nilai ekstrem dan nilai rata-rata dari durasi kemunculan hilal sejak Bulan Baru astronomis maupun selang waktu Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis. Kemunculan hilal rata-rata 15 jam setelah fase Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis rata-rata 14 hari 18,4 jam.

Jika hilal muncul sekitar 15 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 14 hari 18 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 14 hari 3 jam atau dibulatkan menjadi 14 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 14 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 15.

Demikian juga jika hilal muncul sekitar 25 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 15 hari 14 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 14 hari 13 jam atau dibulatkan menjadi 14 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 14 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 15.

Akan tetapi, jika hilal muncul sekitar 25 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 13 hari 22 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 12 hari 21 jam atau hampir 13 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi setelah tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai lebih dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke atas). 13 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 14.

Demikian juga jika hilal muncul sekitar 5 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 13 hari 22 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 13 hari 17 jam atau dibulatkan menjadi 14 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 13 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 14.

Sedangkan, jika hilal muncul sekitar 5 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 15 hari 14 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 15 hari 9 jam atau dibulatkan menjadi 15 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 15 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 16.

Mengapa patokan yang digunakan adalah tengah hari? Karena, tengah hari merupakan waktu di antara terbit dan terbenam Matahari. Jika Purnama Astronomis terjadi setelah tengah hari, maka iluminasi (luas pencahayaan) Bulan akan maksimum saat terbenam Matahari setelah tengah hari, sedangkan iluminasi Bulan saat terbit Matahari sebelum tengah hari lebih kecil dibandingkan dengan iluminasi Bulan saat terbenam Matahari setelah tengah hari. Sementara itu, jika Purnama Astronomis terjadi sebelum tengah hari, maka iluminasi Bulan akan maksimum saat terbit Matahari sebelum tengah hari, sedangkan iluminasi Bulan saat terbenam Matahari setelah tengah hari lebih kecil dibandingkan dengan iluminasi Bulan saat terbit Matahari sebelum tengah hari. Sederhananya, jika terjadinya Purnama Astronomis berdekatan dengan terbit ataupun terbenam Matahari, maka iluminasi Bulan akan maksimum sesuai dengan waktu yang berdekatan tersebut, baik ketika terbit maupun terbenam Matahari.

Hasil simulasi tersebut dapat ditabelkan menjadi berikut ini:

Tabel 1. Selang Waktu dari Kemunculan Hilal hingga Purnama Astronomis

Dari simulasi ini, dapat disimpulkan bahwa puncak Bulan Purnama tidak selalu jatuh pada malam ke-15 dalam penanggalan Hijriah, melainkan dapat terjadi juga pada malam ke-14 maupun malam ke-16. Purnama astronomis jatuh pada malam ke-14 jika selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis lebih kecil dari rata-ratanya. Sedangkan, Purnama astronomis jatuh pada malam ke-16 jika selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama lebih besar dari rata-ratanya dan selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga kemunculan hilal lebih kecil kecil atau sama dengan rata-ratanya.

Berikut ini tabel jatuhnya Purnama astronomis atau puncak Purnama untuk tahun 2021 dan 2022 Masehi:

Tabel 2. Jatuhnya Purnama Astronomis Sepanjang Tahun 2021-2022 Masehi

Bulan dan Tahun HijriahBulan Baru AstronomisTanggal 1 Penanggalan HijriahPurnama AstronomisTanggal Purnama Astronomis
Jumadal Akhirah 1442 H13 Januari 2021 pukul 12.00 WIB14 Januari 202129 Januari 2021 pukul 02.16 WIB16 Jumadal Akhirah
Rajab 1442 H12 Februari 2021 pukul 02.05 WIB13 Februari 202127 Februari 2021 pukul 15.17 WIB16 Rajab
Sya’ban 1442 H13 Maret 2021 pukul 17.21 WIB15 Maret 202129 Maret 2021 pukul 01.48 WIB15 Sya’ban
Ramadan 1442 H12 April 2021 Pukul 09.30 WIB13 April 202127 April 2021 pukul 10.31 WIB15 Ramadan
Syawwal 1442 H12 Mei 2021 Pukul 01.59 WIB13 Mei 202126 Mei 2021 pukul 18.13 WIB15 Syawwal
Zulqa’dah 1442 H10 Juni 2021 pukul 17.52 WIB12 Juni 202125 Juni 2021 pukul 01.39 WIB14 Zulqa’dah
Zulhijjah 1442 H10 Juli 2021 pukul 08.16 WIB11 Juli 202124 Juli 2021 pukul 09.36 WIB14 Zulhijjah
Muharram 1443 H8 Agustus 2021 pukul 20.50 WIB10 Agustus 202122 Agustus 2021 pukul 19.01 WIB14 Muharram
Safar 1443 H7 September 2021 pukul 07.51 WIB8 September 202121 September 2021 pukul 06.54 WIB14 Safar
Rabi’ul Awwal 1443 H6 Oktober 2021 pukul 18.05 WIB8 Oktober 202120 Oktober 2021 pukul 21.56 WIB14 Rabi’ul Awwal
Rabi’ul Akhir 1443 H5 November 2021 pukul 04.14 WIB6 November 202119 November 2021 pukul 15.57 WIB15 Rabi’ul Akhir
Jumadal Ula 1443 H4 Desember 2021 pukul 14.43 WIB6 Desember 202119 Desember 2021 pukul 11.35 WIB14 Jumadil Ula
Jumadal Akhirah 1443 H3 Januari 2022 pukul 01.33 WIB4 Januari 202218 Januari 2022 pukul 06.48 WIB15 Jumadal Akirah
Rajab 1443 H1 Februari 2022 pukul 12.46 WIB2 Februari 202216 Februari 2022 pukul 23.56 WIB16 Rajab
Sya’ban 1443 H3 Maret 2022 Pukul 00.34 WIB4 Maret 202218 Maret 2022 pukul 14.17 WIB16 Sya’ban
Ramadan 1443 H1 April 2022 pukul 13.24 WIB2 April 202217 April 2022 pukul 01.55 WIB16 Ramadan
Syawwal 1443 H1 Mei 2022 pukul 03.28 WIB2 Mei 202216 Mei 2022 pukul 11.14 WIB15 Syawwal
Zulqa’dah 1443 H30 Mei 2022 pukul 18.30 WIB1 Juni 202214 Juni 2022 pukul 18.51 WIB15 Zulqa’dah
Zulhijjah 1443 H29 Juni 2022 pukul 09.52 WIB30 Juni 202214 Juli 2022 pukul 01.37 WIB15 Zulhijjah
Muharram 1444 H29 Juli 2022 pukul 00.54 WIB30 Juli 202212 Agustus 2022 pukul 08.35 WIB14 Muharram
Safar 1444 H27 Agustus 2022 pukul 15.17 WIB29 Agustus 202210 September 2022 pukul 16.59 WIB14 Safar
Rabi’ul Awwal 1444 H26 September 2022 pukul 04.54 WIB27 September 202210 Oktober 2022 pukul 03.54 WIB14 Rabi’ul Awwal
Rabi’ul Akhir 1444 H25 Oktober 2022 pukul 17.48 WIB27 Oktober 20228 November 2022 pukul 18.02 WIB14 Rabi’ul Akhir
Jumadal Ula 1444 H24 November 2022 Pukul 05.57 WIB25 November 20228 Desember 2022 pukul 11.08 WIB14 Jumadil Ula

Dari tabel di atas, terlihat bahwa jatuhnya Purnama astronomis tidak selalu jatuh pada tanggal 15 dalam penanggalan Hijriah, melainkan dapat terjadi pula pada tanggal 14 maupun tanggal 16 penanggalan Hijriah. Sehingga, puncak Bulan Purnama dapat terjadi antara tanggal 14-16 dalam penanggalan Hijriah bergantung dari jatuhnya tanggal 1 penanggal Hijriah maupun jatuhnya Purnama astronomis.

Demikian penjelasan mengenai puncak Bulan Purnama yang tidak selalu jatuh pada tanggal 15 dalam penanggalan Hijriah. Semoga bermanfaat bagi Sobat LAPAN semua. Salam Antariksa! (APH)

Sumber : https://www.lapan.go.id/post/7560/apakah-puncak-bulan-purnama-selalu-jatuh-pada-malam-ke15-penanggalan-hijriah