Maros – Humas BRIN. Integrasi periset dari berbagai kementerian dan lembaga ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah selesai, meskipun proses administrasi perpindahan SDM periset masih berjalan. Melalui kunjungan kerja Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dan jajarannya melihat langsung dan memastikan kondisi fasilitas dan aset di berbagai lokasi. Setelah sebelumnya meninjau kantor BRIN di Subang dan Bali, Kepala BRIN berikutnya mengunjungi Maros, Sulawesi Selatan (25/5).

Membuka dialog dengan para periset yang hadir, Handoko mengatakan bahwa BRIN telah menjadi lembaga, pusat pemerintahan yang sudah seperti bhineka tunggal Ika. “Kita tidak membedakan siapa dan dari mana (eks lembaga periset) yang bergabung di BRIN,” ujarnya.

Mengenai SDM, sudah berlangsung proses perpindahan ke BRIN tanpa syarat. Untuk aset, harus kita scrutinize. Untuk KKP, saat ini saya belum bisa memutuskan apakah akan diambil atau tidak. “Saya harus cek ke lokasi (kantor BRIN eks kementerian) lainnya dan mendiskusikan hasilnya dengan tim,” terangnya. “Komitmen saya, kalo kita ambil (aset infrastruktur riset) pasti kita akan bangun ulang,” tambahnya. Handoko menegaskan bahwa riset harus kompetitif. Setiap pusat riset BRIN harus menjadi center of excellent bidang riset yang spesifik, bukan menjadi cabang unit penelitian.

Agus Nawan – Peneliti/ Koord operasional penelitian mengantar diskusi dalam forum yang dihadiri puluhan periset dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, eks Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dalam pertemuan tersebut, Agus menyebutkan tiga fokus pembahasan dalam diskusi, yaitu mengenai tugas dan fungsi balai, SDM, dan aset. “Balai ini memiliki tugas dan fungsi yang melekat, yaitu kegiatan riset perikanan budidaya air payau  dan penyuluhan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, 50 periset terdiri dari 38 peneliti dan 12 pelitkayasa telah bergabung ke BRIN. Balai ini memiliki 4 aset sarana penelitian, yaitu 5 laboratorium yang sudah terakreditasi nasional dengan 23 parameter dan pusat administrasi di Maros, Tambak dengan penerapan teknologi intensif hingga super intensif yang dilengkapi lab dan guesthouse, Konsep sarana pembenihan udang windu, kepiting bakau, dan ikan baronang, serta Tambak dengan level teknologi tradisional dan taman eco agriculture.

Handoko mengingatkan tentang modal utama dalam membangun ekosistem riset. Modal utama yang dimaksud adalah SDM. Menurutnya, kompetensi ada di SDM periset. “Untuk fasilitas kebun, kita tidak perlu punya kebun, melainkan kita harus bekerja sama dengan PTPN, ID Food, kebun sawit, dan lainnya,” sebutnya. “Tidak mungkin kita bisa mencapai indikator kerja sendirian, harus berkolaborasi.

Kepala BRIN hadir bersama Inspektur Utama, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Plt, Kepala Biro Manajemen BMN, Plt Kepala Biro KPUK, Kepala Bagian Rumah Tangga, dan pendamping lainnya. Kunjungan dilanjutkan ke Balai Penelitian Tanaman Serealia (eks Kementerian Pertanian). (drs)

#ReformasiBirokrasiBRIN #ProfesionalOptimisProduktif #ASNBerAkhlak

Sebarkan