Purbalingga – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama dengan Anggota Komisi VII DPR RI menyelenggarakan Bimtek Teknologi Peternakan Terpadu di Desa Mrebet Purbalingga. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Kepala Desa se-Purbalingga yang tergabung dalam Paguyuban Wira Praja pada Sabtu, (16/10). Melalui Kedeputian Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi, BRIN berusaha memfasilitasi pemanfaatan teknologi untuk masyarakat termasuk sektor peternakan.

Sektor peternakan merupakan salah satu bidang yang mendukung perekonomian Indonesia, khususnya bagi masyarakat agraris di pedesaan. “BRIN akan mengenalkan teknologi-teknologi aplikatif sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat di daerah, mulai dari pengembangan pakan ternak bersumber bahan-bahan lokal hingga cara memanfaatkan hasil-hasil peternakan agar bernilai ekonomi,” terang Satriyo Krido Wahono, Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) BRIN, mewakili Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada K/L, Masyarakat & UMKM.

Desa memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan. Potensi inilah yang dimiliki oleh desa-desa di Purbalingga. Anggota Komisi VII DPR RI Rofik Hananto dalam paparannya menyatakan, “Ke depan, desa akan menjadi pusat ekonomi bangsa sebab setiap desa memiliki potensinya masing-masing, apabila dikembangkan maka desa tersebut dapat menjadi destinasi yang mampu meningkatkan perekonomian bagi desa.”

Ia mendukung adanya kegiatan bakti inovasi yang dilakukan BRIN. “BRIN adalah mitra DPR RI, melalui forum ini BRIN punya akses terbuka ke masyarakat untuk mengenalkan dan menerapkan hasil-hasil risetnya,” tegas Rofik. Menurutnya, ini menjadi titik temu bagi masyarakat untuk menyampaikan kendala yang dihadapi dalam mengelola hasil pertanian maupun peternakannya, dan BRIN dapat memberikan solusi melalui hasil riset yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Sementara itu, Andi Febrisiantosa, Peneliti Teknologi Hasil Ternak BPTBA BRIN dalam kesempatan ini mengenalkan konsep peternakan terpadu sebagai upaya mengelola input usaha ternak berbasis inovasi teknologi yang menguntungkan secara ekonomi, dapat diterima secara sosial budaya, dan ramah lingkungan. “Konsep terapan sistem pertanian dan peternakan terpadu ini dapat menghasilkan pangan, pakan, pupuk organik, bahan bakar energi dan limbah yang dapat diolah,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, sejauh ini BPTBA BRIN telah berupaya mengembangkan teknologi olahan hasil ternak untuk kebutuhan pangan, teknologi biogas yang menghasilkan pupuk organik, serta teknologi pakan unggas dan ruminansia. Andi juga mengenalkan cara-cara pengawetan hijauan (pakan ternak) dengan sistem silase yaitu melalui fermentasi terkontrol bagi tanaman yang mengandung kadar air tinggi, teknologi pengolahan telur, dan pengemasan daging untuk menunjang usaha terpadu sistem produksi pangan dalam suatu kawasan. “Teknologi tersebut cukup mudah untuk dipraktikkan karena menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapat oleh petani atau peternak,” ujar Doktor lulusan Seoul National University tersebut.

Salah satu peternak yang menjadi peserta bimtek antusias merespon hal ini. “Kami siap dibina oleh BRIN untuk mendapatkan hasil pertanian dan peternakan dengan kualitas yang lebih baik, mulai dari proses tanam hingga pascapanen,” ujar Didik, warga Desa Pakuncen.

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan

Badan Riset dan Inovasi Nasional