Lampung – Humas BRIN, Berkembangnya sebuah negara berbanding lurus dengan perkembangan dalam bidang pendidikan, riset, dan inovasi. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia secara konsisten mendorong pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan generasi muda berdaya saing terutama di bidang pendidikan, riset, dan inovasi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bekerja sama dengan Komisi VII, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) secara berkala menggelar kegiatan pelatihan Bakti Inovasi yang bertujuan untuk mendukung fokus pengembangan pemerintah dalam  bidang sains. Plt. Kepala Organisasi Riset Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, Agus Haryono mengatakan, pada perkembangannya, metode pembinaan dan pengenalan talenta muda  berbasis sains dan inovasi merupakan bentuk kolaborasi di antara semua pihak,  di mana BRIN tidak dapat berdiri sendiri.

”Kerja sama yang erat dengan mitra terkait baik dari Komisi VII DPR RI, instansi pemerintah, swasta, maupun komunitas harus sejalan dengan pengembangan fokus pemerintah untuk membangun talenta di semua aspek baik bidang pendidikan,  riset inovasi, seni budaya, dan olahraga,” ujar Agus dalam kegiatan Bakti Inovasi Pelatihan  Penyusunan Proposal Penelitian untuk Mahasiswa Lampung pada Selasa (14/12) di Lampung. Dirinya juga menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan kesempatan yang sangat baik bagi BRIN untuk berbagi kompetensi melalui peneliti-penelitinya.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Zulkifli Hasan, yang membuka acara tersebut menyampaikan bahwa pengembangan talenta muda dalam bidang pendidikan, sains, dan inovasi merupakan hal penting sebagai investasi masa depan Provinsi Lampung dan Indonesia. Ia menyampaikan, zaman sekarang adalah era milik generasi millenial, sehingga generasi millenial memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi talenta masa depan.

“Pelatihan hari ini penting, karena di era ini, kita tidak akan dapat bersaing dengan negara di belahan dunia lain jika tidak memiliki ketrampilan yang didukung oleh kreatifitas. Ini dimulai dari pendidikan yang mendukung riset, yang kemudian melahirkan inovasi,” ujar Zulkifli Hasan dalam sambutan pembukaannya.

Ia juga menekankan kepada para mahasiswa agar peka melihat permasalahan di sekitar dan secara aktif melakukan penelitian untuk menyederhanakan atau memecahkan masalah-masalah tersebut.

Peneliti Ahli Muda Balai Penelitian Teknologi Mineral BRIN, Yayat Imam Supriyatna selaku narasumber mengatakan bahwa hal terpenting dalam menyusun proposal penelitian, peneliti harus memiliki rasa ingin mengetahui, menguasai ilmu, menguasai masalah, dan mengetahui metode. “Tentu saja yang paling penting lagi adalah kejujuran. Dalam penelitian, peneliti boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Data apa pun yang didapat, meskipun itu buruk harus disampaikan demikian,” kata Yayat saat mengisi pelatihan di Hotel Amalia, Lampung.

Kegiatan pelatihan yang sama dilakukan di waktu bersamaan di Hotel Horison Lampung. Narasumber kegiatan tersebut, peneliti Ahli Madya, Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar Nuklir BRIN, Jan Setiawan mengatakan bahwa untuk meningkatkan keberhasilan penelitian, khususnya untuk perolehan dana penelitian, peneliti sebaiknya memilih tema atau topik yang paling sesuai dengan potensi diri.

“Dalam memperlancar penentuan tema ini, dapat memperhatikan beberapa hal, yaitu menemukan permasalahan yang ingin diselesaikan, memanfaatkan informasi dari judul, abstrak atau executive summary penelitian / tugas akhir / artikel terdahulu, dan memanfaatkan kekurangan/kelemahan, atau hal yang belum dikaji. Informasi ini diambil dari bagian hasil dan pembahasan, kesimpulan atau saran,” rinci Jan.

Kegiatan yang dihadiri oleh total 195 mahasiswa dari berbagai universitas di Lampung. Para mahasiswa peserta Bakti Inovasi: Pelatihan Penyusunan Proposal Penelitian antusias mengikuti pelatihan tersebut dari awal hingga akhir acara. (dr,ks)

Sebarkan