Jakarta, Humas BRIN – Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru menyampaikan fungsi strategis keberadaan Bandar Antariksa Biak tidak hanya untuk peluncuran satelit. Namun jika terwujud, akan memberikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk bisa membangun ekonomi berbasis pengetahuan.

“Teknologi keantariksaan, seperti peluncuran satelit ini merupakan jenis bisnis padat modal dan skill SDM. Sehingga, akan bisa mendorong generasi masa depan Indonesia untuk tidak hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam,” jelas Heru dalam wawancara dengan salah satu media cetak nasional (30/3).

Pihaknya, pada tahun 2019 lalu, sudah menawarkan kepada SpaceX, perusahaan yang dipimpin Elon Musk untuk berinvestasi membangun bandar antariksa dan meluncurkan satelit dari Biak. Namun, mereka menyampaikan sudah punya cukup tempat di Amerika.

Dijelaskan Heru, Elon Musk maupun perusahaannya memang tidak pernah menyampaikan akan berinvestasi di Biak untuk peluncuran satelit. Hanya saja mereka mengembangkan penerbangan antarbenua dengan roket. Sehingga mereka mencari tempat-tempat untuk take-off dan landing di Asia, salah satunya di Indonesia. “Tentunya jika investasi tersebut yang diinginkan, kami akan siap akomodasi,” sebutnya.

Di sisi lain, Heru menjelaskan proses perencanaan Bandar Antariksa Biak sendiri sudah berlangsung sejak lama. Berdasarkan dokumen yang ada sebelumnya di Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (KKPA) LAPAN. Heru menceritakan, tahun 1990 perusahaan Amerika E Prime yang pertama kali datang ke LAPAN untuk membuat kajian bersama tentang potensi peluncuran satelit di Biak. Namun progresnya terhenti. “Saat itu, LAPAN melakukan pembebasan lahan di Biak Utara sebanyak 100 ha. Namun kemudian E Prime tidak melanjutkan gagasannya,” ungkapnya.

Padahal, Biak merupakan salah satu lokasi terbaik di Indonesia untuk meluncurkan satelit. Heru menilai jika keuntungan geografis ini dimanfaatkan, tentunya akan dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat Indonesia.

Sejauh ini, pihaknya secara resmi belum melakukan kajian analisis dampak lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menurutnya, LAPAN pernah merencanakan untuk melakukannya tahun 2020, hanya saja terjadi pandemi, sehingga sumberdaya yang diperlukan tidak tersedia.

Lebih jauh, Heru juga menjelaskan terkait dengan konsep pembangunan bandara antariksa yang akan menonjolkan aspek konservasi. Dijelaskannya, Biak Utara sejauh ini hanya feasible untuk bandar antariksa dengan safety range 400-500 ha. Dengan skenario launch pad di tanah BRIN, jarak terdekat dengan pemukiman yang saat ini ada adalah 2 km. Sehingga akan sangat aman bagi keberadaan pemukiman masyarakat.

Hal ini sama seperti bandar antariksa Uchinoura di Jepang, yang digunakan untuk meluncurkan roket seberat 100 ton. Misalnya launch pad digeser ke sebelah selatan, bisa didapat jarak terdekat dengan penduduk 3 km, yang bisa digunakan untuk meluncurkan roket yang lebih besar seperti di pulau Hainan, Cina.

Salah satu konsep untuk menjaga safety range secara alami itu adalah menjadikan areal pendukung bandara sebagai kebun raya (nature conservation/wildlife sanctuary). Hal tersebut di lakukan di bandar antariksa Florida – Amerika, Shriharikota – India, dan Uchinoura – Jepang.

“Mungkin juga dilakukan di tempat lain, namun hanya ketiga tempat tersebut yang saya pernah lihat. Di Florida misalnya menjadi tempat pelestarian spesies local, yakni buaya dan burung. Juga dengan yang di India. Kalau di Jepang lebih ke botanical garden. Jadi yang dipagar hanya yang ada fasilitas tekniknya saja. Sisanya dibiarkan menjadi hutan alami,” ungkapnya. (jml/ ed: drs)

Sebarkan