Jakarta – Humas BRIN, Wajah-wajah ceria dan bersemangat terpancar dari anak-anak TK Nurul Bahjah, Cipanas. Hari itu, mereka bermain sambil belajar, mengenal jenis-jenis tanaman di Kebun Raya Cibodas (KRC) BRIN.

TK Nurul Bahjah merupakan satu dari sepuluh TK yang mengikuti program belajar BEKAL KAYA, singkatan dari Belajar Konservasi Alam Kebun Raya Indonesia. BEKAL KAYA menjadi sarana pendidikan lingkungan untuk memberikan pemahaman kepada para siswa tentang pentingnya konservasi tumbuhan dan menjaga kelestarian lingkungan.

“BEKAL KAYA bagi siswa TK dan SD tujuannya agar mereka lebih peduli terhadap tumbuhan, seperti pengenalan biji, warna, daun, buah, dan sebagainya, sehingga memicu antusias mereka mengenal lingkungan,” kata Kepala Kantor Kebun Raya Cibodas BRIN, Fitri Kurniawati, Kamis (17/03).

Fitri mengatakan, BEKAL KAYA merupakan rangkaian dari kegiatan dalam rangka memperingati hari ulang tahun KRC BRIN yang pada 11 April nanti genap berusia 170 tahun.

Program BEKAL KAYA, tutur Fitri, telah dilaksanakan selama sepekan sejak 7 Maret lalu, dengan menargetkan 500 siswa Taman Kanak-Kanak, Taman Kanak-Kanak Al Quran (TKQ), dan Raudhotul Athfal (RA).

Sebelum integrasi lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (litbangjirap) ke BRIN, KRC telah melakukan kegiatan serupa melalui kegiatan Pendidikan Pengenalan Lingkungan yang dilaksanakan oleh LIPI. Setelah bertransformasi menjadi BRIN, kegiatan BEKAL KAYA diharapkan dapat meneruskan program pendidikan lingkungan mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.

“Program BEKAL KAYA ini sebenarnya bukan kali pertama kami lakukan di KRC. Sebelum BRIN terbentuk, kami sudah melakukan program pendidikan lingkungan, namun dengan nama Pepeling (Pendidikan Pengenalan Lingkungan),” ungkap Fitri.

“Untuk TK dan SD memang kami kemas dalam tahap mengenalkan tanaman saja. Kalau untuk tingkat SMP hingga mahasiswa kami menyesuaikan dengan kebutuhan kurikulum, misalnya spesifik mempelajari tentang tumbuhan lumut atau bunga bangkai,” terangnya.

Dikatakan Fitri, program BEKAL KAYA kedepan akan terus berlanjut, utamanya menargetkan sekolah-sekolah di sekitar KRC. Namun tidak menutup kemungkinan program ini bisa menyasar siswa-siswa daerah lainnya.

“Sebelumnya kami juga memberikan edukasi di luar daerah KRC, seperti Bandung dan Tangerang. Harapannya, BEKAL KAYA ini bisa diikuti oleh siswa-siswa di daerah lainnya, sambil kami melihat situasi pandemi Covid-19,” tuturnya.

Melengkapi Fitri, Koordinator Komunikasi Publik – Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan BRIN Dyah R. Sugiyanto mengatakan, BEKAL KAYA menjelaskan bahwa nama program yang digagasnya ini sebagai brand baru dari kegiatan pendidikan lingkungan yang sudah dilakukan kebun raya sebelumnya. “Saya berharap dengan nama program baru ini, platform pendidikan lingkungan kebun raya BRIN menjadi salah satu inovasi layanan publik, yang nantinya dapat diterapkan juga di semua kebun raya di Indonesia,” terangnya.

Dyah menjelaskan, Humas BRIN yang bertugas di 4 kawasan kebun raya (Bogor, Cibodas, Purwodadi, dan Bali) berperan sebagai fasilitator komunikasi publik dalam program ini. “Di Kebun Raya Bogor, program serupa ini sebelumnya bernama Wisata Flora, nama Pepeling di Kebun Raya Cibodas, Proling di Kebun Raya Bali, dan di Kebun Raya Purwodadi menggunakan nama Pendidikan Lingkungan. Sekarang program pendidikan lingkungan di kebun raya sudah cukup dengan satu nama yang sama (BEKAL KAYA), tidak lagi berbeda-beda,” paparnya.

Plt. Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan BRIN, Achmad Fathoni menuturkan, BRIN juga melaksanakan fungsi pengembangan KR Daerah dengan melakukan kajian dan menghasilkan rekomendasi.

Dalam kesempatan yang sama, ia menjelaskan bahwa selain KR yang dikelola BRIN. “Ada 41 Kebun Raya Daerah lainnya di Indonesia, dengan rincian 37 KR dikelola oleh Pemerintah Daerah, 3 KR oleh Perguruan Tinggi, dan 1 KR dikelola oleh swasta,” sebutnya.

Koordinator Pendidikan Tingkat TK dan SD Kecamatan Cipanas, Dadan Sudana menyambut baik program BEKAL KAYA, yang menurutnya, menjadi implementasi dari kurikulum Merdeka Belajar.

“Para peserta didik tidak hanya berkutat di dalam ruangan, tapi lebih mengeksplor minat bakat peserta didik melalui kegiatan langsung, sehingga menjadi pengalaman berharga bagi mereka untuk mencintai lingkungan sejak dini,” kata Dadan  (tnt/ ed: drs).

Sebarkan