Bogor – Humas BRIN. “HUT KRB merupakan momentum pertama kita setelah integrasi berbagai unit riset. Ini momentum awal mengintegrasikan berbagai kebun raya di berbagai daerah,” tutur Kepala Badan riset dan inovasi Nasional, Laksana Tri Handoko. Pernyataan itu disampaikannya usai melakukan penanaman pohon secara serentak dan menerima dua rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Rabu (18/5) di Kebun Raya Bogor.

Handoko menyebutkan bahwa sudah ada 45 kebun raya di Indonesia saat ini. “Fungsi kebun raya tidak hanya sebagai riset, konservasi, dan eduwisata saja. Kita mendorong fungsi lainnya termasuk kebun raya sebagai science center, sebagai tempat pemberdayaan ekonomi dan UMKM di daerah masing-masing yang berbasis teknologi,” urainya. “Selain itu KR juga sebagai tempat untuk berkesenian. Ini adalah pendekatan baru karena pengalaman kita dari pandemic dua tahun ini cukup berat bagi para pengelola kebun raya. Ke depan, kita tingkatkan kebun raya sebagai pusat aktivitas secara umum,” tambahnya.

Untuk Kota Bogor, Kepala BRIN berencana mengintegrasikannya dengan kawasan heritage. Pendekatan serupa juga akan dilakukan di berbagai. “Sedangkan untuk kampus, intinya saat ini kita tahu bahwa banyak kampus dan kawasan industri yang memiliki lahan kosong, yang selama ini mungkin tidak terlalu dikelola dan akan dimanfaatkan untuk kebun raya juga. Saat ini sudah mulai berjalan. Area hijau di akwasan industri kita jadikan kebun raya, seperti di area Jababeka,” ungkapnya. “Ini merupakan strategi kita secara nasional untuk meningkatkan cakupan hijau dan meningkatkan kita dengan perdagangan carbon yang saat ini menjadi potensi devisa negara yang cukup besar,” terangnya.  

Pada kesempatan yang sama, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto menitipkan dua hal. Pertama, Ia mewakili warga bogor, menginginkan agar Bogor tetap memiliki KR sebagai pusat konservasi dan preservasi. “Ini adalah jantung kota bogor, paru-paru kota bogor. Saya ingin ini diperkuat dan dipertahankan, tidak berkurang,” tegasnya. “Kedua, Kami ingin di KR ini ada nuansa kesundaan. Ada tradisi sunda yang bisa dilihat dan dirasakan di sini,” sambungnya. Dirinya meminta diberikan ruang pada beberapa titik untuk penampilan budayawan dan seniman, beberapa titik akan disiapkan tradisi kesenian sunda. Ia mengatakan, hal itu sudah disetujui, direspon sangat baik oleh Kepala BRIN .

Sebelumnya, Kepala BRIN bersama Walikota Bogor, Plt. Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, dan sejumlah pejabat mengunjungi Griya Anggrek yang baru saja diresmikan sebagai Wahana Edukasi. Rombongan melihat secara langsung anggrek hybrid terbesar yang termasuk genus Dendrobium. Anggrek tersebut baru didatangkan dari Malang. Spesies tersebut merupakan hasil persilangan dari hybrid Dendrobium Ratri ayu dan Dendrobium strepiceros yang sudah terdaftar di Royal Holticultural Society, London, Inggris. Ciri bunga ini bermahkota, dengan kelopak yang melintir dan bergelombang. Mahkota bunga mirip spatula atau sendok. (drs)

Sebarkan