Jakarta – Humas BRIN, International Atomic Energy Agency (IAEA), lembaga yang bernaung dibawah PBB, telah menggelar kick off meeting virtual dan koordinasi bersama dengan 14 negara terkait edukasi nuklir bagi 10 juta siswa di kawasan Asia dan Pasifik dalam rangka menyiapkan ilmuwan nuklir masa depan, Jumat (1/4).

Edukasi nuklir ini akan dilakukan hingga tahun 2026 melalui kolaborasi antara organisasi riset bersama dengan sektor pendidikan yang melibatkan lebih dari 20 negara dan 3 proyek teknis, dengan Indonesia sebagai salah satu negara referensi yang berpengalaman mengemas nuklir menjadi konten interaktif bagi guru dan siswa.

PMO Kerja Sama Teknis Divisi Asia dan Pasifik IAEA, Marina Mishar menyampaikan, program ini merupakan penggabungan dari skema Educating Nuclear S&T for Secondary School, International Nuclear S&T Academy, dan platfom Asian Network for Education in Nuclear Technology. Program edukasi ini terbuka bagi seluruh negara di kawasan Asia dan Pasifik, dengan tujuan untuk memperkuat kerja sama regional dan memastikan SDM masa depan dapat memanfaatkan teknologi nuklir.

Marina mengaku, tolok ukur dalam menargetkan 10 juta siswa merupakan keberhasilan IAEA dalam mengedukasi 1,6 juta siswa di 11 negara pada tahun 2021, termasuk Indonesia. Tolok ukur ini akan disokong oleh pengembangan platform digital dan peran perguruan tinggi, serta peningkatan jumlah negara yang akan terlibat.

Senada dengan Marina, Designated Project Monitoring Person untuk negara-negara dalam project edukasi IAEA 2018-2021, Adipurwa Muslich mengatakan negara anggota IAEA secara keseluruhan telah mengimplementasikan program ini. “Seluruh Member States telah berhasil merancang dan mengimplementasikan program nasional dalam bentuk pelatihan guru dan outreach yang interaktif sehingga mampu mengedukasi 1,6 juta siswa. Artinya kita telah melampaui target sebesar 160% dari jargon One Million Students in 2021,” ungkap Adipurwa.

Selain terlibat aktif sejak tahun 2015, lanjut Adipurwa, Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menjadi negara referensi IAEA dalam merevisi topik nuklir pada kurikulum nasional, memproduksi bahan ajar interaktif termasuk praktikum yang dapat digunakan di sekolah, dan mengembangkan Virtual Reality dan Augmented Objects untuk optimasi layanan kunjungan edukasi nuklir di kawasan BRIN Serpong bagi siswa selama pandemi.

“Hingga tahun 2021 Indonesia telah memberikan pelatihan topik nuklir bagi 987 guru yang berdampak langsung pada hampir 200.000 siswa, pameran, dan kunjungan yang menjangkau 48.566 siswa. Untuk meningkatkan kompetensi, 13 orang guru Indonesia juga telah mengikuti pelatihan internasional yang diselenggarakan IAEA di Illinois, Manila, Kuala Lumpur, Sydney, Tokyo, dan Yogyakarta,” imbuh Adipurwa.

Edukasi nuklir yang digawangi IAEA ini telah diwujudkan dalam bentuk penyiapan bantuan alat peraga sains untuk sekolah, expert mission bagi negara yang membutuhkan asistensi dalam menyelenggarakan program nasional, scientific visit, fellowship, dan aktifitas interaktif lainnya seperti pameran virtual, hingga kompetisi tingkat internasional.

“Mulai tahun 2022, edukasi nuklir yang didesikasikan bagi siswa sekolah menengah akan mulai diintegrasikan dengan perguruan tinggi, sebagai bentuk sinergitas agar tercipta pipeline dalam melanjutkan tongkat estafet ilmuwan nuklir untuk generasi selanjutnya,” pungkasnya. (am)

Sebarkan