Jakarta – Humas BRIN. Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Mumpuni memandang sangat penting untuk mendekatkan kemampuan intektual para periset atau inovator kepada kalangan grass root yang berada di daerah. Maka dari itu, dia mendukung terbentuknya Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

“Saya sangat mendukung BRIDA ini ada di daerah-daerah, karena kalau bicara riset dan inovasi harus betul-betul dapat dinikmati oleh masyarakat. Apapun bentuknya,” ungkapnya saat menjadi narasumber dalam “Talkshow Pembentukan BRIDA” di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Rabu (20/4).

Menurutnya, BRIDA dapat menjadi hub hasil riset yang selama ini bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Sebaliknya, banyak juga potensi inovasi masyarakat yang belum terangkat di daerah. Sebagai contoh, dia menemukan beberapa kegiatan masyarakat di Jawa Tengah yang mampu memberikan nilai tambah. “Sayang sekali hal-hal seperti ini tidak ter-connect dengan baik oleh pemprov, begitu juga sebaliknya,” ucapnya.

Perempuan yang dikenal sebagai pemberdaya listrik di lebih dari 60 lokasi terpencil di Indonesia itu, juga menemukan banyak sekali bibit-bibit lokal yang baik. Dengan hadirnya BRIDA, lanjutnya, dia berharap dapat menjaga dan menghormati keunikan dan lokalitas di daerah masing masing.

“Ini yang saya sebut sebagai pembangunan berbasis masyarakat. Harapan saya BRIDA nanti mampu menghidupkan semangat di grass root untuk mampu menjadi motor penggerak,” ungkapnya.

Di sisi lain, Tri juga menekankan mengenai pentingnya human capital sebagai engine of development. Sebab, sehebat apapun BRIDA dibentuk tapi kalau human capital atau manusianya tidak dibangun, semua akan sia-sia. Sehingga, di BRIDA perlu memiliki SDM yang tidak putus asa, yang akan terus melakukan hal-hal yang di luar mainstream.

“Saya lihat banyak sekali kehebatan yang ada di daerah, kalau dikelola dengan kebebasan intelektual dan juga tidak terlalu streak pada aturan yang membelenggu,” ucapnya.

Tri juga menekankan pentingnya peningkatan empati pada generasi muda. Dia berharap agar BRIDA, nanti dikelola oleh SDM yang secara logika berjalan, tapi juga memiliki empatik yang baik.

Dijelaskan Tri, ada lima empati yang mesti dimiliki bangsa indonesia. Pertama empati berupa simpati dan penghiburan. Kedua, empati berupa kebiasaan prososial. Ketiga, empati kesetaraan dan timbal balik. Keempat empati untuk melakukan pemberdayaan yang lemah. Dan, kelima, empati untuk demokratisasi seluruh aspek kehidupan. “Itu yang negara harus perjuangkan, membuka ruang akses kepada siapapun terhadap seluruh resources,” pungkasnya. (jml)

Sebarkan