SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 205/SP/HM/BKPUK/XII/2021

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2021 tercatat lebih dari 2.500 bencana terjadi di Indonesia. Mulai dari bencana geologi, hidrometeorologi, antropogenik (kebakaran hutan dan lahan) dan bencana non-alam (pandemi) bertubi-tubi melanda Indonesia. Untuk mendapatkan pemahaman secara komprehensif tentang potensi, proses fisis, serta upaya mitigasi dan adaptasi bencana yang dapat dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Majelis Profesor Riset akan menyelenggarakan webinar Prof Talk, bertema “Refleksi Akhir Tahun: Membaca Secara Ilmiah Kebencanaan 2021 di Indonesia,” pada Senin, 27 Desember 2021, dengan menghadirkan sejumlah pakar.

Jakarta, 27 Desember 2021 – Beragam bencana sering terjadi di Indonesia. Banjir dan tanah longsor umumnya hadir pada musim penghujan. Angin kencang dan puting beliung juga sering mengancam. Bahkan terkadang siklon tropis pun singgah di Indonesia. Gempa, tsunami, dan erupsi gunung berapi merupakan bencana yang tak terelakan di wilayah cincin api Indonesia. BRIN sebagai lembaga riset dan inovasi mempunyai kapasitas untuk terus meningkatkan pemahaman fisis sumber dan proses terjadinya bencana tersebut. Tentunya, diharapkan hasil riset juga bisa dimanfaatkan untuk mitigasi dan adaptasi menghadapi ancaman bencana.

Profesor Riset bidang Geologi Gempa dan Kebencanaan pada Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian – BRIN, Danny Hilman Natawidjaja mengungkapkan bahwa wilayah Indonesia yang berada di Cincin-Api Pacific dan pertemuan tiga Lempeng benua, gempa bumi dan letusan gunung api yang tidak bisa dihindari. “Kadang gempa juga disertai tsunami. Kondisi itu harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni, serta sikap bijak, dan tindakan mitigasi yang cerdas,” tegasnya.

Menyambung pernyataan Danny, Profesor Riset bidang Teknologi dan Penginderaan Jauh Geomatika pada Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa – BRIN, Muhammad Rokhis Khomarudin mengatakan, citra satelit penginderaan jauh dapat memberikan gambaran kondisi bencana yang terjadi di Indonesia. “Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian,” ujarnya.

Pertama, Rokhis menyebutkan, kejadian kebakaran lahan dan hutan di Indonesia terjadi pada musim kemarau dan semakin meningkat jika ada fenomena global El Nino. Kedua, lanjutnya, bencana banjir dan longsor terutama disebabkan cuaca ekstrim. “Namun seringkali perubahan tutupan lahan bisa jadi pemicu bencana berkurangnya daya dukung lingkungan. Untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi diperlukan pemantauan berjenjang skala waktu musiman, bulanan, mingguan, harian, hingga realtime,” tambahnya. Hal ketiga, dirinya menyebutkan, penggunaan data satelit penginderaan jauh dapat menghitung secara cepat tingkat kerusakan akibat bencana untuk tindakan evaluasi dan rehabilitasi wilayah.

Webinar ini sebagai upaya membangkitkan kesadaran bersama akan pentingnya pemahaman kebencanaan di Indonesia. Di antaranya bencana geologi (gempa, tsunami, erupsi gunung berapi) dan hidrometeorologi (banjir, longsor, angin kencang, puting beliung, siklon tropis) serta bencana antropogenik (kebakaran hutan dan lahan) dan bencana non-alam (pandemi).

Tak hanya itu, proses fisis yang memicu berbagai bencana serta pemantauan sebelum, saat, dan sesudah bencana dari satelit untuk upaya mitigasi, adaptasi, evakuasi, dan rehabilitasi akan dibahas secara komprehensif. Sebagai informasi, webinar juga akan menghadirkan pembahas Edvin Aldrian, Profesor Riset bidang Meteorologi dan Klimatologi pada Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi – BRIN.

Keterangan Lebih Lanjut:

Danny Hilman Natawidjaja (Peneliti Ahli Utama pada OR Ilmu Pengetahuan Kebumian BRIN)

Muhammad Rokhis Khomarudin (Peneliti Ahli Utama pada OR Penerbangan dan Antariksa BRIN)

Suzan Lesmana (Pranata Humas BRIN)

Sebarkan