Magelang, Humas BRIN. Periset yang berasal dari Kementerian Kesehatan telah resmi bergabung ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tidak terkecuali periset dari Balai Litbang Kesehatan Magelang serta Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit di Salatiga. BRIN memanfaatkan peluang ini sebagai jembatan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). “Kita harus bisa menjadi keluarga yang mandiri tetapi semakin kuat untuk mendukung sistem yang cukup besar ini, di Kemenkes dan BRIN,” jelas Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, dalam kunjungannya ke Balai Litbang Kesehatan Magelang pada Kamis (24/3).

Menurutnya, BRIN akan memperbanyak pusat kolaborasi riset. “Skema pusat kolaborasi riset itu memang harus ada host-nya, bisa dari rumah sakit maupun industri,” paparnya. Handoko optimis bahwa dengan skema pusat kolaborasi tersebut tidak perlu menjadikan BRIN tumbuh besar dan gemuk, tetapi tetap mempunyai flexibilitas tinggi dan mampu mengadopsi riset-riset terkini.

“Kita perlu memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa harus menciptakan sumber daya baru lagi,” tambahnya. Ia berharap skema ini dapat menjawab tantangan riset spesifik yang muncul saat ini.

Selain itu, Handoko membebaskan periset untuk dapat menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dalam bidang riset kesehatan. “Afiliasinya bisa double, bisa dari kampus maupun rumah sakit yang akan menjadi salah satu prioritas BRIN juga, sebab hal ini justru dapat memperkuat riset-riset kesehatan yang berbasis pada layanan,” ujarnya.

Dalam kunjungannya di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga Jumat (25/3) lalu Kepala Organisasi Riset kesehatan BRIN Indi Dharmayanti juga menekankan pentingnya kolaborasi riset. “Periset yang ada di sini eksisting ada sembilan orang, tetapi ada periset lain yang juga mempunyai ketertarikan di bidang yang sama. Ada sekitar 30 orang dan akan bekerja bersama,” paparnya.

Meskipun demikian, Indi tetap memberi pemahaman baru kepada para periset bidang kesehatan bahwa riset tidak dapat dilakukan sendiri dari hulu ke hilir. “BRIN sudah membangun fasilitas untuk mendukung kegiatan riset yang dapat dimanfaatkan bersama-sama oleh para periset,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama Kepala BRIN juga memberi tantangan bagi pariset untuk dapat menunjukkan outputnya dalam publikasi dan kinerja. Salam kesempatan tersebut, Doni, salah satu periset yang sudah bergabung di Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi menyampaikan rencana risetnya ke depan bersama dengan Kelompok Riset Kesehatan Rural dan Marginal. “Keterbatasan pemerintah bukanlah suatu hal yang menjadikan masyarakat hidup tertinggal, kami justru ingin mendekatkan teknologi kesehatan kepada daerah yang tertinggal. Karenanya, kami ingin mengurangi gap diskualitas kesehatan,” ungkap Doni.

Sebagai informasi, mulai April 2022 nanti periset sudah dapat memanfaatkan fasilitas BRIN yang ada di Magelang dan Salatiga ini sebagai co-working space. (mn, smr/ ed: drs)

Sebarkan