Jakarta – Penggunaan terapi sel punca dalam dunia kesehatan di Indonesia masih sangat minim. Begitu juga pengembangan dan risetnya yang masih belum banyak dilakukan. Plt Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN, Iman Hidayat menyebutkan sel punca sudah dibicarakan sejak 10 tahun yang lalu sebagai pengobatan masa depan. Sampai tahun 2018, terdapat 5400 paten mengenai riset sel punca di dunia. Salah satu terbaik dalam pengembangan sel punca adalah Kyoto University.

“Kita dalam perkembangan penelitian sel punca masih belum terlambat. Masih terbuka peluang untuk memperkuat daya saing dalam penelitan sel punca. Maka peran BRIN saat ini adalah mengakselerasi riset dan inovasi sel punca di Indonesia, yaitu dengan menciptakan ekosistem riset yang membuat seluruh steakholder bisa tumbuh. Jika ekosistem riset ini terbangun dan bangkit dan seluruh steakholder terfasilitasi ini diharapkan akan muncul inovasi-inovasi,” ungkap Iman dalam Collaborative Webinar bertema Harmonized Intelligent Integration of Stem Cell Research: Development form Basic to Clinical Application, Rabu (16/2).

Pria lulusan dari Chiang Mai University itu menyebutkan ada beberapa tantangan yang menghambat pengembangan sel punca. Diantaranya, terapi biaya pengobatan sel punca di Indonesia saat ini masih sangat mahal karena bahan baku lebih dari 95 persen impor. Sehingga masih sangat jarang digunakan oleh masyarakat.

Selain itu, kesiapan rumah sakit dan klinik untuk melakukan terapi sel punca masih terbatas. Hal ini karena rumah sakit/klinik harus memiliki fasilitas instalasi sel punca, bank sel punca, laboratorium riset terpadu, hingga tenaga medis yang memiliki keahlian di bidang sel punca.

Di sisi lain, biaya riset sel punca juga sangat mahal. Riset yang ada di berbagai institusi juga belum banyak mengarah ke arah riset terapan. Sehingga perlu percepatan hasil riset melalui kolaborasi antara peneliti di berbagai institusi.

Dikatakan Iman peran BRIN saat ini dalam mengakselerasi riset dan inovasi sel punca di Indonesia. Maka dari itu BRIN berupaya melakukan program pengembangan human resources dan capacity building, penambahan infrastruktur riset, pendanaan riset, program riset.

Selain itu, BRIN juga telah membentuk OR Kesehatan dengan 7 pusat riset di bawahnya, agar bisa memfasilitasi periset dalam bidang kesehatan. BRIN sudah menyiapkan pendanaan Rumah Program obat dan vaksin sebesar Rp20 Milyar, Pengobatan Presisi dan Regeneratif Rp20 M, dan penyakit Infeksi Rp10 Milyar. BRIN juga memiliki pendanaan untuk uji klinis dan pra klinis yang dialokasikan sebesar Rp350 Milyar. “BRIN memprovide dana, infrastruktur, untuk bisa menumbuhkan capacity building di Indonesia,” ucapnya.

Iman menyebut peranan asosiasi profesi seperti Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) sangat strategis dalam pengembangan riset dan inovasi sel punca. Maka dari itu, Iman mendorong ASPI bisa bekerjasama dengan BRIN atau Rumah Sakit, untuk bisa membuat pusat kolaborasi riset sel punca. Dari sana, selain dapat mengakses skema fasilitasi pendanaan, juga dapat merekrut mahasiswa sebagai asisten riset yang bertujuan untuk bisa membangun riset dan SDM yang kompeten.

Ketua Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) Rahyussalim mengatakan pihaknya menyambut gembira terhadap kerjasama melalui Pusat Kolaborasi Riset untuk bisa mewujudkan penguatan dan harmonisasi riset sel punca di Indonesia. Diakuinya posisi SDM periset baik pada tahap basic dan klinis yang serius pada pengembangan dan penggunaan stem cell masih sedikit. Namun dia optimis di regional ASEAN, Indonesia masih bisa menyamai Malaysia.

Penelitian stem sell terdiri dari riset basic/pre klinis (in vitro & in vivo), dan riset klinis dimana ada fase 1 untuk dosis & prosedur, fase 2 untuk keamanan & efektivitas dan fase 3 komunitas (hilirisasi produk/post market). Selama ini riset sel punca di Indonesia masih berkutat pada riset sel punca masenkimal. “Kita di ASPI ada pada fase 1, ini yang kami kerjakan,” katanya.

Dikatakannya, pengembangan riset sel punca di dunia, ASPI mengacu dan mengadopsi kepada organisasi International Society for Stem Cell Research (ISSCR) yang sudah mempunyai guide line stem cell. Menurutnya di dunia sudah ada 6000 uji klinis stem cell. Sementara angka riset stem cell di Indonesia masih kecil. Maka langkah ASPI memperkuat penelitian stem cell dan mengharmonisasinya.

Untuk dapat memperkuat riset sel punca di Indonesia, pihaknya menyebut perlu upaya memperbanyak pelaku riset stem cell baik perorangan maupun kelompok baik dari riset basic maupun klinis. Selain juga perlu dukungan pemerintah berupa regulasi yang mempermudah riset dan pelayanan stem cell. “Yang lebih penting perlu kolaborasi dan sinergi dari para pihak yang terlibat,” sebutnya.

Dalam webinar itu juga hadir sebagai pembicara dalam webinar sesi 1 Deputi Bidang Pengawasan Obat Narkotika Psikotropika Prekursor dan Zat Adiktif BPOM RI, Rr Maya Gustina Andarini dan Kasubdit RS Pendidikan Kemenkes dr Else Mutiara Sihotang serta sejumlah narasumber lainnya.

“Saya lihat BRIN, Kemenkes, dan Perguruan Tinggi dan lembaga lainnya seperti BPOM yang saat ini hadir bisa mengambil langkah yang kita harapkan bisa melakukan harmonisiasi penguatan riset sel punca. Mudah mudahan 2022, bisa dimanfaatkan menjadi titik lompatan akselerasi pengembangan setem cell, baik di hulu dan hilir,” harap Rahyussalim. (jml)

Sebarkan