Purbalingga – Humas BRIN, Anggota Komisi VII DPR RI, H. Rofik Hananto berharap kepada para periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menciptakan inovasi guna meningkatkan nilai jual produk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini disampaikan H. Rofik pada Bimbingan Teknis Pengemasan Produk UMKM di Ballroom Hotel Braling, Kabupaten Purbalingga, Jumat (10/06).

H. Rofik mengungkapkan, salah satu faktor yang dapat meningkatkan nilai jual produk UMKM adalah packaging atau kemasan. Dengan kemajuan teknologi pengemasan saat ini, kemasan tidak hanya berfungsi membuat produk bertahan lebih lama, namun juga mampu membuat tampilan lebih menarik.

“Ini yang saya harapkan dapat diajarkan oleh para periset dari BRIN kepada para pelaku UMKM di Purbalingga, sehingga mampu meningkatkan nilai jual produk. Saya melihat banyak produk berkualitas yang bapak-ibu bawa ke bimbingan teknis ini. Dengan pengemasan yang modern dan menarik, saya yakin apabila dijual di Jakarta dan marketplace, harganya bisa naik tiga hingga lima kali lipat,” ungkapnya H. Rofik.

Direktur  Pemanfaatan Riset dan Inovasi Pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN Dadan Nugraha mengatakan, BRIN siap mendukung penuh kegiatan peningkatan ekonomi di masyarakat melalui hasil riset dan inovasi teknologi.

BRIN ujar Dadan membuka lebar pintu kerjasama dengan berbagai pihak, tidak hanya antar lembaga atau perguruan tinggi, bahkan masyarakat luas pun dapat menggunakan fasilitas riset yang ada di BRIN.

“BRIN juga baru saja menyelesaikan Fasilitas Riset Pangan di Gunung Kidul, Yogyakarta. Yang diresmikan langsung oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin pada April lalu. Lab ini akan ditujukan sebagai rujukan riset halal di Indonesia. Tentunya, fasilitas ini juga bisa digunakan oleh pelaku UMKM di Purbalingga untuk mengetahui apakah ada indikasi kandungan bahan yang tidak halal dalam produknya,” terang Dadan.

Dadan mengatakan BRIN saat ini memiliki program Rumah Kemasan yang bisa bekerjasama baik dengan pemerintah daerah maupun swasta. Rumah ini memiliki konsep sebagai sentra pengemasan yang mampu mengakomodir kebutuhan kemasan UMKM pada daerah tertentu.

“Konsep sentra pengemasan yang digunakan bersama akan lebih efisien dari segi modal dan perawatan dibandingkan setiap UMKM harus memiliki teknologi pengemasannya sendiri-sendiri,” jelasnya.

Dirinya berharap, BRIN dapat membangun Rumah Kemasan di kawasan Purbalingga, setelah sebelumnya telah membangun di daerah Yogyakarta sebagai program percontohan.

Sebagai informasi bimbingan teknis ini dihadiri oleh 100 pelaku usaha makanan dan minuman di Kabupaten Purbalingga. Peserta diberikan materi pelatihan dan konsultasi kemasan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN Dr. Asep Nurhikmat dan tim.

Dr. Asep pun membawa sebagian produk UMKM Purbalingga untuk dikemas ulang sehingga bisa memperpanjang masa kadaluarsa, bahkan dirinya mengklaim dengan teknologi sterilisasi dan pengalengan, suatu produk bisa bertahan hingga 2 tahun tanpa bahan pengawet.

“Produk UMKM Purbalingga ini banyak yang bagus dan enak, tugas kita bersama untuk meningkatkan nilai jualnya melalui tampilan kemasan yang lebih modern dan memperpanjang masa kadaluarsanya, sehingga bisa dikirim antar pulau, bahkan masuk pasar ekspor,” pungkasnya. (sas/ed:pur)

Sebarkan