Jakarta – Humas BRIN. Kebutuhan manusia akan ikan sebagai salah satu sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat sangat besar. Untuk itu, budidaya ikan sangat potensial sebagai lapangan kerja yang menjanjikan. Namun harga pakan ikan di pasaran terus meningkat dan tidak diimbangi dengan harga jual ikan itu sendiri. Hal tersebut kini menjadi keprihatinan bersama para peternak ikan di Indonesia. Peneliti Pusat Riset Perikanan BRIN Mas Tri Djoko Sunarno menyampaikan hal ini dalam salah satu rangkaian kegiatan “Berbakti untuk Negeri BRIN Tahun 2022” Sabtu (4/6) di Tangerang. Kegiatan hasil kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Komisi VII DPR RI ini diisi dengan pelatihan pembuatan pakan ikan lele.

Sebagai peternak ikan, sejumlah peserta dari berbagai wilayah di kota Tangerang menyampaikan kendala tentang mahalnya pakan ternak ikan yang dijual secara pabrikan. Untuk itu kegiatan pelatihan ini ditujukan guna membekali para pelaku ternak ikan agar bisa menyediakan pakan ternaknya secara mandiri, sehingga ekonomis dan efisien dengan bahan baku lokal.

Anggota Komisi VII DPR RI Zulfikar Hamonangan berharap kepada BRIN, agar komunitas peternak yang ia bina bisa mewujudkan obsesinya turut menumbuhkembangkan ekonomi rakyat, salah satunya menjadi pelaku usaha ternak, khususnya ikan lele.

 “Tidak ada manusia yang sukses jika hanya jadi pekerja, ia harus menjadi wirausaha. Maka saya berharap sekali agar pelatihan semacam ini terus berlanjut,” jelasnya. Ia menginginkan setelah kegiatan usai pihaknya bisa bekerja sama dengan BRIN sebagai mitra.

Namun jika membuat pakan ternak secara mandiri, para peternak cukup kesulitan akan modal yang tidak sedikit. “Membuat pakan ternak sendiri membutuhkan alat yang tidak murah dibeli. Untuk itu kami ingin belajar di sini, apakah ada solusi untuk mengatasinya,” ujar salah satu peserta.

Dalam paparannya, Djoko menyampaikan budidaya ikan perlu memperhatikan benih unggul, faktor lingkungan dan medianya, serta pakan yang bermutu dengan nilai gizi tinggi dan ramah lingkungan. Ikan juga membutuhkan pencegahan dari berbagai penyakit dengan vaksin bahkan pengobatan.

Setiap jenis ternak memerlukan gizi dengan komposisi asupan makanan dan vitamin yang berbeda -beda tentunya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Djoko memberikan trik kepada peserta dengan membuatkan formulasi pencampuran berbagai bahan baku. Bahan baku ini diperoleh secara lokal dengan maksud harga lebih murah. Ia juga berbagi tips di dalam membuat pakan lele dengan mengatur keseimbangan nutrisi dari bahan-bahan yang digunakan.

Dengan membuat pakan secara mandiri, ia berharap hal tersebut memiliki laju pertumbuhan yang sama dengan pakan komersial dan akan mempercepat waktu pemeliharaan. Djoko kali ini melatih pembuatan pakan mulai dari pemilihan bahan, penepungan, pengadukan, sampai dengan pencetakan. “Kuncinya adalah dengan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ikan tersebut,” tegasnya.

Untuk mendapatkan bahan yang mengandung nutrient (zat gizi), setiap peserta diberikan wawasan pemilihan bahan utama dan sekunder. Berkaitan dengan itu, Djoko menceritakan keberhasilan beberapa para pelaku ternak yang membuat pakan mandiri, seperti Bandung Barat, Cirebon, Magelang, Sleman, dan sebagainya.

Sebagian besar peserta sangat antusias dan tertarik menyimak penjelasan Djoko. Apalagi di dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya menyimak pengetahuan tentang pakan ternak secara teori semata. Mereka juga dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk praktik membuat pakan lele.

Perwakilan pimpinan BRIN Yusuar Harun membuka kesempatan kolaborasi seluas-luasnya tidak hanya pemanfaatan hasil riset di bidang perikanan, namun juga seluruh fokus bidang yang ada di BRIN. “Masih banyak kegiatan di BRIN ini yang sangat potensial untuk dimanfaatkan untuk membantu masyarakat meningkatkan kemampuan SDM,” ucapnya. Pada intinya, BRIN terbuka terhadap kesempatan kerja sama, termasuk mengembangkan wirausaha bagi para pelaku UMKM maupun di sektor usaha besar di Indonesia. (and/ ed: aps)

Sebarkan