Serpong, Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana mewujudkan riset yang didukung oleh swasta. “Porsi anggaran riset dan pengembangan swasta diharapkan lebih besar dibandingkan dengan dukungan pemerintah,” tutur Kepala BRIN Laksana Tri Handoko. Ia juga pernah menyatakan bahwa pada suatu saat peran riset swasta di Indonesia harus mencapai 80 persen sesuai standar UNESCO.

Tantangan ke depan, Handoko menjelaskan, industri swasta akan memimpin peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara, ia menambahkan, lembaga pemerintah seperti BRIN, akan berperan sebagai fasilitator, konsolidator, serta penanggung jawab penelitian dan pengembangan.

Menjawab tantangan tersebut, akhir Januari 2022, Pusat Riset Fisika – BRIN bekerja sama dengan dengan PT G’NomaC (Graphene Nanomaterials Consulting). Kolaborasi tersebut telah sukses mengembangkan oksida graphene berbasis biomassa serat kelapa.

PT G’NomaC merupakan perusahaan berbasis riset yang sangat fokus terhadap pengembangan material maju, khususnya karbon baru seperti graphene. G’nomaC berupaya mengedepankan teknologi ramah lingkungan dengan muatan teknologi dalam negeri yang relatif tinggi.

Peneliti Pusat Riset Fisika, Deni Shidqi Khaerudini mengungkapkan, graphene merupakan material yang tengah dikembangkan untuk membuat bahan baku baterai, selain lithium yang sudah umum digunakan saat ini. “Melalui riset hulu terkait pengembangan graphene berbasis biomassa, kami harapkan dapat mendukung sisi hulu teknologi baterai masa depan, yang baru mulai muncul di pasar secara komersial,” ungkap Deni.

Menurutnya, pengembangan riset ini menggunakan proses baru dengan katalis yang murah dan telah memenuhi standar kualitas produk graphene komersial. “Sehingga secara ekonomis dapat bersaing dengan penawaran yang telah ada di pasar,” ujarnya.

“Proses baru tersebut saat ini dalam proses paten dan siap untuk dikembangkan lebih lanjut dalam skala industri yang lebih besar, bahkan hasil tersebut telah diminati pihak luar negeri yang akan menampungnya dan memasarkannya,” jelas peneliti madya ini.

Menindaklanjuti keberhasilan kerja sama penelitian dan pengembangan karbon baru jenis graphene tersebut, Deni dan tim akan melakukan pengembangan dan hilirisasi sumber karbon lainnya berbasis batu bara. “Kami melakukan upaya hilirisasi batu bara untuk aplikasi material maju. Hal ini sebagai upaya proses sintesis karbon baru dengan metode yang sederhana, ramah lingkungan, berbiaya rendah, dan dapat diproduksi pada skala usaha mikro,” pungkasnya. (hrd, adl/ ed: drs)

Sebarkan