Bandung – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Pusat Riset Elektronika dan Telekomunikasi menyerahkan hasil penelitian berupa Ventilator CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) – BiPAP (Bilevel Positive Airway Pressure) kepada pihak R.S. Hasan Sadikin Bandung pada Jum’at (31/12/2021) di RSUP Dr Hasan Sadikin, Bandung, bersamaan dengan penandatanganan MoU antara BRIN dan RSUP Hasan Sadikin Bandung. Kerjasama ini bertujuan untuk menguji secara klinis prototipe alat ventilator CPAP-BiPAP langsung kepada pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit. 

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik, Agus Haryono berharap, penyerahan alat ventilator CPAP-BiPAP ini dapat berkontribusi dalam penyelesaian pandemi Covid 19. Upaya ini merupakan salah satu langkah yang diambil oleh kedua belah pihak, mengingat situasi pandemi Covid-19 belum berakhir. Kondisi pandemi COVID-19 ini, menyebabkan semua negara membuat fasilitas kesehatan kekurangan alat bantu pernafasan. Ventilator, sebagai salah satu alat kesehatan yang sangat diperlukan dalam penanggulangan pasien Covid-19. 

“Semoga kegiatan ini mendorong kolaborasi antara periset dengan klinisi di rumah sakit. Selanjutnya, akan dilakukan uji klinis dengan 5 (lima) prototipe yang akan diserahkan nanti kepada 10 pasien. Harapannya nanti setelah uji klinis bisa mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan selanjutnya untuk dikomersialkan,” jelas Agus.

Direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin, Nina Susana Dewi, menyampaikan bahwa Rumah Sakit Hasan Sadikin adalah rumah sakit pendidikan utama jadi tentu berharap akan banyak riset-riset yang bisa dikerjasamakan dengan BRIN. “Di satu sisi BRIN adalah dari sisi teknologinya, di kami adalah dari sisi uji klinisnya, karena apapun alat kalau tidak uji klinis tentu tidak tidak teruji untuk pasien. Kami sangat membuka hal ini untuk bisa bekerja sama dengan BRIN. Mudah-mudahan nanti ke depan akan lebih banyak lagi penelitian-penelitian atau riset-riset uji klinis yang bisa dilakukan antara BRIN dan Rumah Sakit Hasan Sadikin,” terang Nina.

Peneliti Pusat Riset Elektronika dan Telekomunikasi BRIN, Eko Joni Prasetyo,  menjelaskan SIVENESIA (Smart Innovative Ventilator Indonesia) adalah ventilator dengan dua mode operasi, CPAP dan BiPAP. Mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). “SIVENESIA merupakan ventilator yang akan memberikan tekanan udara positif yang konstan dan terus menerus kepada pasien dengan tujuan supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka. Sedangkan mode BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure) merupakan alat yang dapat menghasilkan dua level tekanan udara positif yang berbeda, yaitu pada saat inspirasi (menarik napas) dan pada saat ekspirasi (menghembuskan napas), sehingga lebih aman untuk digunakan pada pasien kecuali pada kasus-kasus tertentu,” jelas Eko.

Menurut Eko, mesin CPAP bekerja dengan memberikan aliran udara bertekanan tunggal melalui selang ke hidung dan atau melalui mulut sehingga saluran pernapasan tetap terbuka. Karena mode ventilator CPAP ini menggunakan aliran udara bertekanan tunggal, sehingga pasien harus menggunakan lebih banyak kekuatan untuk menghembuskan napas (pada saat expirasi), hal ini akan menyebabkan kelelahan bagi pasien-pasien tertentu terutama yang memiliki penyakit neuromuscular (kelompok gangguan ekstensif yang ditandai dengan adanya perubahan motorik yang dihasilkan oleh cedera atau gangguan syaraf). “Sehingga penggunaan ventilator mode ini harus dengan saran, petunjuk dan pantauan dokter,” pungkasnya. (NU/ KG)

Sebarkan