Jakarta – Humas BRIN, Kehadiran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi di Indonesia semakin maksimal, khususnya di bidang keantariksaan. Hal ini disampaikan Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko pada pertemuannya dengan perwakilan dari United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), Keran Wang, di Gedung BJ. Habibie, Jakarta, Selasa (26/04).

Pertemuan ini membahas isu-isu terkait persiapan kerja sama antara BRIN dengan UNESCAP di masa yang akan datang. Indonesia telah lama bekerja sama dengan UNESCAP melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang saat ini telah menjadi Indonesian Space Agency (INASA) sebagai bagian dari BRIN.

Selain itu, pertemuan ini merupakan rangkaian kunjungan UNESCAP dalam rangka menjalin kerjasama terkait pemanfaatan teknologi keantariksaan terutama penginderaan jauh untuk pembangunan berkelanjutan dengan beberapa institusi dan pemerintah daerah di Indonesia. Rencananya setelah bertemu dengan Kepala BRIN, UNESCAP akan melakukan pertemuan lanjutan dengan Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Bandung, ITB,  Unhas, pemerintah daerah Bandung dan pemerintah daerah Makassar mengenai pemanfaatan teknologi keantariksaan di Bandung dan Makassar

Topik lain yang dibahas pada pertemuan ini adalah persiapan The 4th Ministerial Conference on Space Applications for Sustainable Development in Asia and the Pacific. Konferensi ini merupakan wujud diakuinya ilmu, inovasi dan penerapan teknologi keantariksaan akan memiliki peran penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Konferensi ini juga diagendakan dengan pandangan universal untuk meningkatkan kerjasama regional dan mempertimbangkan langkah konkrit untuk memperluas akses dan pemanfaatan antariksa untuk pembangunan berkelanjutan.

Handoko menyampaikan bahwa BRIN sangat mengapresiasi dan menyambut inisiatif tersebut. BRIN terus berusaha meningkatkan pemanfaatan data keantariksaan meski baru mendekati umur satu tahun. 

“BRIN sudah memiliki program serupa hasil kerja sama dengan pemerintah daerah. Program ini menggabungkan data wawancara dengan keluarga di daerah yang dipantau terkait kondisi sosio ekonomi yang lalu dikombinasikan dengan data penginderaan jauh. Harapannya ke depan program ini juga dapat saling terintegrasi dengan inisiatif UNESCAP untuk memaksimalkan manfaatnya bagi masyarakat”, tambah Handoko.

Melalui pertemuan ini pula, Handoko mengajak pihak UNESCAP untuk bersama-sama mensukseskan Space Economic Leader Meeting dan The 4th Ministerial Conference on Space Applications for Sustainable Development in Asia and the Pacific yang rencananya akan diadakan pada bulan Oktober 2022.

Terkait pemanfaatan data keantariksaan, Keran Wang mencontohkan salah satu penerapan teknologi keantariksaan dengan melakukan simulasi untuk meningkatkan antisipasi banjir yang dilakukan oleh pemerintah Bangkok. UNESCAP melakukan simulasi yang diambil dari pemodelan hasil data penginderaan jauh dengan data air yang dilengkapi dengan data sosio kultural banjir masa lalu hasil dari wawancara dengan masyarakat setempat. 

Hasil simulasi ini menurut Keran Wang, kemudian digunakan oleh pemerintah setempat untuk menyiapkan dan meningkatkan penanganan banjir di masa depan. “Metode ini merupakan salah satu penerapan yang dapat diduplikasi oleh Indonesia khususnya dalam penanganan bencana,” ujar Wang.

Lebih lanjut Wang menjelaskan alasan UNESCAP membuat banyak inisiatif keantariksaan di asia pasifik karena melihat potensinya saat ini yang menguat di berbagai bidang, seperti teknologi dan ekonomi.  Inisiatif ini juga didasari karena adanya potensi besar dari data keantariksaan untuk masa depan bumi dan manusia. 

Direktur Eksekutif INASA, Erna Sri Adiningsih mengatakan, adanya BRIN, sumber daya yang dimiliki menjadi lebih besar, tidak hanya terkait pusat riset penginderaan jauh, tetapi juga berpotensi untuk melibatkan organisasi dan pusat riset lainnya, seperti organisasi riset kebumian dan juga pusat riset terkait sosial ekonomi.  (AKB/ed:pur)

Sebarkan