Cibinong – Humas BRIN. Penelitian tentang food loss sangat penting dilakukan dalam rangka peningkatan produksi pangan, pertumbuhan perekonomian pertanian serta ketersediaan pangan penduduk Indonesia. Kondisi ini menjadi sebuah tantangan dan peluang menuju pertanian berkelanjutan.

Saat ini banyak pendekatan yang dapat digunakan untuk meminimalisasi food loss. Salah satunya dengan penerapan teknologi baik dalam proses pengolahan, penyimpanan, infrastruktur, pengemasan, atau pemasaran. “Melalui teknologi yang tepat berbagai keuntungan dapat diperoleh, selain menjadi lebih efektif dan efisien, prosesnya lebih menguntungkan secara ekonomis serta mampu menjaga kelestarian lingkungan,” tutur Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan – BRIN, saat membuka acara Sharing Session #2 yang membahas “Reduction in Food Loss: Sustainable Postharvest and Food Technologies”.

Upaya riset dan inovasi untuk menjawab persoalan ini terus dilakukan oleh BRIN. Diantaranya dengan dilakukannya riset tentang teknologi pengolahan pasca panen seperti pengalengan dan teknologi non-termal yang dapat mendukung pascapanen dan produksi pangan yang berkelanjutan. “Pemuliaan berbantukan teknologi untuk menghasilkan varietas unggul baru dan lebih kompatibel dengan kendala rantai pasokan dengan kualitas produk segar yang bagus di konsumen juga dapat menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang,” sambung Puji.

Noriyuki Miura dari Osaka University, Jepang menyampaikan tentang “Work Package Development of Smart Data Logger System”. Dia mengatakan sangat penting untuk menjaga kebutuhan pasokan pangan yang terjamin yaitu dengan ketat mengelola kualitas makanan, kesegaran, penghematan pemborosan dengan mencegah kerusakan kesegaran selama pengiriman, keaslian, meminimalisir kehilangan peluang pengiriman makanan.

“Dasar-dasar kualitas dan ketertelusuran makanan, pengiriman makanan tepat waktu dengan pemantauan suhu/kualitas perlindungan komprehensif, kualitas makanan dan rantai pasokan, dan implementasi biaya rendah untuk solusi sosial praktis dengan teknologi desain yang terintegrasi tingkat tinggi dengan mitra industri tidak luput dari pencatatan untuk keamanan makanan dalam rangka pengurangan food loss,” ujar Miura.

Kemudian Sastia Prama Putri, Associate Professor dari Osaka University dalam penelitiannya menjelaskan otentikasi kopi luwak mengandung asam malat, asam sitrat, rasio inositol/asam piroglutamat ditemukan dalam produk aslinya. “Dengan sidik jari metabolik kita dapat membedakan kopi luwak asli dari produk kopi lain berdasarkan sifat kimia kopi,” ungkap wanita yang juga ahli dalam bidang metabolisme makanan.

Rasa dan aroma kopi berganti-ganti karena berbagai faktor karena rasa dan citarasa kopi berkorelasi dengan komponen kimia yang terkandung dalam biji kopi, pendekatan metabolomik dapat diterapkan untuk menemukan komponen kunci satu sama lain. “Komponen kunci untuk setiap faktor adalah informasi berharga bagi industri kopi yang dapat digunakan untuk memastikan kualitas biji kopi,” tambah Sastia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan – BRIN, Satriyo Krido Wahono mengungkapkan beberapa teknologi dan proses pangan seperti pengeringan beku (freeze drying), pengawetan dan pengemasan berpotensi untuk diaplikasikan mengurangi potensi food loss karena memperpanjang usia pemakaian bahan pangan dan atau pangan olahan. “Konsep pemanfaatan limbah pangan menjadi bahan pangan lain atau bahan non pangan seperti pakan ternak, pupuk organik, material penyerap, bahan pengawet, material kemasan dan lain-lain juga memberikan opsi yang lain untuk penerapan food loss dan  masuk ke dalam prioritas nasional riset yaitu penanganan stunting ,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan – BRIN Dwinita Wikan Utami menerangkan kopi dan kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan dan memiliki perekonomian yang vital bagi Indonesia. “Indonesia secara geografis dan klimatologis sangat cocok untuk perkebunan Co-Ca. Potensi Indonesia merupakan produsen dan eksportir kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Kakao memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat,” ujarnya. 

Food loss yang dihasilkan selama produksi primer secara luas dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori berdasarkan praktik dan berbasis pasar. “Pengurangan berdasarkan praktik adalah kerugian langsung yang dihasilkan selama penanaman dan pemanenan tanaman, sedangkan pengurangan berbasis pasar akan menjadi kerugian yang dihasilkan oleh peristiwa di luar pertanian, yang akan berdampak pada produksi,” lanjut Dwinita.

Strategi pengurangan food loss pada kopi dan kakao antara lain pertama Good Agriculture Practices (GAP) yaitu dengan pemuliaan & peningkatan teknologi budidaya untuk meningkatkan kualitas hasil, studi metabolomik untuk mengungkap kemungkinan produk metabolit. Good Handling Practise (GHP), kualitas bibit yang baik dan waktu panen yang optimal, dan Good Distribution (GD), pembuatan sistem dan pertanian cerdas.

Dalam upaya mengurangi food loss di Indonesia antara BRIN dan Osaka University Jepang, memberikan peluang untuk berkolaborasi dalam riset dan inovasi terutama pada teknologi pasca panen dan pangan tanaman perkebunan secara berkelanjutan menuju penguatan ketahanan pangan nasional. (yl/ ed:sl,jml)

Sebarkan