Serpong – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong masyarakat untuk menjadikan International Nuclear Information System (INIS) sebagai literasi informasi iptek nuklir. Salah satu upaya untuk hal itu, BRIN menggelar  webinar Literasi Informasi Iptek Nuklir & Basis Data INIS, Selasa (31/05). INIS merupakan sistem informasi dengan cakupan internasional, yang mengorganisasikan data dan informasi iptek nuklir untuk tujuan damai.

Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, mengatakan, INIS diharapkan dapat memberikan informasi berimbang dan positif terkait pemanfaatan nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. “INIS memiliki tugas yang cukup berat, dikarenakan hampir di semua negara, informasi negatif lebih banyak berkembang di masyarakat,” tutur Agus.

Padahal, menurut Agus, nuklir merupakan energi masa depan yang dibutuhkan suatu negara yang memasuki industri, demikian juga dengan penerapan-penerapan nuklir untuk aplikasi-aplikasi yang lain.

Pada kesempatan yang sama, Liaision Officer Indonesia, Dwi Wiratno P. menyampaikan pengelolaan dan pemanfaatan INIS di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa, Indonesia bergabung di INIS dikarenakan menjadi anggota Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA).

“Indonesia menjadi anggota INIS sejak tahun 1974, saat ini anggota INIS ada 156 di seluruh dunia ini”, ungkap Dwi.

Hingga saat ini, bebernya, kontribusi Indonesia terhadap INIS sekitar 0,6 persen. “Mudah-mudahan dengan adanya sosialisasi, kemudian juga nanti mulai berminat kembali tentang ketenaganukliran ini, akan bisa naik kembali”, harapnya.

Sementara itu, Dekan FMIPA Universitas Indonesia, Dede Djuhana berpendapat, pentingnya literasi informasi tentang nuklir dan basis data, terutama untuk mahasiswa. Ia menyatakan sangat mendukung kegiatan webinar ini, karena menurutnya, literasi sangat penting, terlebih untuk meningkatkan kapasitas SDM.

“Besar harapan agar kegiatan ini dapat membuka wawasan untuk kita dosen, kemudian masyarakat, apa, sih, manfaat nuklir di masa depan. Apalagi kita punya beberapa tempat (lokasi reaktor nuklir) seperti di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta, itu kita mempunyai beberapa hal yang terkait dengan radioisotop,” tuturnya.

Webinar ini juga membahas materi terkait iptek nuklir untuk kesejahteraan masyarakat dan pemanfaatannya di Indonesia. “Pemanfaatan nuklir tidak hanya pada bidang energi, tetapi juga dimanfaatkan pada bidang lainnya, seperti lingkungan, industri, pangan, peternakan, kesehatan, sumber daya air, dan material maju,” jelas Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri BRIN, Tita Puspitasari.

Alternatif INIS Liaision Officer Indonesia, Noer’aida menerangkan, minat penelitian tentang nuklir sejak tahun 2004 menurun, sehingga perlu dilakukan sosialisasi tentang INIS. Dalam kesempatan ini juga dipraktikkan cara penggunaan basis data INIS yang dipandang sangat sederhana dan tidak sulit, dikarenakan saat ini sudah tidak menggunakan password. Dengan sistem baru ini, harapannya semakin banyak masyarakat yang berminat untuk menggunakan basis data INIS.

Sebagai informasi, integrasi lembaga-lembaga litbangjirap, termasuk BATAN ke dalam BRIN, menjadikan INIS kini diampu oleh Direktorat Repositori, Multimedia dan Penerbitan Ilmiah BRIN.  (rdh, mf/ ed: tnt).

Sebarkan