Cibinong – Humas BRIN. Pengembangan inovasi teknologi dapat menopang pencapaian komoditas pertanian yang berkelanjutan. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari menjelaskan penggabungan teknologi pemuliaan dan trans disiplin di bidang ini dapat bertindak sebagai tool untuk menghasilkan bibit-bibit unggul hortikultura dan perkebunan yang berkualitas beserta teknologi pendukungnya yang terukur untuk ekspansi ekonomi yang lebih luas.

“Pencapaian komoditas pertanian yang berkelanjutan harus ditopang oleh pengembangan inovasi teknologi yang tepat sasaran serta aplikatif dan mudah diperoleh oleh khalayak umum,” ungkap Puji Lestari saat membuka Webinar Series #1 bertema “Akselerasi Teknologi Pemuliaan untuk Pelepasan Varietas Unggul Tanaman Hortikultura dan Perkebunan” yang dihelat Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, pada Rabu (8/6).

Menurut Puji, potensi subsektor hortikultura dan perkebunan di Indonesia mempunyai peran yang cukup besar dalam pembangunan perekonomian. Namun demikan, masih banyak mengalami kendala baik bersifat eksternal maupun internal.

“Dalam rangka mendukung ketahanan pangan serta ketersediaan bahan baku industri dan pemenuhan ekspor, Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN berupaya melanjutkan invensi calon-calon varietas unggul yang sebelumnya telah dihasilkan oleh Kementerian Pertanian. Kerjasama hasil riset oleh di kedua Lembaga ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada perekonomian Indonesia ke depan melalui pemanfaatan hasil riset dan inovasi dengan berbagai mitra industri,” terang Puji.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan – BRIN, Dwinita Wikan Utami menyampaikan webinar ini bertujuan untuk menginformasikan tahapan perakitan varietas sampai dengan pendaftarannya, pada berbagai komoditas hortikultura dan perkebunan. Tujuan ini selaras dengan akan dibukanya skema pendanaan Pengujian Produk Inovasi Pertanian (PPIP) oleh BRIN.

Aspek yang perlu disiapkan selain aspek pemuliaan, lanjut Puji, juga pendaftaran calon varietasnya dimana tahapannya perlu merujuk juknis dan aturan yang berbeda untuk setiap komoditas. Calon varietas yang akan masuk ke skim pendanaan PPIP harus sudah didaftarkan sehingga invensi dan inventornya akan terlindungi.

“Dalam sesi webinar ini kita akan mendengarkan paparan para pemulia varietas yang saat ini invensinya telah dimanfaatkan oleh mitra sebagai inovasi yang berperan dalam sektor industri tanaman hortikultura dan perkebunan. Diharapkan setelah mengikuti webinar ini para periset dapat segera melakukan pendaftaran calon invensi varietasnya sebagai persiapan untuk mengakses  skim pendanaan PPIP,” ujar Dwinita.

Narasumber yang pertama Rubiyo, menjelaskan tentang “Pemuliaan dan Pendaftaran Varietas Tanaman Kopi dan Kakao Serta Pembentukan Kebun Benih Hibrida”. Dia menjelaskan kakao di indonesia merupakan  salah satu komoditas unggulan yang merupakan sumber devisa negara, lapangan kerja dan konservasi tanah dan air. Begitu juga dengan kopi selain sebagai sumber devisa negara juga merupakan salah satu aspek dari fungsi hidrologis.

“Pemuliaan tanaman kopi kakao ada dua aspek, yaitu pemuliaan konvensional dan inkonvensional yang berbasis molekuler dan teknologi genom yang dapat menghemat waktu perakitan varietas hingga sepuluh tahun,” papar Rubiyo.

Sedangkan narasumber yang kedua, Ni Luh Putu Indriyani memaparkan tentang “Pemuliaan Dan Pendaftaran Buah Tropika Berorientasi Industri”.  Ni Luh menerangkan, buah tropika di Indonesia selain memenuhi kebutuhan dalam negeri juga berpotensi untuk menghasilkan devisa melalui ekspor. Akan tetapi ekspor yang ada masih belum optimal sehingga perlu adanya inovasi untuk menghasilkan varietas-varietas unggul baru.

“Sebelum melakukan pemuliaan perlu adanya rangkuman tujuan yang akan dicapai apakah varietas yang dihasilkan menghasilkan daya saing yang tinggi, kualitas yang bagus dan tahan terhadap cekaman lingkungan abiotik dan biotik,” jelasnya.

Narasumber selanjutnya yaitu Tri Handayani menjelaskan tentang proses pemuliaan sampai dengan pendaftaran varietas sayuran kolaborasi dengan industri yang dimulai dari pemuliaan, uji keunggulan, uji kebenaran, pendaftaran atau pelepasan varietas unggul baru (VUB). Terakhir adalah perbanyakan benih VUB untuk peredaran dan komersialisasi yang di masing-masing tahapan sudah bisa dilaksanakan dengan mitra baik itu mitra industri petani lokal, pemda setempat atau penangkar benih.

Narasumber yang terakhir adalah Suskandari Kartikaningrum dalam paparannya menjelaskan tentang pemuliaan dan pendaftaran varietas tanaman hias  bermitra industri. “Tanaman hias merupakan komoditas perdagangan dunia, maka dari itu diperlukan pemuliaan tanaman hias yang tujuannya untuk menciptakan variabilitas yang selanjutnya akan diseleksi, dievaluasi, dilakukan perbanyakan lalu didistribusi,” pungkasnya. (aa/ ed:sl,jml)

Sebarkan