Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) saat ini tengah mengembangkan alat siklotron, yang diberi nama Design Experimental Cyclotron (DECY). Desain dan manufaktur DECY telah dikembangkan sejak tahun 2010.

Pada 2019 dan 2020 lalu, 9 orang periset BRIN telah mengikuti kursus di Sungkyunkwan University (SKKU), Korea, untuk peningkatan kapasitas SDM bidang siklotron.  “Dari sisi SDM, saya terkesan, sekarang tim DECY bisa bekerja secara sistematis, terjadi peningkatan SDM terlatih dibandingkan kondisi tahun 2019,” ucap Prof Jong Seo Chai, seorang ahli bidang siklotron dari SKKU, saat melakukan pertemuan dengan Kepala BRIN, di Kantor BRIN, Thamrin, Jakarta, Jumat (17/06).

Melalui kegiatan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA)  expert mission 2022, Chai mengungkapkan, 90 persen kriteria siklotron DECY telah tercapai, meliputi RF dee cavity dan RF Power, Main Magnet System, power supply, water cooling, Ion source, dan peralatan lainnya.

Pada kegiatan IAEA expert mission tersebut, Chai mengatakan, perlunya rencana aksi pengadaan power generator 20kW, dan diperlukan perisai (shielding) untuk siklotron DECY-13 MeV.

Rangkaian IAEA mission expert ini juga melakukan tinjauan dan memberikan rekomendasi untuk Siklotron CS-30 di Serpong, Tangerang Selatan. Menurutnya, fasilitas ini masih memungkinkan untuk direvitalisasi, dan perlunya peningkatan kapasitas SDM, membuat kelompok kerja, dan timeline untuk perencanaan strategi.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menyambut baik IAEA expert mission ini. Menurutnya, BRIN saat ini sedang melakukan revitalisasi Kawasan Nuklir Babarsari, Yogyakarta.

“Saya rasa rekomendasi ini sangat tepat sekali, bersamaan dengan revitalisasi kawasan. Kita juga perlu memperhatikan aspek keselamatan, seperti shielding untuk pengembangan DECY-13 ini,” kata Handoko.

Handoko juga mendorong perlunya strategi realistis dalam peningkatan SDM periset di bidang  siklotron, tidak hanya dari segi jumlah namun juga kualitas, antara lain melalui mekanisme post-doctoral dan visiting researcher.

Selain itu, pengembangan teknologi proton therapy juga perlu dilakukan. “Kami juga akan memperkuat Kawasan Nuklir Pasar Jumat Jakarta, sebagai applied nuclear facility, khususnya untuk bidang medis dan industri,” tuturnya.

Sebagai informasi, siklotron adalah salah satu jenis akselerator atau alat yang digunakan untuk mempercepat partikel dengan lintasan berbentuk siklik (lingkaran). Pengembangannya di ORTN BRIN, Yogyakarta, dirancang agar mampu menghasilkan proton dengan energi 13 MeV, antara lain untuk produksi radioisotop guna keperluan medis (tnt).

Sebarkan