Jakarta – Humas BRIN, Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Merujuk pada data UNESCO, partisipasi perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan masih minim, dengan total hanya 30 persen periset perempuan di seluruh dunia. Kondisi serupa juga tercermin di Indonesia, dimana dunia riset masih didominasi oleh kaum lelaki.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas, mengungkapkan, dari 12 ribuan pegawai BRIN saat ini, jumlah pegawai perempuan baru mencapai 35 persen.

“Saat ini BRIN memiliki 12.672 pegawai, 65 persennya pria, sisanya perempuan 35 persen,” ungkap Nur Tri.

Merujuk pada kondisi tersebut, Talk to Scientist yang rutin digelar oleh BRIN kali ini, Selasa, (08/03) mengangkat tema Woman in Science, yang mengangkat kiprah para periset perempuan yang telah berprestasi. Webinar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh periset, khususnya perempuan dan generasi muda untuk dapat berkiprah di dunia riset.

Mimpi Membangun Kota Hidrogen

Salah satu periset BRIN yang berprestasi di bidangnya dan memperoleh penghargaan internasional adalah Eniya Listiani Dewi. Periset bidang Teknologi Proses Elektrokimia ini sudah lama bermimpi ingin membangun kota hidrogen, kota yang seluruh sumber energinya berasal dari hidrogen.

Transisi energi yang menjadi salah satu fokus pada perhelatan G20 menurutnya harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk menyiapkan energi bersih, jika Indonesia ingin mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Bicara tentang sains, Eniya berbagi inspirasi bahwa apa yang ia kerjakan berawal dari motivasi oleh profesor pembimbingnya saat Eniya menempuh pendidikan di Waseda University. Saat itu, profesor pembimbingnya mengatakan bahwa apa yang sedang Eniya kerjakan sebetulnya meniru apa yang Tuhan ciptakan.

Eniya melakukan penemuan katalis baru, yang didalamnya terdapat proses mereduksi oksigen menjadi H2O.

“Proses ini sebetulnya proses di dalam tubuh kita, untuk menangkap oksigen di dalam hemoglobin lalu mengubahnya menjadi H2O. Katalis yang meniru proses tersebut tidaklah mudah, saya harus melalui berbagai eksperimen,” ungkap perempuan kelahiran Magelang ini.

Saat ia kembali ke Indonesia usai meraih gelar S3, ia mengaku banyak yang pesimis mengenai kelanjutan risetnya.

“Banyak teman-teman yang menyangsikan, kalau kembali ke Indonesia, saya bakal nggak punya duit, level saintifik saya bakal turun, dan nggak bakal terkenal. Ini membuat rasa sedikit-sedikit sakit hati,” katanya.

Namun kesangsian tersebut menjadi motivasi bagi peraih General Electric Inspiring Woman in STEM Award tahun 2019 ini untuk tetap konsisten di bidang yang digelutinya, hingga ia berhasil meraih gelar profesor riset.

Hingga saat ini, Eniya dan tim melakukan pengembangan sel bahan bakar (fuel cell) berbahan bakar hidrogen yang telah ia rintis sejak tahun 2003, dengan mengubah senyawa hidrogen menjadi listrik melalui proses elektrokimia.

Dalam mengembangkan riset sel bahan bakar dan hidrogen ini, Eniya membentuk beberapa tim kelompok periset, diantaranya kelompok biohidrogen, thermochemical hydrogen production, fuel cell, green hydrogen production and system, dan hydrogen storage.

Menurutnya, hal terberat dalam dunia riset adalah konsistensi. “Pengalaman terberat adalah konsistensi untuk menghasilkan produk ataupun temuan, dan temuan itu diapresiasi ataupun kita bisa menerapkannya dan membuatnya menjadi nilai tambah,” tuturnya.

Lebih spesifik mengulas pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), Eniya menyayangkan saat ini hanya 19 persen periset perempuan yang berkarir di bidang STEM. Ia mendorong agar generasi muda mau berkiprah di dunia riset, untuk menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka pada 2045.

“Populasi produktif juga perlu memiliki pengetahuan yang memadai di bidang STEM. Tanpa ilmu pengetahuan maupun kualifikasi teknis, bonus demografi hanyalah angka,” pungkasnya (tnt).

Sebarkan