Cibinong – Humas BRIN. Organisasi Riset (OR) Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), merupakan salah satu dari 12 OR di lingkungan BRIN. Kepala OR Hayati dan Lingkungan BRIN, Iman Hidayat, mengatakan, OR Hayati dan Lingkungan dibentuk untuk melaksanakan riset dan inovasi di bidang biodiversitas dan lingkungan.

“OR Hayati dan Lingkungan akan bekerja keras untuk mendukung komitmen pemerintah dalam menyukseskan agenda Sustainable Development Goals,” ungkap Iman.

Dikatakan Iman, OR Hayati dan Lingkungan yang ia pimpin akan membawahi 8 Pusat Riset (PR), yaitu PR Rekayasa dan Genetika, PR Biosistematika dan Evaluasi, PR Ekologi dan Etnobiologi, PR Mikrobiologi Terapan, PR Zoologi Terapan, PR Biomassa dan Bioproduk, PR Lingkungan dan Teknologi Bersih, serta PR Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan. 

Iman menjelaskan, ada 4 ruang lingkup kegiatan utama yang menjadi dasar kegiatan riset dan inovasi di OR Hayati dan Lingkungan. Pertama, eksplorasi biodiversitas nusantara, dengan output utama koleksi ilmiah hayati (hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme) serta data yang menyertainya.

Kedua, konservasi in-Situ dan ex-Situ biodiversitas dan ekosistem, dengan output utama kawasan konservasi ex-Situ seperti Kebun Raya Nasional dan Daerah, serta Stasiun-Stasiun Riset di kawasan konservasi bekerja sama dengan Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Ketiga, pemanfaatan biodiversitas nusantara. “Output utamanya adalah teknologi yang mampu memberikan nilai tambah terhadap kekayaan biodiversitas nusantara, untuk pengembangan ekonomi hijau, berkelanjutan, dan inklusif bagi peningkatan ekonomi masyarakat lokal,” terang Iman.

Keempat adalah riset dan inovasi untuk pengembangan teknologi ramah Lingkungan, dengan output utama yaitu teknologi untuk mengatasi pencemaran lingkungan (tanah, air, dan udara), serta teknologi bersih yang dapat digunakan oleh berbagai industri, untuk mendukung pembangunan nasional berkelanjutan.

Data Genom dan Protein untuk Industri Berbasis Kekayaan Hayati

Iman mengatakan, dalam jangka pendek, dirinya akan mengkonsolidasikan seluruh Pusat-Pusat Riset yang ada di OR Hayati dan Lingkungan. “Penting untuk memahami apa yang menjadi ruang lingkup masing-masing PR dan permasalahan nasional dan global apa saja yang harus dijawab oleh Pusat-Pusat Riset tersebut melalui riset dan inovasi. Selain itu, pemetaan kekuatan sumber daya manusia dan koordinasi dengan stakeholder terkait khususnya dari kementerian, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan swasta harus segera dilakukan,” katanya.

Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang, lanjut Iman, OR Hayati dan Lingkungan akan melakukan transformasi pengelolaan koleksi ilmiah hayati dan pemanfaatannya. Jika dahulu dari hasil eksplorasi hanya disimpan spesimen fisik saja (baik hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme), maka mulai tahun ini hasil eksplorasi harus menyertakan data genom dan protein untuk diungkap potensinya dan disimpan, karena industri yang berbasis kekayaan hayati atau biodiversitas akan berbasis Data Mining. Termasuk produk-produk industri mulai dari makanan sampai obat.

“Perlu waktu, karena kekuatan SDM kita saat ini belum terlalu mendukung, tapi saya optimis kita bisa melakukannya,” lanjut Iman yang baru dilantik sebagai Kepala OR Hayati dan Lingkungan pada 4 Maret 2022 ini.

Iman mengungkapkan, kekayaan biodiversitas nusantara adalah modal dasar pembangunan bangsa Indonesia. Namun kita masih belum mampu mengoptimalkannya. Ekonomi kita masih bergantung kepada industri pertambangan (Mineral Mining) yang berdampak pencemaran lingkungan.

“Bangsa Indonesia harus mulai melakukan shifting pembangunan ekonomi dari industri berbasis Mineral Mining menjadi industri berbasis Data Mining yang dihasilkan dari kekayaan biodiversitas nusantara kita, pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Disini peran OR Hayati dan Lingkungan harus kuat, pasti tidak mudah untuk diwujudkan, tapi kita harus yakin untuk bisa mewujudkannya,” tuturnya.

Dirinya juga mengatakan, pembangunan ekonomi hijau dan inklusif akan menjadi target jangka menengah dan panjang dari OR Hayati dan Lingkungan. Sentuhan teknologi untuk memberi nilai tambah dari kekayaan biodiversitas lokal dan juga pemanfaatan pengetahuan atau kearifan lokal untuk pengembangan ekonomi inklusif sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan.

Melalui stasiun-stasiun riset yang akan dibangun di berbagai wilayah di Indonesia, OR Hayati dan Lingkungan akan bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat, KLHK, dan pemerintah daerah, serta stakeholder lainnya untuk mengangkat potensi biodiversitas lokal dalam meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Selain itu, juga untuk meningkatkan capacity building di seluruh stasiun riset agar kapasitas sumber daya manusia meningkat (aa,shf ed sl/ ed: tnt)

Sebarkan