Bandung-Humas BRIN. Salah satu perusahaan pemula (Start Up) merancang solusi perangkat pemetaan dengan ketelitian tinggi dan harga ekonomis. Produk yang dinamakan Low Cost Global Navigation Satelite System (GNNS) baru saja diumumkan mendapatkan pendanaan perusahaan pemula berbasis riset (PPBR) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pengumuman penerima pendanaan disiarkan melalui Webinar Fasilitasi dan Pendanaan Riset dan Inovasi (WALIDASI) Edisi Start Up BRIN #1 pada Kamis (17/2). Kegiatan ini bertujuan memberikan inspirasi dan motivasi kepada para pegiat riset juga perusahaan pemula untuk mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan hasil riset dari BRIN.

Adalah Mokhamad Nur Cahyadi, dosen dan peneliti di Institut Teknologi Surabaya (ITS) yang berhasil membuat GNSS menerima PPBR BRIN. Dirinya telah bekerja sama dengan Peneliti di Pusat Riset Antariksa BRIN didukung oleh peneliti di berbagai bidang di ITS, dalam MNCGeotech.

MNCGeotech merupakan Navigation Cooperation Technology di bidang kebumian. “MNCGeoTech berkomitmen menyediakan perangkat pemetaan yang bersifat low-cost dengan akurasi memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia),” ungkap Cahyadi.

Ia menjelaskan bahwa penelitiannya dimulai sejak 2018 dengan Pusat Riset Antariksa BRIN. Mereka melakukan koreksi-koreksi ionosfer, membuat prototype, dan diaplikasikan pada bidang sains, serta dicobakan untuk pemantauan tsunami dan refleksi sinyal pada laut. “Di tahun 2021, kami mulai menjual kepada pengguna dan berharap mendapatkan coaching dari BRIN,” ungkapnya.

“Pada pemanfaatan teknologi BRIN, kami menggunakan model regional tec dari LAPAN yang sekarang BRIN. Penentuan posisi dengan GPS pada smartphone kita ini ada koreksi yang cukup besar setelah orbit satelit di ionosfer,” terangnya.

“Indonesia melalui BRIN membuat model regional tech dan dimodelkan, lalu bekerja sama dan diinjeksikan ke alat kita, sehingga alat kita memiliki ketelitian lebih kecil dari 1 cm untuk static dan lebih kecil 50cm untuk precise point positioning (PPP) dan real-time kinematic positioning (RTK),” pungkasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa produk Low-Cost GNSS Smart ITS BRIN saat ini telah diproduksi, serta dilakukan pelatihan pada petugas PDAM di Surabaya untuk mengetahui bagaimana cara menggunakan alatnya. Disebutkannya, alat ini telah dipresentasikan kepada Gubernur, Rektor, serta penggunanya di PDAM dalam kegiatan pameran, serta telah dilakukan serah terima pada tahun 2021 di Surabaya.

Ke depan, produk ini diproyeksikan memiliki data akurasi tinggi dengan harga relatife murah, ukuran dan penggunaannya lebih efisien, dapat diintegrasikan dengan alat survei lain dan telah diintegrasi dengan database.

Sasaran mitra yang diharapkannya yaitu Pemerintah Provinsi dan Kota, perusahaan tambang di Pulau Jawa dan luar Jawa, Perusahaan Oil dan Gas, dan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PAMSI). Ia telah mengawalinya bersama PDAM Surabaya. Sementara untuk mitra potensial dan produktif, ia menyasar pada pemetaan tanah hijau dan biru, BRIN, BMKG, BIG, dan institusi-institusi yang membutuhkan penentuan posisi yang akurat dan cepat.

“Harapan kami melalui BRIN, perusahaan rintisan ini dapat meningkatkan efisiensi kegiatan survei pemetaan di Indonesia karena menggunakan produk dalam negeri, memiliki target pemasaran ke pasar global, mendapatkan pelatihan tata cara pemasaran produk, dan memiliki banyak jaringan,” ujar Cahyadi di akhir paparan. Ia juga berharap agar kualitas dan pemasaran produk dapat terus meningkat. (cw/ ed. kg, drs)

Sebarkan