Surabaya – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendukung kolaborasi riset dengan Industri Pertahanan. Hal ini disampaikan oleh Mego Pinandito, Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi (PRI) BRIN, di sela-sela kunjunganya menghadiri peluncuran holding dan program strategis BUMN Industri Pertahanan (Defend ID) di Surabaya, Rabu (20/4).

Holding Industri Pertahanan terdiri dari PT. LEN Industri Persero, PT. DAHANA, PT. PINDAD, PT. Dirgantara Indonesia dan PT. PAL Indonesia. Visinya adalah menjadi industri pertahanan nasional yang maju, kuat, mandiri, berdaya saing dan terdepan di pasar global dengan target menjadi top fifty defence global company di tahun 2024. 

Dijelaskan Mego, terbentuknya holding ini akan mempercepat pengembangan ekosistem industri di bidang pertahanan. “Dalam konteks industri pertahanan, BRIN memiliki peran besar karena BRIN terus mendorong dan membangun kolaborasi dengan industri pertahanan,” jelas Mego.

BRIN juga sudah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan Kementrian Pertahanan, PT. PINDAD, dan PT. Dirgantara Indonesia. Sebagai bentuk kolaborasi antara BRIN dengan industri pertahanan yaitu dengan mengembangkan produk sendiri, memanfaatkan fasilitas pengujian di laboratorium BRIN dan kolaborasi SDM.

Mego juga menjelaskan beberapa hasil riset BRIN di bidang pertahanan yang sudah dimanfaatkan oleh industri pertahanan. Dalam hal kolaborasi SDM, BRIN juga sudah mengirimkan beberapa SDM ke PT. PAL Indonesia. “BRIN sangat membuka peluang untuk kolaborasi riset dengan industri pertahanan melaui pusat riset yang ada di BRIN,” kata Mego.

Acara peluncuran holding dan program strategis BUMN Industri Pertahanan yang dilakukan oleh PT PAL Indonesia ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan bahwa kemandirian industri pertahanan harus diwujudkan secara bersama-sama, dengan memperkuat industri dan ekosistemnya.

Pembentukan holding industri pertahanan ini diharapkan mampu bersaing dan mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan menurunkan impor alat pertahanan dan keamanan Indonesia. “Terus berinovasi mencari cara dan mencari terobosan baik terobosan bidang SDM, bahan baku, produk, proses bisnis dan operasionalnya harus yang terbaik,” ucap Jokowi.

Dalam kesempatan ini, Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Indonesia turut hadir untuk memberikan sambutanya. Prabowo menyampaikan bahwa holding industri Defend ID akan meningkatkan komponen dalam negeri menjadi 50 persen untuk teknologi-teknologi kunci dan akan menjadi 50 industri terbesar di dunia dalam bidang industri pertahanan. “Dengan Defend ID ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mempercepat kemandirian industri pertahanan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan alutsista dalam negeri,” tutup Prabowo. (aml/ed:sao)

Sebarkan