SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 149/SP/HM/BKPUK/X/2021

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) telah berhasil mengembangkan beberapa varian produk turbin skala kecil dari 450 HP sampai 4 MW tipe back pressure. Turbin yang dirancang bersama PT Nusantara Turbin dan Propulsi (PT NTP) telah melalui serangkaian uji dan sesuai untuk memenuhi kebutuhan industri perkebunan seperti pabrik gula dan pabrik kelapa sawit.

Pengembangan rancang bangun dan rekayasa serta manufaktur turbin nasional yang dilakukan Pusat Teknologi Industri Permesinan (PTIP – OR PTT BRIN) sedang memasuki tahap komersialisasi dengan melakukan rangkaian sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menggandeng Surveyor Indonesia (SI) dan Kementerian Perindustrian. Sertifikat tersebut menjadi salah satu persyaratan dari pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dalam pemanfaatan turbin dengan beberapa penyesuaian di industri kelapa sawit melalui skema sinergi BUMN.

Plt Kepala PTIP – OR PPT BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar dalam pertemuan dengan Direktur Utama PT NTP Tarmizi Kemal Fasya Lubis di PT NTP Bandung, Jumat (01/10), mengatakan berdasarkan perhitungan mandiri, turbin uap anak bangsa diperkirakan sudah bisa mencapai nilai TKDN diatas 40%.

“Dengan berbekal sertifikat TKDN diatas 40%, harapannya turbin uap skala kecil dibawah 4 MW sudah menjadi barang wajib, dan PT NTP dapat segera melakukan produksi untuk memenuhi kebutuhan industri kelapa sawit,” tutur Cuk.

Lebih lanjut, Cuk mengatakan kerjasama dengan PT NTP juga menghasilkan turbin uap tipe condensing 3 MW yang telah dimanfaatkan di PLTP Kamojang.

Direktur Utama PT NTP Tarmizi Kemal Fasya Lubis menyambut baik rencana tersebut dengan berkomitmen mempersiapkan proses pengajuan sertifikasi TKDN Turbin dibawah 4 MW dan mempersiapkan proses produksi di PT NTP.

Dikatakannya klaster industri turbin nasional sudah terbentuk dari pengalaman pengembangan turbin uap bersama BRIN serta pengalaman PT NTP sendiri dalam menjalankan proses bisnis servis turbin.

“Kami akan melakukan pendekatan kepada pihak PTPN untuk meyakinkan pemanfaatan turbin nasional di industri kelapa sawit. Turbin back pressure skala kecil sendiri sudah banyak digunakan di pabrik kelapa sawit, namun saat ini semuanya masih dipenuhi dari produk luar negeri,” tandas Tarmizi.

Turbin ORC Untuk Fasilitas Pengolah Sampah Antara

Pada kesempatan yang sama, Djaka Winarso mewakili Direktur Utama PT. Hidro Energi Persada (PT HEP) mengatakan pihaknya bersama PT Bumi Resik dan Perumda Sarana Jaya akan melakukan kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta dalam pembangunan Fasilitas Pengolah Sampah Antara (FPSA) skala mikro dengan kapasitas 2 x 60 Ton per hari di kawasan Tebet.

Hal tersebut sesuai dengan target Gubernur DKI dalam upaya penyelesaian 28 isu prioritas yang tertuang dalam Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 49 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Isu Prioritas Daerah Tahun 2021-2022. Salah satunya adalah terbangun dan beroperasinya 18 FPSA Mikro (berkapasitas 5-200 ton/hari/instalasi) yang ditargetkan pada Agustus 2022.

“Pemprov DKI berkomitmen melakukan pembangunan beberapa titik FPSA skala mikro pada tahun 2022, kedepan potensi pembangunan FPSA dan PLTSa akan lebih banyak lagi baik di Pemprov DKI maupun kota-kota besar yang memiliki permasalahan sampah yang sama, sehingga pengembangan Turbin ORC dalam negeri akan lebih menarik” ujar Dzaka.

FPSA skala mikro dibangun dengan pendekatan pengolahan sampah di sumber untuk memotong rantai distribusi dan pengolahan sampah sekaligus mengurangi jumlah emisi dan ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir Bantargebang yang berdampak pada lingkungan.

Pada tahap awal, FPSA akan membutuhkan 2 unit turbin generator yang diperkirakan dapat menghasilkan listrik sekitar 2 MW. Jenis Turbin yang akan digunakan di FPSA tersebut adalah turbin Organic Rankine Cycle (ORC) yang belum dikuasai oleh anak bangsa. Untuk itu PT HEP akan menggandeng BRIN dan PT NTP untuk melakukan pendampingan dan alih teknologi dalam proses pembelian turbin ORC.

PT HEP sendiri telah mempersiapkan tempat uji turbin ORC di hydrodrive plant yang berlokasi di daerah Soreang, Bandung. Hydrodrive merupakan proses pembakaran sampah menggunakan bahan bakar air dengan menggunakan perangkat boiler yang dapat merebus air hingga kondisi uap superheated steam (di atas 800 derajat hingga 1200 derajat Celsius). Metode pembakaran ini tidak membutuhkan bahan bakar minyak, sehingga biaya operasional menjadi jauh lebih efisien.

“Potensi pembangunan FPSA dan PLTSa di Indonesia sangat besar, sehingga dengan dikuasainya desain dan manufaktur turbin ORC oleh industri dalam negeri, harapannya terjadi peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) dan mitra pengguna akan lebih mudah melihat kesesuaian spesifikasi, pengontrolan kualitas serta mempermudah proses maintenance rutin saat beroperasi” terang Djaka.

Mewakili tim Turbin BRIN Cuk Supriyadi menyambut baik rencana kerjasama tersebut. Dirinya mengatakan sebagai lembaga riset, BRIN mempunyai tugas melakukan kerjasama dengan industri dalam negeri. Dalam konteks turbin ORC, BRIN berkomitmen untuk membantu dan bekerjasama dengan PT HEP dalam melakukan pendampingan audit kondisi turbin ORC, proses engineering, dan pembuatan Detail Engineering Design (DED) integrasi turbin ORC dengan teknologi pengolahan sampah thermal (Hydrodrive Plant), serta melakukan pendampingan uji performa Turbin ORC.

“Pada intinya tim Turbin BRIN memiliki pengalaman dan siap memberikan pendampingan kepada PT HEP, tinggal skema kerjasamanya saja nanti mengikuti proses bisnis yang ada di BRIN,“ terang Cuk.

Sementara pihak PT NTP menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kesempatan untuk melakukan pendampingan bersama BRIN dalam audit teknologi kondisi turbin ORC, engineering, integrasi, dan proses pengujiannya.

Dirut Utama PT NTP Tarmizi berterima kasih telah dilibatkan oleh BRIN dalam pengembangan turbin ORC.Teknologi terpenting dalam sistem turbin ORC adalah penanganan fluida kerja yang beroperasi dalam kondisi siklus tertutup sehingga sealing system dan kepresisian komponen menjadi hal yang harus diperhatikan.

Berbekal pengalaman dalam pengembangan turbin uap dan layanan service turbin gas mesin pesawat (aero) dan pompa-pompa industri, PT NTP yakin bisa turut bergabung dalam pengembangan turbin ORC ini.

“Sebagai pelaku industri, saya memiliki harapan besar untuk tersedianya pasar turbin yang jelas, serta regulasi standar yang melindungi pelaku industri. Sehingga industri manufaktur turbin nasional bisa tumbuh dan berkembang,” terangnya.

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional