Jakarta-Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung sepenuhnya terhadap program percepatan penurunan stunting di Indonesia melalui produk pangan fungsional PURULA singkatan dari peptida unggul dan rumput laut. PURULA merupakan makanan fungsional berupa flake tabur yang dapat membantu mencegah anemia, salah satu penyebab stunting.

Dukungan yang diberikan BRIN ini sejalan dengan program pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Kebijakan ini dikeluarkan atas dasar masih tingginya angka prevalensi stunting di Indonesia yakni 27,67%, masih diatas angka standar yang ditoleransi oleh badan kesehatan dunia atau WHO.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menyatakan, terdapat tiga tanda kelemahan pada stunting yang menyebabkan penderita tidak produktif yakni kondisi fisik badan cenderung pendek, kurang cerdas, dan sering sakit-sakitan di usia paruh baya.

Penyebab terjadinya stunting pada umumnya berawal dari pola menjaga kesehatan yang rendah yang terjadi selama bertahun-tahun. “Pasokan nutrisi yang kurang baik juga dapat menimbulkan stunting, serta pola pengasuhan anak yang kurang baik,” kata Hasto pada acara dialog penguatan kerja sama BKKBN dengan Kementerian Agama dan BRIN dalam pencegahan stunting dari hulu bagi calon pengantin, Jakarta, Rabu (16/12).

Hasto menerangkan, upaya penurunan stunting harus dimulai sejak dini  terutama bagi setiap calon pengantin atau calon pasangan usia subur, harus berada dalam kondisi yang ideal untuk siap hamil. Oleh karena itu, setiap calon pengantin atau pasangan usia subur harus memperoleh pemeriksaan kesehatan dan pendampingan selama tiga bulan pra-nikah dan memperoleh bimbingan terkait stunting.

Ia menegaskan keberhasilan program penurunan stunting memerlukan sinergitas dan kolaborasi antara BKKBN dengan lembaga lainnya, salah satunya adalah BRIN. Produk pangan fungsional PURULA hasil inovasi BRIN diharapkan menjadi bahan pangan sumber zat besi pendamping makanan pokok untuk pencegahan dan pemulihan anemia.

Kepala OR PPT, Dadan Moh Nurjaman mengatakan, agar program ini berjalan, maka dibutuhkan komitmen yang tinggi dari para pemangku kepentingan dengan membangun ekosistem untuk pengurangan stunting di Indonesia. Hal ini sangat penting dilakukan karena Indonesia akan memasuki masa emas di tahun 2045. 

“Dari sekarang kurang lebih ada waktu 20 tahun, dan bayi yang akan lahir tahun depan, akan memasuki usia produktif di tahun 2045,” kata Dadan.

Di tahun 2045 menurut Dadan, merupakan bonus demografi bagi bangsa Indonesia, dimana jumlah usia produktif lebih besar daripada yang tidak produktif. Oleh karena itulah, generasi saat ini harus disiapkan menjadi generasi yang tangguh dan tidak terkena stunting untuk menuju Indonesia emas di tahun 2045.

Dadan menjelaskan, BRIN berkomitmen dalam penurunan stunting di Indonesia dengan melakukan berbagai riset dan inovasi dengan memanfaatkan sumber daya hayati, kearifan lokal Indonesia, dan berbagai kuliner untuk memperbaiki asupan gizi. Untuk stunting yang disebabkan oleh anemia, BRIN telah menghasilkan produk inovasi berupa makanan fungsional yang dapat mencegah terjadinya anemia yakni PURULA.

“BRIN melalui Pusat Teknologi Agroindustri telah berhasil mengembangkan produk pangan fungsional untuk membantu mengatasi kekurangan asupan zat besi,” ujar Dadan.

PURULA terdiri atas dua komponen utama yakni peptida unggul dari hidrolisat kedelai dan rumput laut yang kaya akan mineral. Makanan ini berkhasiat membantu penyerapan zat besi, sehingga dengan mengonsumsi makanan ini diharapkan menambah asupan zat gisi khususnya zat besi yang dapat mencegah terjadinya anemia. 

Dengan berbagai varian rasa, tutur Dadan, PURULA sangat disukai oleh masyarakat. “PURULA memiliki berbagai rasa seperti jagung bakar dan bawang, mengkonsumsinya cukup mudah cukup ditaburkan ke dalam menu harian seperti nasi, mie, roti ataupun menu lainnya,” tambahnya.

Sebagai upaya sosialisasi pemanfaatan PURULA sebagai makanan pencegahan stunting, pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan naskah kerja sama antara BRIN dengan BKKBN. Kerja sama tersebut terkait penggunaan PURULA sebagai benda uji dalam program percepatan penanganan stunting. (Pur)

Sebarkan