SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 103/SP/HM/BKKP/VIII/2021

Jakarta – Membangun kekuatan riset dan inovasi membutuhkan banyak konsolidasi dan kolaborasi dukungan berbagai pihak, salah satunya menghubungkan industri dengan hasil riset oleh para periset dan perekayasa. Hal tersebut disampaikan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat menjadi pembicara dalam sesi Leaders’ Talk & Scientists’ Talk dalam Webinar ‘Riset dan Inovasi untuk Merah Putih’ yang diselenggarakan oleh LIPI, Rabu (18/08).

“Kalau kita bicara terkait mitra pelaku usaha, katakanlah tidak mungkin mitra pelaku usaha masuk ke dalam R&D industri karena membutuhkan investasi, biaya, dan risiko yang tinggi. Sesuatu yang high cost and high risk inilah pemerintah harus hadir,” jelas Kepala BRIN.

Kepala BRIN melanjutkan dalam kondisi inilah BRIN sebagai representasi dari pemerintah akan hadir untuk memfasilitasi dan memudahkan bagaimana R&D industri bisa tumbuh di Indonesia. Dalam kaitannya dengan industri maka tidak akan lepas akan adanya standardisasi, Handoko menjelaskan tidak mungkin hasil riset yang baru keluar laboratorium dapat langsung masuk proses produksi.

“Apalagi kalau kita bicara obat, vaksin, dan seterusnya, pemenuhan standardisasi sangat diperlukan sebelum masuk ke industri. Belajar dari pengalaman pandemi ini kita perlu hadir mengisi kekosongan apa yang dihasilkan di hulu untuk diteruskan ke hilir,” ujar Handoko.

Turut hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno, yang mengatakan harus ada affirmative policy yang menggabungkan aspek riset, inovasi, industri, dan politik anggaran yang mendukung atau pro akan kemandirian bangsa. Lebih dari itu pada pandemi ini diperlukan political will untuk menciptakan sektor kesehatan yang mandiri, maju secara teknologi dan setara dengan negara lain.

“Komisi VII DPR RI adalah mitra yang siap mendukung strategi dan kebijakan riset inovasi ke depan. Siap mendengar, siap bekerja sama, mendorong, dan mendukung BRIN beserta segenap perangkat riset dan inovasi nasional agar kita menjadi negara maju, berdaya saing dan memiliki SDM yang unggul,” terang Eddy Suparno.

Hadir pada kesempatan ini sebagai pembicara Plh. Kepala LIPI Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Puspita Lisdiyanti, Bagus Muljadi dari University of Nottingham, Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Deni S. Khaerudini.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Badan Riset dan Inovasi Nasional dan