Jakarta – Humas BRIN. Peneliti bidang teknik material, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rike Yudianti berhasil mengembangkan penelitian terkait nanokomposit berbasis nanoselulosa dan nanokarbon sebagai material fungsional. Penelitian ini dilakukan Rike didasarkan pada keprihatinannya atas permasalahan lingkungan dan keterbatasan sumber energi yang menjadi isu strategis akhir-akhir ini.

Permasalahan lingkungan menjadi perhatian serius di kalangan nasional dan internasional. Salah satu isu lingkungan yang banyak diperbincangkan di Indonesia adalah melimpahnya sampah plastik yang jumlahnya mencapai 64 juta ton/tahun, dan sebanyak 3,2 juta ton dibuang ke laut, sementara yang 85 ribu ton dibuang di daratan.

Isu sampah plastik ini akan terus berlanjut apabila tidak ada perubahan berupa kepedulian manusia sebagai penduduk bumi terhadap permasalahan sampah plastik. Salah satu bentuk kepedulian tersebut dapat berupa pemanfaatan barang-barang yang ramah lingkungan dalam menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.

Permasalahan lainnya yang tak kalah pentingnya adalah keterbatasan sumber energi fosil sebagai sumber energi listrik. Bahkan diprediksi pada tahun 2033 total produksi energi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan domestik.

Dalam orasinya pada pengukuhan sebagai Profesor Riset, Kamis (10/03), Rike mengatakan, nanokomposit menjadi material yang banyak diminati. Nanokomposit merupakan material alternatif sebagai solusi yang mempunyai potensi besar sebagai material fungsional.

“Nanokomposit berbasis nanoselulosa banyak diminati karena merupakan bahan baku yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan, kuat, dan ringan,” kata Rike.

Sedangkan nanokomposit berbasis nanokarbon, tutur Rike, mempunyai potensi yang dapat menghasilkan produk yang lebih inovatif dan unggul. Keunggulan karakteristik intrinsik dari carbon nanotube (CNT) adalah mampu melahirkan karakteristik unik seperti sifat elektronik, optik, dan magnetik yang tidak ditemukan pada nanoselulosa.

Menurutnya, bioselulosa mempunyai potensi besar yang dapat dimanfaatkan sebagai kemasan yang ramah lingkungan sebagai upaya mengatasi permasalahan sampah plastik yang tidak dapat didegradasi secara alami. Sedangkan nanokomposit CNT merupakan material fotokatalis dan pendukung elektrokatalis yang dapat digunakan sebagai pengganti carbon black pada sel bahan bakar berbasis polimer.

Rike menjelaskan, selulosa yang mengandung hampir 40% massa karbon keberadaannya melimpah dan sangat berharga dalam memenuhi kebutuhan manusia. “Oleh karena itu selulosa dianggap sebagai sumber bahan baku yang tidak habis-habisnya untuk kebutuhan hidup manusia sebagai produk ramah lingkungan dan biokompatibel,” jelasnya.

Sedangkan CNT, tambahnya, mempunyai karakteristik konduktivitas listrik lebih tinggi ketimbang tembaga, konduktivitas panas yang lebih tinggi daripada berlian, data tahan temperatur tinggi, lebih ringan daripada aluminium, sifat elektronik dapat diatur, keras, dan kuat. CNT diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan teknologi nano dan menjadi terobosan di bidang ilmu material.

“Perkembangan dan pemanfaatan CNT makin banyak digunakan sebagai material fungsional energi dan lingkungan seperti elektrokatalis, elektroda, fotokatalis, hydrogen storage, dan lain-lain,” lanjutnya.

Adapun peluang pemanfaatan nanoselulosa sebagai bagian dari perkembangan teknologi nano di Indonesia, lanjut Rike, sangat besar mengingat keberadaan Indonesia sebagai salah satu negara dengan megabiodiversitas dunia dan populasi sebesar 270 juta jiwa menjadi modal untuk pengembangan teknologi nano berbasis sumber daya alam. Saat ini, sumber daya alam yang melimpah di Indonesia menjadikan negara ini hanya sebagai penyuplai bahan mentah dengan nilai rendah dibandingkan dengan bahan yang telah melalui proses pengolahan yang memberikan nilai tambah dan nilai ekonomis tinggi.

“Oleh karena itu, peran riset dan inovasi bagi perkembangan teknologi proses dan pengolahan menjadi hal yang cukup penting,” ujarnya.

Dikatakan Rike, pengembangan nanokomposit berbasis nanoselulosa dan nanokarbon telah berhasil memberikan kontribusi signifikan terhadap karakteristik nanokomposit sebagai material fungsional. Modifikasi permukaan nanoselulosa dan bioselulosa telah menunjukkan adanya potensi nanokomposit untuk dijadikan bahan alternatif kemasan ramah lingkungan.

“Melalui teknologi proses yang tepat, nanokomposit berbasis nanokarbon dari CNT telah mengindikasikan material fungsional yang berfungsi sebagai material support elektro katalis dan fotokatalis,” pungkasnya (pur).

Sebarkan