Jakarta – Humas BRIN, Indonesia perlu meningkatkan daya saing dan kemandirian industri melalui pemanfaatan teknologi dalam rangka memperkuat kemandirian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan daya saing dan kemandirian industri dalam negeri terus dilakukan pemerintah dengan mengembangkan kemampuan teknologi, diantaranya untuk menunjang ketahanan pangan, energi, transportasi, dan manufaktur.

“Kebijakan peningkatan teknologi dan industri nasional secara berkelanjutan selalu diawali dengan evaluasi yang menyeluruh atas kemampuan dan status penerapan teknologi di berbagai bidang. Dalam rangka mengevaluasi kemampuan teknologi industri nasional, perlu dilakukan suatu audit teknologi yang diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk pengembangan industri nasional tersebut,” jelas Plt. Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi Arwanto, saat membuka acara Temu Mitra Audit Teknologi, Rabu (15/12).

Mengacu pada Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, khususnya Pasal 25 dijelaskan bahwa audit teknologi dilakukan terhadap teknologi yang bersifat strategis. Tujuan dari audit teknologi antara lain adalah performance improvement, planning, compliance, prevention, investigation, dan positioning.

“Maksud dari kegiatan ini adalah untuk melakukan pertemuan dengan calon Mitra industri yang berada di Kawasan Jababeka agar terjalin komunikasi dan pemahaman terkait kegiatan audit teknologi serta menangkap kebutuhan calon mitra industri terkait audit teknologi dan pemanfaatan hasil riset inovasi teknologi dari BRIN,” tambah Arwanto.

Agung Wicaksono, selaku Managing Director PT Jababeka Infrastruktur menerangkan melalui kawasan industri Jababeka dengan sekitar 2000 tenant, dengan human capital dan pusat inovasi yang telah tersedia berharap mampu menjadikan Jababeka seperti Silicon Valley. Melalui kolaborasi bersama President University, Jababeka Infrastruktur telah membentuk unit tempat inovasi bernama Fabrication Laboratory (Fab Lab).

“Di Fab Lab ini bertemu masalah dan isu yang perlu diselesaikan di industri atau perusahaan (tenant), dilakukan penelitian mencari ide potensi solusi sehingga bisa nantinya dihasilkan sebuah inovasi. Oleh karena itu, dapat dilihat potensi nyata kolaborasi dan kerja sama antara Jababeka dengan BRIN, untuk dapat memanfaatkan inovasi teknologi yang ada bersama rekan industri lainnya,” terang Agung Wicaksono.

Melalui audit teknologi ini diharapkan dapat terlihat peluang dan kesempatan untuk menemukan solusi dan inovasi yang membawa kemajuan bersama. “Kami di Jabebaka sangat menyambut baik pertemuan ini, mimpi besar kita menjadikan Indonesia maju dan unggul dari inovasi dapat terlaksana dengan baik,” lanjut Agung Wicaksono.

Sebagai informasi kegiatan pertemuan yang dilaksanakan selama dua hari (15-16 Desember) ini, melibatkan berbagai Industri di Jababeka, Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), dan Klien Audit yang sudah mendapatkan manfaat audit teknologi serta para Inventor BRIN. Selain itu dilakukan pula penjaringan aspirasi dari industri terkait kebutuhan akan pemanfaatan hasil kegiatan riset dan inovasi serta kebutuhan industri terkait audit teknologi.

Didapatkan hasil sebanyak 88% tertarik dengan audit teknologi dan 7 diantaranya berminat untuk dilakukan audit teknologi dengan kebutuhan audit yang jelas dan spesifik, diantaranya PT Jababeka Infrastruktur (Pengelola Kawasan), PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (Home Appliances and Medical Equipment), Fabrication Laboratory Jababeka, PT Yamamura Utama Indoplas (kemasan plastik), PT Astech Indonesia (manufaktur Fiber Reinforced Plastic), PT Greenie Alam Indonesia, dan PT Tesena Inovindo (Industri Alat Kesehatan).

Sebarkan