Yogyakarta, Humas BRIN. Adanya penggabungan beberapa institusi besar se-Indonesia seperti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) beserta Balai Arkeologi (Balar), Pusat Khasanah dari Kementerian Agama, Pusat Bahasa dan Kantor Bahasa dari Badan Bahasa, maka riset-riset yang berada di bidang arkeologi, bahasa dan sastra, serta keagamaan dapat  lebih berkembang. Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala OR Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN Herry Jogaswara dalam Diskusi Epigrafi Nusantara Ke-30 Edisi Khusus Kolaborasi Epigrafi-Arkeologi yang diselenggarakan Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) Komda DIY di Situs Ratu Boko, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (25/3) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Herry memperkenalkan BRIN dengan langgam kegiatan yang sudah berubah. “Saya kira epigrafi ini satu hal yang pasti sangat terkait dengan beberapa Pusat Riset yang ada di BRIN,” katanya.

Ia menekankan fungsi penting BRIN sebagai lembaga riset. “Ini saya kira menjadi hal penting, jika sebelumya masyarakat langsung datang ke Balar untuk meminta bantuan dibacakan prasastinya, diidentifikasi temuan-temuannya, akan tetapi karena sekarang balar sudah tergabung menjadi lembaga riset, maka semuanya fokus kepada riset, mulai menggali data, menganalisis, dan menulis menjadi karya tulis ilmiah bereputasi tinggi,” ungkap Herry.

Lantas bagaimana dengan layanan non-riset? “Kalau ada pertanyaan, bagaimana kalau masyarakat masih membutuhkan? Jangan lupa masih ada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) yang mungkin tahun ini akan bergabung menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), jadi nanti ada fungsi itu, pasti peneliti BRIN akan siap membantu apa yang dikerjakan seperti sekarang,” tambahnya.

Herry berharap kedepannya akan banyak berinteraksi dalam hal riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra. “Kami akan membuat dua Rumah Program yaitu Rumah Program Peradaban Nusantara dan Rumah Program Identitas Kebangsaan. Nantinya ketika Rumah Program ini sudah didanai, maka ini adalah Rumah Program yang terbuka bagi siapapun periset yang ada di dalam OR Arkeologi, Bahasa, dan Sastra,” tegasnya.

Menurutnya, semua entitas dari perguruan tinggi juga dapat berkolaborasi dengan peneliti BRIN. “Pada dasarnya ketika ada call for proposal, ini merupakan kegiatan riset yang lintas berbagai ilmu,” imbuh Herry.

Bagi BRIN, perguruan tinggi dan organisasi profesi adalah mitra kolaborasi penting. “Perguruan tinggi maupun organisasi profesi adalah merupakan mitra penting kami dalam membangun jejaring riset yang melibatkan para pihak, sebab di BRIN riset menjadi open source, sudah tidak ada lagi riset itu hanya untuk orang BRIN,” terangnya.

Selain kolaborasi riset, BRIN memiliki program pengembangan domain publik dalam proses produksi pengetahuan. “BRIN melalui program bernama Manajemen Talenta dan Akuisisi Pengetahuan Lokal, mengajak kepada siapapun yang punya karya tulis, video, dan sebagainya untuk bisa diakuisisi,” jelas Herry. Menurutnya, akuisisi dalam konteks ini artinya adalah hak ciptanya dibeli oleh BRIN dan kemudian akan menjadi domain publik. Karya akan disebarkan secara digital, gratis, dan dapat diakses secara terbuka. “Saya kira yang paling relevan dengan Arkeologi, Bahasa, dan Sastra maupun dengan PAEI adalah produksi pengetahuan nantinya melalui akuisisi pengetahuan lokal,” pungkasnya.

Lebih lanjut, tantangan riset bidang Arkeologi ke depan sangat dinamis. Plt. Kepala Pusat Riset Akeometri BRIN Sofwan Noerwidi mengatakan, Arkeometri adalah salah satu cabang dari arkeologi yang menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu sains seperti ilmu kebumian, biologi, fisika, kimia, teknik, dan lainnya untuk merekonstruksi peradaban masa lampau. “Diharapkan ke depannya riset-riset arkeometri di BRIN dapat mengembangkan berbagai pendekatan untuk mencari alternatif solusi atau jawaban atas berbagai persoalan arkeologi, sehingga tidak terjadi stagnasi dalam interpretasi maupun merekonstruksi sejarah peradaban Indonesia,” papar Sofwan. (ksa mn)

Sebarkan