Jakarta – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah mengenalkan teknologi pengolahan produk pasca panen untuk menjawab permasalahan yang sering dihadapi masyarakat. Pengenalan teknologi ini dilaksanakan secara daring, Kamis (16/06).

Plt. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah, Wihatmoko Waskitoaji mengatakan, kegiatan diseminasi ini menjadi hal yang penting untuk mengenalkan teknologi hasil riset BRIN kepada masyarakat. Salah satu teknologi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah teknologi pengolahan produk pasca panen.

Pengenalan teknologi yang bertajuk Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah mengusung tema Penguatan Ekosistem Hortikultura. “Tema ini sangat cocok untuk diseminasi teknologi mengingat kebutuhan daerah yang saat ini diperlukan adalah pengolahan produk pasca panen,” kata Wihatmoko.

Wihatmoko menyadari bahwa teknologi yang dikenalkan saat ini belum bisa menjawab keseluruhan permasalahan di daerah. Namun ia berharap hal ini menjadi jalan pembuka untuk berkolaborasi antara BRIN dengan pemerintah daerah dalam pengembangan teknologi.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Puji Lestari yang menjadi salah satu narasumber pada kegiatan diseminasi mengatakan, Indonesia memiliki tanah yang subur dengan kekayaan alam yang melimpah khususnya terkait tanaman pangan. Kendati demikian, banyak produk hortikultura yang terbuang menjadi sampah sebagai akibat dari kurang baiknya pengelolaan produk pasca panen.

“Berdasarkan data, bahwa makanan yang diproduksi namun terbuang sia-sia dan menjadi sampah telah menempati lahan seluas 30% dari lahan pertanian dunia. Hal ini dapat diartikan bahwa untuk memproduksi makanan tersebut dibutuhkan setidaknya 1,4 miliar hektar tanah pertanian,” ujar Puji.

Permasalahan ini banyak dihadapi oleh masyarakat Indonesia, dan perlu segera mendapatkan penanganan yang baik. Untuk mencari solusi atas permasalahan ini, BRIN sebagai lembaga riset tidak mungkin dapat menyelesaikan sendiri.

“BRIN tidak mungkin dapat menyelesaikan persoalan ini sendiri, namun harus bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah pusat dan daerah,” ujar Puji.

Apabila dilihat dari ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan terus meningkatnya kebutuhan pangan, menurut Puji, Indonesia mempunyai peluang besar untuk menguasai pasar hortikultura di internasional. Untuk mewujudkan hal itu, tantangan yang harus dihadapi diantaranya perlu meningkatkan kemampuan teknologi pasca panen dan percepatan teknologi transportasi yang canggih serta pertumbuhan teknologi informasi.

Selain itu, dijelaskan Puji, terkait produk hortikultura banyak permasalahan yang harus diatasi agar kualitas dan kuantitas produk dapat terjaga. Permasalah utama dari produk hortikultura yakni umur simpan produk hortikultura yang pendek. 

“Karena produk hortikultura ini cepat membusuk, sehingga para eksportir memilih alat transportasi udara untuk mengirimnya, hal inilah yang menyebabkan biaya mahal komoditas ekspor sehingga kurang kompetitif,” tambah puji. 

Untuk mengatasi hal itu, BRIN melakukan berbagai riset terkait penanganan pangan dan produk segar pertanian. Riset ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil, meningkatkan umur simpan produk hortikultura, dan pengurangan kehilangan produk hortikultura.

Selain itu menurut Puji, yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan permasalahan pasca panen produk hortikultura adalah  adanya sistem dan manajemen agroindustri yang baik. Hal ini bila dilakukan dengan baik akan berdampak pada efisiensi sistem produksi agroindustri.

Kepala Pusat Riset Agroindustri, Mulyana Hadipermata sebagai narasumber kedua pada kegiatan diseminasi ini menyampaikan, teknologi penyimpanan segar buah tropis dengan aplikasi coating dari produk turunan minyak sawit. Teknologi ini selain mampu memperpanjang umur penyimpanan juga ramah lingkungan.

Salah satu buah segar yang dijadikan objek penelitian Mulyana adalah buah mangga. Menurutnya, pada tahun 2017, produksi mangga di Indonesia mencapai 2,2 juta ton, namun yang diekspor pada tahun 2016  hanya 473 ton.

“Banyak kendala yang dihadapi kenapa ekspor kita tidak bisa banyak, salah satunya adalah dikarenakan adanya lalat buah pada produk yang akan diekspor,” kata Mulyana.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Mulyana menawarkan teknologi coating atau pelapisan dengan menggunakan turunan minyak sawit pada buah mangga setelah dipanen. Teknologi ini jauh lebih murah ketimbang teknologi yang ditawarkan dari luar negeri.

“Biaya coating dengan formula turunan minyak sawit ini sangat murah yaitu 300 rupiah untuk satu kilogram mangga,” lanjutnya.

Dijelaskan Mulyana, coating ini bertujuan untuk menahan laju respirasi pada buah yakni mempertahankan kesegaran dan mencegah susut bobot dari buah tersebut. Teknologi ini tidak hanya dapat diaplikasikan pada buah mangga saja tapi juga dapat untuk buah yang lain, tentunya dengan memperhatikan berbagai pertimbangan, seperti efisiensi dan keekonomiannya.

Teknologi ini diklaim mempunyai banyak keunggulan diantaranya bahan yang digunakan dipastikan 100% merupakan bahan lokal. Dengan demikian untuk mengaplikasikan teknologi ini tidak perlu tergantung dari produk luar negeri.

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah proses pembuatannya yang mudah dan harga bahan bakunya terjangkau. “Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa bahan yang digunakan untuk coating ini tidak berbahaya bila termakan manusia, jadi tidak perlu khawatir,” pungkasnya. (pur)

Sebarkan