Bogor – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan bekerja sama dengan pihak swasta untuk memperbaiki pengelolaan koleksi galur ulat sutra dan komersialisasi hasil riset dari penelitian ulat sutra. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN Iman Hidayat saat meninjau Laboratorium Persuteraan Alam BLI di Bogor, Kamis (07/04).

“Persuteraan alam memilki potensi besar untuk komersialisasi hasil risetnya, mulai strain atau galurnya, varietas murbey, sampai kompong ulatnya,” ujar Iman.

Iman melihat terdapat potensi ekonomi yang dihasilkan dari penelitian sutra ini sangat besar selain produk untuk tekstil, juga berupa produk-produk farmasi dan kosmetik. Oleh sebab itu perbaikan manajemen dan strategi riset dan inovasi sutra, mulai dari pengembangan galur unggul, pengelolaan koleksi galurnya sampai komersialisasi produk-produk turunannya merupakan hal mendasar yang harus dilakukan segera supaya hasil riset dan inovasi sutra dapat lebih berdampak bagi berbagai stakeholder terkait secara nasional.

Peneliti Persuteraan Alam Pusat Riset Zoologi Terapan, Lincah Andadari mengatakan selama ini pihaknya hanya fokus pada pelestarian jenis dan hibrid. Sementara hilirisasi sudah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak sehingga menghasilkan beberapa produk seperti teh murbei, kain dan benang sutra, masker sutra. Sayangnya, komersialisasi produk-produk ini masih belum dilakukan secara optimal.

Saat ini galur murni parent stock yang ada di bank plasma Laboratorium Persutraan Alam saat ini sebanyak 57 galur dan koleksi Murbei ada 34 jenis.

Adapun ulat hibrid yang dikomersilkan adalah hibrid BS 09, PS 01, dan SINAR. Sementara yang dibudidayakan masyarakat dan hasilnya bagus yaitu hibrid PS 01.

Sementara vatietas tanaman murbei jenis unggul yaitu SULI 01 mampu menghasilkan biomassa 30 % lebih tinggi dari jenis konvensional (Morus cathayana).

Saat ini, produksi sutra baru mampu menghasilkan produksi 2 ton/tahun dari total kebutuhan sutra nasional sekitar 300 ton/tahun. Sehingga hal ini menjadi tantangan bagi BRIN dan para stakeholder terkait untuk dapat memenuhi potensi kebutuhan tersebut. Tentunya riset dan inovasi sutra akan memegang peranan kunci di dalam industri persutraan alam nasional ini. (add/fhm)

Sebarkan