Jakarta – Humas BRIN. Penyakit hepatitis akut menyedot perhatian dunia di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. Pasalnya, virus hepatitis akut hingga kini belum diketahui sumber penyebabnya (Unknown Aetiology).

Merespon hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait dalam melakukan kegiatan riset. Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh P. Indi Dharmayanti mengatakan, setidaknya ada 9 kegiatan riset yang akan dilakukan BRIN.

“Yang pertama, kami akan melakukan analisis molekuler dan diversitas genetik penyebab hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. Kemudian, dengan kapasitas kami yang memiliki peralatan yang sangat lengkap, kami akan lakukan whole genome sequencing, untuk dapat memahami epidemiologi dan fenotipe hepatitis akut,” ungkap Indi, dalam acara Sapa Media, ‘Mengenal Lebih Jauh Hepatitis Akut’, secara daring, Kamis (12/05).

Pihaknya juga akan melakukan riset metagenomik pada darah dan jaringan, pengembangan perangkat diagnostik, riset deteksi dini dan respons cepat terhadap penyakit hepatik akut, eksplorasi dan pengembangan bahan baku obat dan obat tradisional untuk hepatoprotektor, serta penegakan diagnostik dan pengembangan terapi (termasuk uji klinik obat).

“Seperti halnya kasus Covid, kemungkinan akan ada obat-obatan dari luar yang akan diujikan di Indonesia. Seharusnya BRIN juga terlibat dalam upaya tersebut bersama Kemenkes,” tambahnya.

Selanjutnya riset terkait Multiplex Reverse Transcriptase-PCR for Simultaneous Detection Hepatitis Viruses, dan riset mekanisme silvestrol senyawa alami dalam menghambat replikasi virus hepatitis secara in vitro dan in vivo.

Hingga Selasa, 10 Mei 2022, WHO mengkonfirmasi 348 kasus terduga hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya di 20 negara. Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendarwan, mengatakan, hepatitis akut merupakan kondisi peradangan atau inflamasi akut yang menyerang parenkim atau sel hepatosit pada hati, dengan masa inflamasi atau kerusakan sel hati, yang berlangsung selama kurang dari 6 bulan.

Deteksi Adenovirus

Merujuk data WHO pada 21 April 2022 lalu, terang Harimat, terdapat 169 kasus yang tersebar di 12 negara, di mana Adenovirus terdeteksi pada setidaknya 74 kasus. “Ini yang kemudian menyebabkan kita bertanya-tanya, kasus lainnya apakah betul tidak ada Adenovirus atau tidak terdeteksi dari pemeriksaan yang ada. Sehingga kemudian kita masih belum bisa memastikan apakah Adenovirus terkait erat dengan kejadian hepatitis akut ini,” ucapnya.

Adenovirus merupakan jenis virus yang dapat menyebabkan sakit dari ringan sampai berat. Secara umum dikenal sebagai patogen yang biasanya menyebabkan infeksi yang self-limited.

Virus yang satu ini menyebar dari orang ke orang dan lebih umum menyebabkan penyakit saluran pernapasan. Walaupun tergantung pada jenisnya, dapat juga menyebabkan penyakit lain seperti gastroenteritis (peradangan pada lambung atau usus halus), konjungtivitis (mata merah), sistitis (infeksi kandung kemih), dan bisa juga menyebabkan gangguan saraf (neurological disease).

“Adenovirus cenderung tahan lama pada permukaan dan alcohol-based hand sanitizer tidak bekerja dengan baik menghadapi adenovirus. Artinya, dalam hal pencegahan, kita harus memperhatikan hal-hal seperti ini, yakni mencuci tangan dengan air bersih, melakukan higiene tangan dan respirasi,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Kelompok Riset Hepatitis, Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Korri El Khobar, menerangkan, deteksi virus penyebab hepatitis dapat dilakukan secara serologi dan molekuler. “Deteksi serologi dilakukan untuk menentukan apakah seseorang telah atau pernah terinfeksi dengan cara mendeteksi antibodi spesifik terhadap virus,” kata Korri.

Deteksi serologi dapat dilakukan dengan mendeteksi antibodi atau antigen, dengan metode rapid test, ELISA, atau CLIA, melalui sampel darah, plasma atau serum, dan sampel pernapasan.

Sedangkan deteksi molekuler dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis infeksi virus dengan cara mendeteksi materi genetik virus, melalui metode PCR dan sequencing. Hasil positif dari deteksi molekuler dapat dilanjutkan dengan melakukan proses sequencing untuk mendapatkan sekuens virus tersebut.

“Analisis sekuens virus dapat dilakukan untuk mengidentifikasi jenis virus, melakukan karakterisasi sekuens virus dengan melihat adanya variasi pada sekuens, melakukan analisis kekerabatan virus, dan juga menentukan sebaran epidemiologi virus,” tambah Korri.

Peneliti Pusat Riset Biomedis, Fitriana mengatakan, penegakan diagnosis hepatitis akut unknown hendaknya dilakukan secara seksama dengan mempertimbangkan penyebabnya. Penegakan diagnosis hepatitis akut unknown ini harus dilakukan secara seksama, dengan menimbang berbagai penyebab hepatitis, seperti hepatitis virus A, B, C, D, E, yellow fever, leptospirosis, cytomegalovirus (CMV), Eipstein Barr Virus (EBV), adenovirus (normal adenovirus infection atau novel variant adenovirus), infeksi atau sindroma post infeksi SARS-CoV-2 atau varian baru SARS-CoV-2, obat-obatan, toksin, atau pajanan lingkungan, ko-infeksi, dan sebagainya.

“Pemeriksaan biokimia akan memberi andil dalam penelusuran etiologi dan mengubah unknown menjadi known,” pungkasnya (tnt).

#ReformasiBirokrasiBRIN

#ProfesionalOptimisProduktif

Sebarkan