Tangerang Selatan – Humas BRIN. Perkembangan teknologi sistem informasi dibutuhkan untuk menjawab tantangan dan permasalahan di bidang kesehatan. Perlu adanya inovasi sistem informasi kesehatan akan menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan terkait.

SRIKANDI (Sistem Rekam Uji Klinis Andalan Indonesia), aplikasi berbasis web yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan didukung ahli dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Platform ini bertujuan untuk menjawab permasalahan melalui Multi Center Clinical Trial (MCCT) yang mendukung manajemen dan pengolahan data uji klinis.

Dalam rangka memperluas pemanfaatan aplikasi SRIKANDI tersebut, BRIN dan PT Biosains Medika Indonesia (Biosm Indonesia) melakukan penandatanganan lisensi dalam Forum Fasilitasi Alih Teknologi (FFAT), Kawasan Sains Teknologi Serpong, Rabu (15/6). PT Biosains Medika Indonesia merupakan perusahaan PMDN yang mempunyai visi untuk memajukan sektor riset dan pengembangan industri di dalam negeri.

“Lisensi aplikasi ini adalah terobosan baru, produk lisensi dari hak cipta, bukan dari paten seperti yang terdahulu. Saat ini hak cipta bisa diakui oleh pemerintah bisa dibayarkan royaltinya kepada periset, baik riset pengembangan dan inovasi,” jelas Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informasika (OREI) BRIN, Budi Prawara.

Dirinya mengungkapkan bahwa hal ini menjadi peluang untuk para periset, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi. “Bagi mereka yang melakukan riset dalam pengembangan, bisa dilisensikan prosesnya, difasilitasi oleh Direktorat Alih dan Sistem Audit Teknologi di bawah Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi,” lanjutnya.

Budi berharap agar semakin banyak inovasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk software atau piranti lunak. “Dengan adanya lisensi ini, kita bisa melisensikan hak cipta, karena peluang pasar aplikasi ini bukan hanya di indonesia saja, tetapi bisa di pasar global,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, mitra kerja sama lisensi BRIN, Direktur PT Biosains Medika Indonesia, Rifan Ahmad, menyampaikan ketertarikannya untuk melakukan komersialisasi hasil riset BRIN.

“Di Indonesia untuk uji klinis saat ini terbatas, masih tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara. Kami melihat tren ke depannya akan naik. Untuk uji klinis ini diperlukan sistem informasi untuk mendukung MCCT. Ternyata pas dengan yang diciptakan oleh BRIN. Jadi PT Biosains Medika Indonesia tertarik untuk menjadi mitra komersial BRIN. Nanti kami akan menawarkan kepada pihak-pihak yang ingin melakukan uji klinis, khususnya perusahaan farmasi, dengan harapan bisa membantu Indonesia,” ucap Rifan.

Dikatakan olehnya pertimbangan memilih menggunakan SRIKANDI untuk kepentingan keamanan data Indonesia. “Eksisting vendor saat ini memakai software dari luar negeri, yang bila datanya disimpan di luar negeri ada kemungkinan datanya diintip oleh pihak lain,” tuturnya.

“Menurut saya kalau Indonesia bisa, mengapa tidak orang Indonesia saja yang mengelola sendiri. Dari sisi keamanan data dan komersial lebih baik, karena perputaran uangnya untuk memajukan dalam negeri, sesuai dengan spirit pemerintah agar lebih mandiri dan meningkatkan TKDN (tingkat komponen dalam negeri),” ungkap Rifan.

Lisensi Hak Cipta

Kepala Pusat Riset Komputasi sekaligus sebagai pelopor aplikasi SRIKANDI, Rifki Sadikin, mengatakan bahwa lisensi dengan PT Biosains Medika untuk penggunaan uji klinis ini, seperti berlangganan software. Sementara untuk pengembangan modul besar ke depannya yang dibangun bersama sistem kepemilikannya bersama sesuai perjanjian kerja sama.

“Sistem dalam SRIKANDI sebetulnya sudah mature, tapi masih ada yang perlu dikembangkan lagi. Lisensi ini sesuai dengan visi BRIN untuk melibatkan di sektor swasta, karena kita tidak bisa riset sendiri di Indonesia,” kata Rifki.

Ia berujar bahwa ada keinginan bahwa Indonesia bisa menjadi pemain internasional untuk manajemen data riset. Hal ini berdasarkan progres SRIKANDI yang kian meningkat.

“SRIKANDI awalnya pada tahun 2020 kami kembangkan dari scratch atau kosongan oleh Pusat Informatika, dibantu programmer dari Pusdatin untuk program dari Kemenristek dan LPDP. Sistem ini dibutuhkan karena ada permintaan uji klinis terkait Covid-19,” terangnya.

Menurut Rifki, software pasti terus berkembang, sehingga selama jangka waktu lisensi SRIKANDI ini, bisa dilakukan kegiatan riset dan pengembangan bersama antara BRIN dan mitra. “Dalam kegiatan ini memakai infrastruktur BRIN. Proses bisnisnya mengacu pakar uji klinis dari IDI, protokol uji klinis, regulasi ketat dari BPOM, dan integritas data,” jelasnya.

Lebih lanjut Rifki menjelaskan aplikasi ini bisa disesuaikan untuk uji klinis apa pun, form bisa disesuaikan desainnya, meski untuk analisis memang masih terpisah. “Harapannya kita bisa memberikan solusi yang komplit terkait uji klinis untuk klien,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Rifan menjabarkan bahwa PT Biosains Medika Indonesia akan berupaya memenuhi kebutuhan konsumen.

“Pengguna kami harapkan dari industri farmasi, karena mereka membutuhkan uji klinis sebelum memasarkan obatnya. Sejauh ini sudah ada konsumen yang tertarik, namun memang tertunda karena proses lisensi ini tahapannya cukup panjang sejak awal tahun.

Saya optimis bisa fokus melayani bangsa ini dan kemudian baru setelah kita percaya diri, kita bisa melayani pasar luar negeri,” pungkasnya. (adl)

Sebarkan