Bandung – Humas BRIN. Kehadiran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merupakan wujud aksi pemerintah untuk mengoptimalkan dan menyinergikan potensi riset dan inovasi di Indonesia. BRIN mendorong perubahan bagi ekosistem riset agar berbasis kompetensi dan juga kolaborasi melalui optimaliasi sumber daya manusia, infrastruktur, dan program riset.

Salah satu fokus program riset dan inovasi BRIN adalah blue economy. Suatu konsep pemanfaatan berkelanjutan sumber daya laut yang tidak hanya terkait eksploitasi tapi juga terkait konservasi dan reservasi untuk regenerasi lingkungan ke depan.

“Artinya memanfaatkan sekarang tapi tidak melupakan untuk generasi berikutnya. Secara sederhana seperti itu,” tutur Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian, Ocky Karna Radjasa, Kamis (11/11/2021), pada tayangan program CNN Tech Talk.

Ocky mencontohkan dimana salah satu kendala yang dialami dalam pengelolaan sumber daya laut di Indonesia adalah overfishing, dimana 38% ikan yang ditangkap melebihi kemampuan ekosistem untuk mengembalikan jumlah tersebut ke alam. Ada pula kerusakan terumbu karang yang begitu besar manfaatnya bagi masyarakat pesisir, dan di masa pandemi ini limbah plastik yang kian menggunung.

BRIN mendorong blue economy tidak hanya sebagai upaya memperbaiki ekosistem tapi juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di sekitarnya. “Misalkan, kita melakukan konservasi dan rehabilitasi mangrove di Pulau Pari. Di satu sisi akan meningkatkan jumlah tangkapan karena itu merupakan tempat berkembang biak ikan sekaligus memanfaatkan konservasi dan rehabilitasi mangrove sebagai objek eco-wisata,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat BRIN akan melaksanakan program Satu Data Indonesia. Program ini akan menjadi sebuah platform yang bisa dimanfaatkan untuk beragam kepentingan riset darimulai survey ekonomi, demografi, pengukuran perubahan suhu air laut, hingga data pencemaran. Artinya BRIN akan memegang peranan penting dalam memberikan masukan bagi kementerian/lembaga maupun swasta terkait tema/isu tertentu berdasarkan program Satu Data Indonesia.

“Akan ada 2 deputi yang khusus secara penuh ditugaskan terkait kebijakan pembangunan dan kebijakan riset dan inovasi,” katanya.

Sementara itu terkait kontribusi Indonesia dalam The Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP), Ocky memastikan bahwa pemerintah telah mengambil langkah nyata untuk menjaga kelestarian sumber daya laut dan pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam program COREMAP yang telah dimulai pada Tahun 2017 sampai 2022, BRIN memanfaatkan dana yang diamantkan untuk tiga hal: pertama, penguatan kelembagaan pemantauan pesisir sehingga pemantauan ekosistem seperti bakau, terumbu karang, dan padang lamun bisa berlangsung secara berkesinambungan, kedua, persiapan riset terkait dengan ekosistem pesisir sehingga akan lebih banyak suatu kebijakan dihasilkan berdasarkan kajian ilmiah, dan ketiga, penguatan kapasitas kelembagaan melalui pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia.

“Secara utuh kurang lebih kita seperti itu mempersiapkan program COREMAPT dalam rangka menunjang pembangunan kelautan di Indonesia,” ujarnya.

Adapun beberapa fasilitas infrastruktur riset seperti laboratorium yang tengah BRIN bangun adalah Pusat Data Ekosistem di Ancol, Pusat Penelitian di Pulau Pari, dan fasilitas Bio Industri laut di Lombok, serta fasilitas Laut Dalam di Ambon. BRIN juga telah bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi untuk menghadirkan tempat uji kompetensi. Upaya ini sangat relevan dengan visi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam menyelenggarakan program Kampus Merdeka.

Berkenaan dengan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), Ocky menegaskan bahwa riset pada bidang energi adalah satu satu fokus pada program prioritas riset nasional 2020-2024. Ia menerangkan berbagai potensi sumber energi alternatif yang berasal yang berasal dari laut dan lebih ramah lingkungan seperti: Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), methane hydrate, energi gelombang, energi arus, dan lain lain. “Ini akan mendapatkan prioritas termasuk ketika pendanaan baik secara kompetisi maupun penugasan,” tuturnya.

Ocky juga menegaskan prasetia Indonesia pada program PBB: Decade of Ocean Science for Sustainable Development. Sebuah program yang diluncurkan Tahun 2017 oleh PBB sebagai bentuk pernyataan komitmen pengembangan ilmu kelautan untuk pengembangan berkelanjutan.Ada 7 hal yang dicanangkan dalam program tersebut yaitu, an inspiring and engaging ocean, a predicted ocean, a clean ocean, a healthy and resilient ocean, a safe ocean, an accessible ocean, dan a productive ocean. Ocky mengatakan Indonesia sudah secara tidak langsung mendukung pencanangan-pencanangan tersebut. Misalnya dengan mendorong riset menjadi dasar pengambilan kebijakan terkait Ocean Decade. “Karena ini modal dan investasi luar biasa kalau kita bisa memanfaatkan data-data kelautan secara berkelanjutan,” teguhnya.

Ocky yakin kehadiran BRIN bisa menjadi solusi kendala-kendala riset yang selama ini ada di Indonesia. Problematika riset seperti program riset yang tumpang tindih, pendanaan dan anggaran rsiet yang tidak mencukupi karena terpecah di berbagai kantong penelitian, hingga sumber daya manusia yang tidak merata dan berada di berbagai kementerian dan LPNK akan secara berkesinambungan diselesaikan dengan kehadiran BRIN. Menurut Ocky, satu hal yang diperlukan ialah mengubah paradigma ekonomi yang awalnya berbasis sumber daya menjadi berbasis inovasi. “Kita berharap betul peran BRIN akan semakin nyata sebagai enabler dan memberikan fasilitas riset termasuk bidang kelautan sehingga bisa menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang kondusif,” jelasnya.

Dalam wawancara yang dipandu oleh Diana Dwika ini Ocky juga membeberkan beberapa strategi yang akan diterapkan oleh BRIN seperti fasilitasi wajib serah dan simpan data primer ilmiah, pengelolaan bagi hasil dana abadi riset, manajemen talenta nasional khususnya di bidang riset dan inovasi, serta infrastruktur riset yang terbuka bagi semua pelaku riset baik peneliti, akademisi, komunitas, hingga pelaku usaha. Organisasi Riset di BRIN akan mendapatkan tugas untuk mengelola rumah program. Ini adalah suatu program riset yang keluarannya dikunci dalam bentuk generic dan harus lintas OR. “Artinya, pelaku riset nanti bisa memanfaatkan semua infrastruktur terbuka kami. Baik SDM maupun fasilitas riset yang tersebar hampir di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” pungkasnya. (AS)

Sebarkan