Jakarta – Humas, BRIN, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Presidensi G20. Dengan tema Recover Together, Recover Stronger, transisi energi hijau berkelanjutan menjadi salah satu fokus utama dalam perhelatan internasional tersebut, sebagai upaya bersama mengurangi emisi karbon.

Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, telah berkomitmen untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) yang terangkum dalam target Paris Agreement. Selain itu, skenario NZE di tingkat nasional juga dilaksanakan atas dasar komitmen sektor energi yang dituangkan ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), yang menargetkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Isu energi dan lingkungan merupakan dua hal yang berkaitan erat. Sektor industri dan transportasi diklaim menjadi penyumbang emisi terbesar, khususnya di Indonesia. Karena itulah, penguasaan teknologi terutama yang berkaitan dengan pengembangan teknologi energi terus didorong untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepan. Riset dan inovasi di bidang EBT sangat dibutuhkan untuk mendukung Pembangunan Ekonomi Menuju Indonesia Maju 2045. Berbagai riset dan inovasi terkait energi sudah dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam mewujudkan Indonesia menuju NZE, diantaranya riset Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), bioetanol, teknologi fuel cell dan hidrogen.

Potensi Energi Panas Bumi dan Nuklir untuk Terangi Negeri

Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) nasional mencapai 23,9 giga watt (GW). Angka ini menyumbang 40 persen potensi PLTP di dunia. Namun hingga saat ini, di Indonesia, potensi yang dimanfaatkan baru sebesar 2.276 MW atau sekitar 9,5 persen, sebagian besar komponen PLTP pun masih impor.

Penelitian terkait PLTP telah dilakukan BRIN melalui pengembangan PLTP modular. Pemilihan PLTP modular salah satunya mempertimbangkan potensi panas bumi di Indonesia hingga 50 MW atau hampir 35 persen tersebar di wilayah Indonesia timur.

“Lokasi panas bumi kebanyakan di daerah terpencil yang beban listriknya tidak terlalu tinggi,” ungkap Plh. Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi BRIN, Cahyadi.

Desain PLTP Modular ini merupakan pengembangan atau lesson learned dari 2 jenis PLTP riset sebelumnya, yaitu PLTP 3MW condensing di Kamojang dan PLTP 500kW siklus biner di Lahendong.

Investasi produk PLTP juga menjadi pertimbangan. Pengembangan PLTP Modular diharapkan dapat kompetitif berdasarkan pengalaman pengembangan PLTP Kamojang dan PLTP Lahendong.

PLTP Modular, didesain dengan konsep tapak lebih ringkas, mobilisasi dan instalasi cepat, dan fleksibel ditempatkan pada kepala sumur dimanapun. Kapasitas sesuai potensi sumur sekitar 3 hingga 5 MW, cepat menghasilkan listrik begitu sumur siap diproduksi, dan modul PLTP dapat digeser dari sumur yang sudah tidak ekonomis ke sumur yang masih produktif.

“Kami telah melakukan feasibility study PLTP Modular 2×3 MW di Sibayak – Sumatera Utara. Investasi PLTP diperkirakan mencapai kurang dari 2 juta US dollar per MW sehingga layak dari sisi ekonomis dan teknis,” jelas Cahyadi.

PLTP termasuk teknologi ramah lingkungan dengan emisi CO2 rendah. Jejak karbon pun rendah karena sumber energi tersedia di lokasi dan tidak membutuhkan sumber bahan bakar yang perlu usaha produksi yang menghasilkan karbon.

Selain energi panas bumi, energi nuklir juga masuk ke dalam kelompok EBT. Dalam Undang-undang Energi No. 30 Tahun 2007 disebutkan bahwa energi nuklir termasuk dalam kelompok energi baru. Perencanaan pembangunan PLTN sebenarnya sudah digaungkan sejak tahun 1970an. Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia.

“Dulu dinamakan science technology based, yaitu teknologi-teknologi yang dibangun untuk mempersiapkan pembangunan dan pengoperasian PLTN,” kata Pengembang Teknologi Nuklir Utama BRIN, Suparman.

Para periset kita juga sudah menguasai teknologi, mulai dari penambangan bahan uranium, teknologi bahan bakar, teknologi reaktor hingga teknologi pengelolaan limbah nuklir. Begitu pula dari sisi penyiapan tapak PLTN telah selesai dilakukan studi kelayakan tapak di Jepara dan Bangka Belitung. Sedangkan atas permintaan pemerintah Kalimantan Barat, dilakukan studi tapak yang berlokasi di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Sumber daya manusia juga telah disiapkan dengan adanya kampus-kampus yang mencetak lulusan-lulusan teknik nuklir seperti UGM, ITB, dan Poltek Nuklir BRIN.

Pada studi PLTN yang berlokasi di Kalbar, jelas Suparman, dibagi dalam 3 kelompok besar studi, yaitu studi kelayakan, penguasaan teknologi, dan kegiatan pendukung. Studi kelayakan, meliputi antara lain studi keekonomian, pendanaan, dampak ekonomi, jaringan listrik, aspek manajemen, penyiapan SDM, dan tapak. Penguasaan teknologi berfokus pada teknologi PLTN tipe Reaktor Air Tekan (Pressurized Water Reactor). Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan sosialisasi, edukasi, pemetaan pemangku kepentingan, termasuk riset bagaimana penerimaan masyarakat.

Menurutnya, perlu komitmen pemerintah untuk memutuskan dan menetapkan pembangunan PLTN, agar riset dan penguasaan teknologi yang telah dilakukan dapat mendukung pemerintah menuju NZE. Komitmen ini, perlu diwujudkan dengan pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO), organisasi yang mengoordinasikan program PLTN.

“Berbagai aspek kita sudah siap untuk membangun PLTN. Penguasaan teknologi kita sudah mampu, tinggal mempraktikkannya saja,” ucap Suparman (tnt).

Sebarkan