LOMBOK, Humas BRIN. Riset dan inovasi dibutuhkan dalam mengeksplorasi kekayaan laut Indonesia. “Bukan lagi berjualan bahan mentah, tetapi ke depan kita harus menciptakan sesuatu yang ada nilai tambahnya,” tegas Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko dalam peresmian Gedung Balai Bio Industri Laut (BBIL), di Lombok (3/11).

Ia menambahkan, lepas dari besar kecilnya pembiayaan, harus benar-benar dimanfaatkan untuk bio industri laut.
 
Handoko menyebutkan, hampir seluruh wilayah kampus BRIN saat ini sedang menjalankan proses pembangunan. “Ada di Subang, Jakarta, Cibinong, Bandung, Jogja, tahun depan di Lampung, dan Ambon. Demikian juga dengan BBIL ini,” terangnya.

“BBIL menjadi platform infrastruktur riset terbuka. Untuk itu, siapapun yang melakukan riset dan inovasi berkaitan dengan Industri laut harus datang ke sini. BBIL bukan hanya untuk periset Indonesia, tetapi juga global,” tuturnya.
 
BRIN saat ini telah memiliki 11.600 pegawai, dan masih akan bertambah dari unsur CPNS dan para periset dari berbagai kementerian dan lembaga yang akan diproses per 1 Januari 2022. Untuk itu, menurut Handoko, akan ada 2-3 lokasi yang akan disiapkan khusus untuk pusat riset bio industri laut, termasuk juga perisetnya dengan standar minimal S3.
 
Handoko mengungkapkan, BRIN sangat mendorong BRIDA di daerah, yang mungkin bisa dimasukkan dalam unit di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA). “Kami siap menerima masukan karena kami wajib memberikan rekomendasi ilmiah. Untuk itu, kami akan menyiapkan guidance bersama Kementerian Dalam Negeri.
 
Bupati Lombok Utara, Djohan Syamsu mengungkapkan, dengan penempatan BBIL di lokasi ini cukup baik bagi masa depan kita. “Harapan saya, hasil riset dapat diketahui masyarakat dan bisa melihat hasil riset tapa saja yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan, terutama bagi UMKM dan siswa sekolah,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat, Lalu Gita Ariadi berharap kehadiran BBIL dapat memperkuat branding destinasi eduwisata propinsi berbasis maritim yang berkelas. Selain itu, ia juga berharap adanya pemanfaatan science, policy, dan society yang saling mendukung. “Kita akrab dengan potensi laut yang kita miliki. Saya berharap akan ada banyak UMKM yang melahirkan produk-produk baru. Dengan demikian UMKM di Lombok Utara khususnya, menjadi lebih hidup,” terangnya.
 
Kepala BBIL Ratih pangestuti menyatakan bahwa bangsa ini lupa akan lautan. “Kita lupa seberapa besar potensi laut kita, betapa kayanya Indonesia yang memiliki 75% wilayah laut. Sudah seharusnya kita jadikan laut sebagai halaman muka kita, sebagai sumberdaya yang bisa kita gali potensinya, membawa kesejahteraan dan pemanfaatan,” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa BBIL terus melakukan riset dan inovasi, berusaha menggapai kebutuhan masyarakat berbasis riset. Salah satunya, BBIL fokus pada rumput laut yang belum banyak dieksploitasi, yaitu selada laut. “Kami kembangkan dengan kearifan lokal dan sumberdaya lokal yang kita miliki. Secara saintifik apa kandungan dan nutrisi di dalamnya, serta bagaimana meningkatkan nilai ekonomisnya. Dari sisi konservasi, kami meningkatkan status tumbuhan dan satwa langka agar tidak mengalami kepunahan,” pungkasnya. (drs)