Yogyakarta – Humas BRIN. Dalam rangka pengembangan ekonomi syariah di Indonesia, pengembangan produk halal merupakan hal yang mendesak dan harus segera dilaksanakan.  Asisten Deputi Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Wakil Presiden Ahmad Lutfi menyebutkan salah satu prioritas program dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) adalah pengembangan atau penciptaan produk halal.

Untuk itu guna melihat secara langsung perkembangan kegiatan riset halal, pihaknya melakukan kunjungan secara langsung ke Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTPP BRIN). PRTPP mendukung riset pangan, salah termasuk riset halal di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Kami berharap agar implementasi sertifikasi makanan dan minuman halal di Indonesia minimal sudah dapat dilakukan, utamanya di tahun 2024 nanti,” ujar Lutfi.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari mengatakan bahwa ke depannya riset halal harus mampu menjadi sebuah industri nasional yang dapat bermanfaat bagi umat, baik halal secara substansi maupun sehat secara kualitas. Ia menyampaikan enam Pusat Riset di bawah Organisasi Riset Pertanian dan Pangan yang dipimpinnya, harus dapat bersinergi dan mampu menghasilkan teknologi yang tepat guna, ekonomis, dan dapat diadopsi oleh industri kecil. “Seluruh unsur dari hulu hingga hilir dapat distandarisasi dan semua unsur produk halal dapat terdeteksi secara mudah,” imbuh Puji.

Fasilitas Riset Halal

Upaya percepatan menuju Indonesia sebagai pusat halal dunia di tahun 2024 masih terus diupayakan.  BRIN telah melakukan berbagai riset mengenai makanan halal. Plt. Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN Mego Pinandito menyampaikan bahwa BRIN telah menyediakan laboratorium yang dilengkapi dengan instrumen penelitian canggih guna mendukung riset pangan halal di Indonesia. “Setidaknya terdapat 3 fasilitas riset di BRIN yang digunakan untuk melakukan riset deteksi produk halal yaitu fasilitas riset di Cibinong, Serpong, serta Gunungkidul,” terangnya saat kunjungan ke PRTPP BRIN pada Kamis (17/3) lalu.

Menurutnya, saat ini banyak industri dari luar negeri yang mengincar pasar Indonesia. “Kita harus dapat menciptakan metode jaminan halal dan mendorong UMKM bisa mendapatkan sertifikat halal tersebut, agar produknya dapat menembus pasar domestik dan internasional,” ujarnya optimis. Ia berharap ke depan proses bisnis riset halal yang sedang dilakukan oleh peneliti di BRIN dapat diperjelas, misalnya dengan menciptakan metode jaminan halal yang nantinya dapat mempermudah UMKM dalam mendapatkan sertifikat halal.

Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Satriyo Krido Wahono menjelaskan bahwa fokus PRTPP dalam riset halal ini adalah melakukan deteksi, subtitusi produk, serta pengembangan produk berbasis laut. Dengan tersedianya fasilitas riset yang baru,. “PRTPP BRIN berpeluang untuk melakukan kegiatan laboratorium yang lebih beragam, sehingga akan banyak menghasilkan prototype produk halal,” ujarnya. Disamping itu, Satriyo menyebutkan, kolaborasi dengan berbagai pihak dalam skema open platform laboratory adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. “Kita dapat berkolaborasi dengan berbagai universitas untuk melakukan kegiatan riset halal ini,” tegasnya.

Tantangan riset halal memang membutuhkan proses. Satryo mengungkap deteksi halal terhadap bahan mentah relatif lebih mudah diketahui hasilnya. Berbeda dengan deteksi terhadap bahan olahan, memerlukan metode yang berbeda dan lebih kompleks karena adanya perubahan struktur bahan tersebut. Tantangan lainnya adalah metode deteksi produk halal yang berlaku saat ini dengan RT-PCR relatif lebih mahal. “Oleh sebab itu, kami sedang berproses untuk menyiapkan metode deteksi produk halal yang lebih murah, cepat, akurat, dan sederhana menuju ke arah rapid test,” pungkasnya. (ky, mn/ ed: drs, aps)

Sebarkan