SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 143/SP/HM/BKPUK/X/2021

(Bogor, 30/09/2021) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan kelima fungsi kebun raya yakni konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan tetap berfungsi secara seimbang dan proporsional. Hal ini disampaikan Plt Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi, Hendrian di Kebun Raya Bogor, Kamis (30/09).

Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran publik kepada pihak pengelola Kebun Raya Bogor  terkait pengembangan atau inovasi wisata malam GLOW di Kebun Raya dapat mengganggu ekosistem, konservasi, dan kepentingan riset. Ia menjamin tidak ada satu fungsi Kebun Raya ini mengalahkan fungsi lainnya.

“Kelima fungsi itu dipastikan berjalan secara seimbang, proporsional, dan berjalan bersamaan. Jadi tidak benar fungsi wisata akan mengalahkan fungsi konservasi,” ujar Hendrian.

Hendrian menuturkan, pengelolaan kebun raya dilakukan oleh tiga pihak yakni Pusat Riset Konservasi Tumbuhan  Kebun Raya untuk mengelola riset dan periset, Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Laboratorium dan Kawasan Sains dan Teknologi untuk mengelola laboratorium riset, dan Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Koleksi dan untuk melakukan pemeliharaan koleksi. BRIN terus melakukan optimasi terhadap infrastruktur yang ada di Kebun Raya agar kegiatan riset dan konservasi serta fungsi yang lain tetap berjalan bahkan lebih optimal.

Senada dengan Hendrian, Plt. Deputi bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi, Yan Rianto menerangkan, hingga saat ini tidak ada bangunan tambahan di area GLOW. Inovasi GLOW yang ada di Kebun Raya Bogor ini bukan satu-satunya di dunia, melainkan banyak negara yang telah memiliki inovasi serupa, seperti di Desert Botanical Garden (Phoenix, Arizona), Singapore Botanic Gardens (Singapura), Fairchild Tropical Botanic Garden (Miami, USA), Atlanta Botanical Garden (Atlanta), dan Botanical Garden Berlin (Jerman).

“GLOW sebagai program eduwisata yang inovatif ini terinspirasi dari berbagai kebun raya di luar negeri yang telah membuka wisata malam lebih dulu. Beberapa negara sudah lebih dulu memiliki program wisata malam di kebun rayanya,” tuturnya.

Terkait dengan pengembangan inovasi yang diberi nama GLOW, Plt. Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PRKTKR), Sukma Surya Kusuma mengatakan, pihaknya telah melakukan penelitian secara menyeluruh terkait konservasi tumbuhan, bukan hanya pada dampak dari pengembangan inovasi GLOW. Terhadap dampak penerangan jalan raya pada konservasi juga dilakukan penelitian.

“Selain itu, PRKTKR terus melakukan konservasi terhadap tumbuhan yang terancam punah. Jadi bukan karena inovasi GLOW ini saja dilakukan riset, namun riset terhadap dampak akibat perubahan yang terjadi di Kebun Raya terus dilakukan,” kata Sukma.

Direktur Sales PT Mitra Natura Raya (MNR), Michael Bayu A. Sumarijanto mengatakan, inovasi GLOW yang dikembangkan untuk edukasi dan wisata di Kebun Raya ini bertujuan untuk memberikan kesadaran konservasi pada generasi muda. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, pengunjung akan mulai atau bertambah kecintaan dan kepedulian pada biodiversity.

“GLOW menyuguhkan konten edukasi tentang biota yang ada di Kebun Raya Bogor dalam bentuk pencahayaan, animasi visual, audio, pengalaman langsung, dan lainnya,” kata Michael.

Kepada para pengunjung kebun raya yang menikmati suguhan GLOW, lanjut Michael, nantinya akan dilakukan survei secara berkala. Survei ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar informasi atau pesan tersirat dari suguhan GLOW yang dapat ditangkap oleh pengunjung.

“Survei ini dipandang perlu untuk dilakukan mengingat dari survei yang selama ini dilakukan di empat kebun raya di indonesia yakni Bogor, Cibodas, Bedugul, dan Purwodadi, hasilnya 90% pengunjung menyatakan mereka menikmati kebun raya hanya sebagai tempat olahraga dan tempat foto-foto saja, padahal misi utama dari kebun raya adalah untuk mengedukasi,” tambah Michael.

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional