Jakarta – Humas BRIN. Teknologi penginderaan jauh telah berkembang sangat pesat. Data citra satelit penginderaan jauh telah dimanfaatkan di berbagai sektor, diantaranya untuk pertanian, perkebunan dan pertambangan, tata ruang, sumber daya air dan Daerah Aliran Sungai (DAS), lingkungan, kehutanan dan kebencanaan, pesisir dan laut, serta kepentingan strategis lainnya. 

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru Triharjanto, mengatakan, BRIN sedang mengusulkan untuk pengadaan konstelasi satelit penginderaan jauh operasional.  Hal ini penting, mengingat, Indonesia merupakan salah satu yang terdepan di Kawasan Asia Tenggara, dalam pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk pembangunan.

“Saat ini, perencanaan untuk pengadaan infrastruktur antariksa tersebut tengah disusun, termasuk jaminan keberlanjutannya, yang akan melibatkan industri nasional,” ungkap Heru pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Citra Satelit Penginderaan Jauh, secara daring, Selasa (17/05).

Metodologi baru, diantaranya yang menggunakan kecerdasan artifisial, sebut Heru, telah membuka banyak kemungkinan aplikasi baru dari penginderaan jauh.

“Salah satunya, dengan data fussion dari berbagai macam sensor yang sebelumnya tidak dianggap sebagai sensor yang bisa memberikan nilai bagi penginderaan jauh, sekarang sudah sangat dimungkinkan. Sehingga di masa depan, BRIN akan meningkatkan ketersediaan data penginderaan jauh tersebut, terutama di segmen data yang pertumbuhan penggunanya sangat pesat, yaitu di resolusi sangat tinggi dan Synthetic Aperture Radar (SAR),” katanya.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menyatakan, kedepan, BRIN akan merealisasikan kemandirian pengadaan data citra satelit penginderaan jauh, yang dapat bangsa Indonesia miliki dan operasionalkan sendiri. Saat ini, BRIN sedang dalam proses perencanaan yang sangat komprehensif untuk memiliki dan mengembangkan satelit-satelit operasional.

“Jadi bukan sekedar satelit eksperimental, tetapi satelit operasional, yang salah satu tugas dan fungsinya menjadi pemasok data citra penginderaan jauh, baik untuk akurasi data 50 cm, 1m, 5 m, 10 m, dan seterusnya,” tambahnya.

Satelit-satelit tersebut juga akan dilengkapi dengan berbagai sensor dan perlengkapan yang akan mampu melihat perubahan cuaca, sehingga memberikan kemampuan untuk melakukan prediksi, misalnya mendukung BMKG untuk prediksi cuaca dengan lebih akurat dan lebih baik kedepannya.

“Semua ini akan dikelola dan dioperasionalkan secara profesional, bekerja sama dengan mitra pelaku usaha,” katanya.

“Untuk itu, pada kesempatan ini, saya mengundang segenap pelaku usaha, baik dari BUMN maupun swasta, untuk dapat bekerja sama dengan BRIN dalam mengembangkan satelit dan mengoperasionalkan satelit-satelit yang akan kita miliki kedepannya, termasuk ground-ground station, yang saat ini dioperasionalkan oleh kami sebelumnya di BRIN,” sambung Handoko.

Dirinya menegaskan, BRIN akan terus berkomitmen untuk melayani data citra yang berasal dari satelit penginderaan jauh, yang bisa dimanfaatkan oleh Kementerian/ Lembaga, Pemerintah Daerah, BUMN, maupun swasta.

Citra satelit, sebut Handoko, memegang peranan yang sangat penting tidak hanya terkait pemetaan. Tetapi bagaimana Indonesia mampu memitigasi dan melakukan monitoring, seperti prediksi mitigasi kebencanaan, monitoring kebakaran hutan, dan memprediksi aliran plankton untuk menetapkan zonasi-zonasi penangkapan ikan secara lebih efisien (tnt).

#ReformasiBirokrasiBRIN

#ProfesionalOptimisProduktif

Sebarkan