Jakarta – Humas BRIN, Perkembangan riset dan inovasi di Indonesia masih dirasakan kurang menggembirakan, hal ini terlihat dari data yang dilansir oleh Global Innovation Index bahwa tingkat inovasi Indonesia menduduki peringkat 85 dari 113 negara. Hal inilah yang memicu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengajak seluruh elemen bangsa terus mengembangkan inovasi yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Mego Pinandito dalam sambutannya pada webinar Kick off Event and Executive Keynote Berikanpreneur : Start-up Activation 2021, mengatakan, sebelum menciptakan dan mengembangkan sebuah inovasi hendaknya memperhatikan banyak hal, salah satunya adalah kebutuhan masyarakat. “Dalam mengembangkan inovasi kita harus tahu terlebih dahulu kebutuhan masyarakat terhadap inovasi yang akan kita ciptakan, pangsa pasarnya dan mitra yang akan kita ajak kerja sama,” kata Mego, Selasa (02/11).

BRIN sebagai lembaga penelitian, lanjut Mego, telah mengembangkan beragam penelitian dari berbagai bidang, salah satunya yang relevan dengan tema webinar Berikan Wirausaha Muda Berkualitas adalah teknologi fortifikasi. Teknologi fortifikasi dikembangkan oleh BRIN untuk peningkatan kandungan vitamin pada makanan sehingga kualitas makanan menjadi lebih bagus.

“Teknologi seperti ini tentunya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengembangkan peluang bisnisnya khususnya di bidang penyediaan makanan. Dengan memanfaatkan teknologi ini akan dapat kualitas dan daya saing produk makanan yang diproduksi,” tambah Mego.

Mego mengajak para kawula muda atau mahasiswa yang berminat untuk mengembangkan bisnis atau melakukan penelitian dapat berkolaborasi dengan BRIN. Para peneliti di BRIN siap membantu dalam memberikan bimbingan dalam implementasi teknologi.

Menurut Mego, hilirisasi riset dan inovasi harus terus dilakukan agar masyarakat dapat memanfaatkannya dan indeks inovasi Indonesia meningkat serta mampu bersaing dengan negara lain. “Melalui kegiatan inilah proses hilirisasi inovasi teknologi dapat berlangsung dengan baik dari pencipta inovasi kepada masyarakat pengguna yang pada akhirnya mampu meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan,” jelasnya.

Founder Berikan Protein Initiative selaku penyelenggara webinar, Yoggie Ary mengatakan, pemerintah dan perguruan tinggi diharapkan terus berkolaborasi dengan memberikan fasilitas, dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi talenta anak-anak bangsa khususnya di bidang kewirausahaan berbasis teknologi dan sosial (sociotechnopreneur) yang akan memberikan kontribusi terhadap percepatan pembangunan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan di Indonesia.

Berikan Protein Initiative bekerja sama dengan Perguruan Tinggi hadir untuk bisa menjawab tantangan permasalahan tersebut dengan menyelenggarakan kompetisi Berikanpreneur: Start up Activation, sebuah kompetisi dan inkubasi bisnis mahasiswa tingkat nasional yang bertujuan untuk mencetak 1.000 wirausaha muda di bidang sociotechnopreneur melalui inovasi penciptaan produk-produk pangan lokal unggulan bergizi.

Kick off Event and Executive Keynote Berikanpreneur bertujuan memberikan pemahaman mengenai strategi pemerintah dalam penguatan ekosistem inovasi dan pendidikan di perguruan tinggi untuk memfasilitasi terciptanya talenta yang produktif, inovatif, dan adaptif,” kata Yogie. (Pur)