Jakarta – Humas BRIN. Research Innovation Initiative Gathering (RIIG) menjadi rangkaian kegiatan dalam presidensi G20 telah digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara daring, Kamis (24/02). RIIG merupakan side event G20 yang digagas oleh BRIN dengan tujuan untuk meningkatkan, mengintensifkan, serta memperkuat kolaborasi riset dan inovasi dengan berbagi sarana, prasarana, dan pendanaan di antara negara-negara anggota G20.

Plt. Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN sekaligus ketua RIIG, Agus Haryono memandang perlunya komitmen dan partisipasi dalam kerja sama riset dan inovasi serta perlu adanya kerangka kerja yang spesifik, layak, dan dapat ditindaklanjuti. Terdapat empat bidang riset potensial yang dibahas di dalam RIIG ini, yakni keanekaragaman hayati, laut dan ilmu kelautan, antariksa dan ilmu kebumian, serta energi baru terbarukan. 

“RIIG menawarkan kerja sama riset beserta pemanfaatannya di bidang-bidang tersebut. Hal ini tidak lain untuk mendukung Blue and Green Economy serta transisi menuju Clean Energy. Negara-negara anggota G20 sangat mendukung riset ini,” ujar Agus.

Selanjutnya, jelas Agus, RIIG akan membahas usulan kerangka kerja yang spesifik, praktis, dan layak untuk berbagi fasilitas, data, pendanaan, dan infrastruktur antar negara G20. RIIG juga akan memperkuat kolaborasi riset dalam bidang ilmu kelautan, mempertajam fokus pada energi baru terbarukan, serta menawarkan upaya yang lebih terarah pada sumber energi terbarukan tertentu.

“Indonesia akan mengadopsi dan mempertimbangkan semua masukan dari setiap negara anggota G20 yang hadir dalam pertemuan ini. Komentar dan saran yang disampaikan oleh para delegasi dari negara-negara anggota G20 tentunya akan diintegrasikan dalam prospektus RIIG pertama yang akan dilaksanakan pada akhir Maret 2022 mendatang,” tutur Agus.

Mempertimbangkan tanggapan, masukan, dan kepentingan negara-negara anggota G20, para anggota delegasi negara anggota G20 mengusulkan beberapa poin untuk dibahas dalam rangkaian RIIG berikutnya pada tahun 2022. Pertama, mengusulkan kerangka kerja yang spesifik, praktis, dan layak untuk berbagi fasilitas, pendanaan, data, dan infrastruktur antara negara-negara G20 , dengan mempertimbangkan masalah keamanan data. Indonesia akan memberikan konsep open platform yang lebih rinci untuk dibahas dalam pertemuan RIIG berikutnya.

Kedua, mengidentifikasi keterlibatan negara anggota G20 saat ini dalam ilmu kelautan. Ketiga, mempertajam fokus pada energi terbarukan dan menawarkan upaya yang lebih terarah pada sumber energi terbarukan tertentu.

Di bidang ilmu antariksa dan bumi, lanjut Agus, RIIG menawarkan riset dan inovasi pemanfaatan teknologi antariksa untuk mendukung kelautan dan keanekaragaman hayati. RIIG mencatat bahwa negara-negara anggota G20 memiliki minat yang besar terhadap kerjasama riset antariksa dan ilmu bumi. 

Kendati demikian, sebagian besar negara peserta RIIG  tampaknya lebih suka melanjutkan keterlibatan mereka saat ini daripada memasuki kolaborasi baru secara eksklusif di antara negara-negara G20. “Perlu dicatat bahwa Indonesia menyambut baik keterlibatan negara-negara lain untuk bergabung dan berkolaborasi dalam riset dan inovasi,” tuturnya..

Pertemuan tersebut juga menawarkan kerjasama riset tentang transisi energi bersih. Negara-negara anggota G20 telah menyatakan komitmen mereka terhadap energi terbarukan tetapi perlu menentukan area yang lebih fokus. Negara-negara anggota mencatat perbedaan sumber energi terbarukan di antara negara-negara G20 dan pentingnya penyelarasan dengan COP26. (frd,pur)

Sebarkan