Jakarta, Humas BRIN. Pemerintah Indonesia bertekad mewujudkan komitmen Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Salah satu upaya rasional untuk mendukung program tersebut dengan penggunaan energi nuklir. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko mengatakan, target NZE menjadi target yang  sangat penting dalam konteks menyelamatkan lingkungan dan menjamin kualitas hidup yang setidaknya sama atau lebih baik dari saat ini.

Ia menekankan bahwa sebagai periset yang harus berbasis rasional dan fakta saintifik, kondisi saat ini tidak mungkin dapat  mencapai target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada tahun 2025 dalam bauran energi  nasional. Menurutnya, masalah bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga belum matangnya energy storage untuk skala besar. Sehingga jika berangkat dari faktor tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi pilihan yang paling rasional.

“Sebagai manajemen Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) tentu kita sangat mendukung dan akan ikut berkontribusi. Ada dua skenario yang kami siapkan untuk terlibat dalam era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan teknologi saat ini. Pertama, BRIN sebagai konsultan pemerintah yang memberikan rekomendasi dari sisi kebijakan. Kedua, BRIN juga bisa masuk ke generasi teknologi berikutnya, yaitu  berjuang keras masuk ke advance technology storage,” ungkap Laksana Tri Handoko saat membuka Prof. Talk bertajuk “Siapkah Tenaga Nuklir Mendukung NZE Indonesia?” pada Selasa (16/11).

Handoko menambahkan upaya kerja sama dengan pengembangan teknologi juga diperlukan. “Kita masih punya peluang untuk mendorong kolaborasi secara massif sehingga kita dapat menjadi mitra yang setara. Ini menjadi perhatian dan pekerjaan rumah seluruh periset yang terkait,” katanya.

“Kita harus mencari terus, melakukan revitalisasi, menjadi pakar baru, melakukan penataan ulang sumber daya untuk mendukung energi nuklir di masa akan yang datang. Ujung-ujungnya bagaimana target utama NZE tercapai dan kita menjadi bagian dari masyarakat dunia, berkontribusi menciptakan lingkungan menjadi lebih friendly,” imbuhnya.

“BRIN akan akan berperan sebagai konsultan pemerintah dari sisi kebijakan dan pemilihan teknologi. BRIN juga berjuang keras masuk ke advance technology, tidak hanya teknologi reaktornya, namun juga terkait dengan energy storage,” ungkapnya.

Profesor Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama pada Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, bicara soal kesiapan energi nuklir dalam mendukung NZE tidak hanya masalah teknologi, tetapi juga sosial budaya.

Kendati masih menuai pro dan kontra, faktanya, nuklir berperan besar dalam menekan emisi karbon. Ia memaparkan, menurut data European Environment Agency tahun 2020, Jerman menduduki negara penghasil emisi karbon tertinggi bila dibandingkan Denmark, Prancis, dan Swedia. Jerman menghasilkan 311, Denmark 109, Prancis 51, dan Swedia 9 emisi karbon (dalam gram) per kwh listrik.

Dominasi sumber energi listrik Jerman berasal dari energi terbarukan 41 persen, batu bara 26 persen, gas alam 16 persen, dan nuklir 11 persen. Sedangkan Swedia menggunakan tenaga hidro dan nuklir masing-masing 39 persen, energi terbarukan 12 persen, dan gas alam 12 persen.  

“Artinya apa? Nuklir menjadi faktor signifikan dalam mengurangi emisi karbon,” jelasnya.

Kendati masyarakat masih dibayangi oleh kecelakan PLTN Chernobyl Ukraina dan Fukushima Daiichi Jepang, namun faktanya lanjut Djarot, 2 negara tersebut tidak bisa lepas dari PLTN. Ukraina saat ini memiliki 15 PLTN dan Jepang memiliki 33 PLTN yang beroperasi. Selain itu, nuklir saat ini menyumbang 10 persen dari total kebutuhan energi dunia yang mencapai 26 ribu terawatt hour. 

“Tantangan utama bukanlah pada teknologi, namun pada masalah sosial politik”, ungkapnya.

Sementara Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Deendarlianto, mengatakan, pihaknya telah menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah melalui buku putih energi UGM tahun 2019, yang salah satu rekomendasinya adalah dalam tata kelola energi nasional, perlunya memulai langkah transisi menuju pemanfaatan PLTN dan sumber energi alternatif sebagai solusi sumber energi nasional.

“Kami dari dulu berkomitmen mendorong penggunaan PLTN  dalam tata kelola kelistrikan nasional,”ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, perlunya sinergi yang berkesinambungan antara perguruan tinggi dengan BRIN maupun pihak-pihak yang berhubungan dengan PLTN dalam penyediaan SDM. Beberapa perguruan tinggi yang memiliki bidang-bidang yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kenukliran, antara lain UGM, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Poltek Nuklir.

“Beberapa program studi seperti teknik nuklir, teknik fisika, teknik elektro, teknik kimia, teknik mesin, elektronika mekanik, elektronika instrumentasi, teknokimia nuklir, fisika, dan kimia, itu seharusnya cukup menyuplai SDM-SDM andal dari dalam negeri dalam pengoperasian PLTN,” tambahnya.

Perekayasa Ahli Utama Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi BRIN, Unggul Priyanto, menekankan bahwa memang tidak mudah menyampaikan sesuatu terkait sains ke orang awam. Apalagi terkait nuklir.

“Hal-hal seperti itu perlu dikomunikasikan dan disosialisasikan. Perlu diekspos manfaat nuklir, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan meyakinkan.  Teknologi nuklir mutlak kita kuasai, sehingga kita harus punya PLTN. Kapasitas nuklir hampir 93 %, paling tinggi dibanding kapasitas pembangkit energi yang lain. Perancis menggandalkan 70% tenaga nuklir sebagai penghasil energi. Saat negara-negara Eropa mengalami krisis energi dari sumber daya fosil dan lainnya, Perancis justru meraup keuntungan karena dapat menjual energi listrik,” ungkap Unggul.

Sebagai informasi talkshow yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Ridwan, Peneliti Ahli Utama OR-TN BRIN ini juga dihadiri oleh narasumber lain yaitu Prof. Dr. Deendarlianto, Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada dan Dr. Ir. As Natio Lasman, Anggota Dewan Energi Nasional. Selain dapat disaksikan secara zoom meeting, acara ini dapat disaksikan melalui kanal youtube BRIN. (sa ed sl tnt)