Tangerang Selatan – Humas BRIN. Dalam meningkatnya produktivitas invensi dan inovasi, untuk memperkuat transformasi ekonomi yang berdaya saing dan berkelanjutan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan 30 kerja sama lisensi. Untuk melaksanakan sasaran strategis tersebut, BRIN melalui Direktorat Alih dan Sistem Audit Teknologi pada Kedeputian Pemanfaatan Riset dan Inovasi, pada suatu kesempatan menyelenggarakan temu bisnis antara inventor BRIN dengan industri, yang bergerak pada bidang pertanian dan pangan.

“Dari kegiatan ini diharapkan terjadinya kesepakatan bisnis, berupa kerja sama lisensi. Dalam mendukung salah satu indikator capaian Kedeputian Pemanfaatan Riset dan Inovasi tahun 2022, yakni diperolehnya 30 kerja sama lisensi,” ucap Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan dalam Forum Fasilitasi Alih Teknologi (FFAT) 2022, beberapa waktu lalu.

Tujuan dari kegiatan ini, kata Edi, untuk meningkatkan jumlah invensi pertanian dan pangan, yang dimanfaatkan oleh calon mitra industri. Selain itu, forum ini juga diharapkan dapat meningkatkan riset dan inovasi berdasarkan demand pull, atau kebutuhan industri.

Diantara inovasi yang ditawarkan dalam forum tersebut yaitu teknologi mi siap seduh bebas gluten. Seperti yang diketahui mi merupakan makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia, sebagai pengganti makanan pokok. Kelebihannya, mi mudah disajikan, lezat, dan memberikan rasa kenyang. Sayangnya, sebagian besar mi komersial, dibuat dari bahan dasar tepung terigu.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN Dini Ariani menawarkan alternatif, berupa teknologi pembuat mi siap seduh. Berbahan dasar tepung modifikasi cassafa atau mocaf, tanpa penambahan terigu, sehingga bebas gluten. “Mi ini dapat dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat, sebagai sumber karbohidrat, dan serat pangan. Aman dikonsumsi oleh penderita autis, dan menjadi alternatif zat gizi bagi penderita yang mengalami gangguan pencernaan,” ungkapnya.

Mi siap seduh bebas gluten, merupakan produk pangan alternatif sumber karbohidrat dan serat (4,12%). Terbuat dari 100% bahan pangan lokal, yaitu mocaf sebagai hasil fermentasi ubi kayu, tepung sagu, tapioka, tepung beras, dan telur, sehingga bebas gluten. “Cara penyajiannya mudah, dan praktis. Produksi mi siap seduh yang dilakukan UMKM binaan pada tahun 2022 ini, sudah laku terjual hingga 1700 cup, dengan konsumen dari Yogyakarta dan sekitarnya,” kata Dini.

Selanjutnya, inovasi formula pangan darurat yang mengandung immunostimula. Secara umum, pangan darurat dapat didefinisikan sebagai produk pangan olahan yang dirancang khusus untuk dikonsumsi pada situasi yang tidak normal. Saat bencana alam, yaitu banjir, longsor, gempa bumi, musim kelaparan, kebakaran, dan lain-lain. Bencana bukan karena alam, antara lain konflik senjata, genosida, kecelakaan industri, dan sebagainya.

Untuk mengatasi kemungkinan tersebut, Peneliti dari Pusat Riset Agroindustri BRIN, Retno Dumilah Estiwidjayanti memberikan solusi tentang formula pangan darurat yang mengandung immunostimula. Menurut Zoumas et al. (2002) pangan darurat merupakan pangan khusus yang dikonsumsi pada saat darurat, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian manusia, yaitu 2100 kkal.

Retno menuturkan, ada lima karakteristik penting untuk pengembangan Emergency Food Product (EFP) yang sukses, yaitu aman, enak, mudah dipindahkan dan didistribusikan, mudah digunakan, dan nutrisi lengkap. Kemudian, ada pengelompokan pangan darurat, pertama, produk pangan yang dirancang untuk kondisi saat air bersih, dan bahan bakar untuk memasak sudah tersedia. Kedua, produk pangan yang dirancang untuk menghadapi situasi, saat air bersih tidak tersedia dan tidak memasak.

Pangan darurat yang dikembangkan berupa makanan siap saji, berkalori tinggi, mengandung imunostimulan, mengandung vitamin mineral, bahan baku lokal, bentuk produk biskuit fungsional. Teknologi produksi biskuit fungsional, akan sangat bermanfaat untuk produksi darurat. Mengingat kondisi geografis yang sangat rawan bencana, dan rawan gizi serta Kesehatan.

Masalah yang coba dipecahkan dari penelitian ini, tutur Retno, untuk mengatasi kekurangan imun dan energi pada saat bencana alam, maupun bencana lainnya. Bisa juga pada kondisi saat diperlukan energi tinggi, seperti mendaki gunung, dan latihan militer. (ns/ed: jml)

Sebarkan