Tangerang Selatan – Humas BRIN. Berdasarkan Peraturan Kepala BRIN Nomor 1 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja BRIN, Direktorat Alih dan Sistem Audit Teknologi pada Kedeputian Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN. “Kami memiliki tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Pemberian bimbingan teknis, dan supervisi di bidang alih dan sistem audit teknologi,” ucap Edi Hilmawan, Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi-BRIN, pada Forum Fasilitasi Alih Teknologi (FFAT) 2022, di Puspiptek Serpong, Rabu (15/06).

Direktorat Alih dan Sistem Audit Teknologi, lanjut Edi, juga berfungsi untuk menghubungkan penyedia teknologi hasil aktivitas riset dan produk inovasi dengan kementrian/lembaga, masyarakat, UMKM serta industri yang memiliki kebutuhan terhadap hasil Litbangjirap melalui skema alih teknologi berupa perjanjian lisensi.

“Tahun ini jumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) lisensi BRIN yang telah ditandatangan ada 6 PKS. Kemudian, target PKS lisensi BRIN, yang telah ditandatangani per Mei 2022, terdapat 5 PKS,” sebut Edi.

Pada kesempatan yang sama, Diar Wahyu Indriarti peneliti BRIN, menjelaskan tentang program fasilitasi dari BRIN, untuk pengujian produk inovasi pertanian, peternakan, dan perikanan, terbuka bagi periset BRIN, dan instansi eksternal. Baik yang berasal dari lembaga riset, perguruan tinggi, maupun industri.

“Produk yang dapat difasilitasi, yaitu varietas unggul, pakan ternak dan ikan, pupuk, pestisida, rumpun, atau galur ternak, obat dan vaksin hewan, dan benih ikan,” paparnya.

Menurut Diar, sayangnya belum ada lembaga yang biasa menangani uji adaptasi atau multilokasi, uji potensi produksi benih, dan uji petak pembanding. “Selama ini dilakukan oleh penyelenggara pemuliaan dengan supervisi Tim Penilai Varietas, yang berasal dari Direktur Jenderal – Kementerian Pertanian,” tutupnya.

BRIN telah menghasilkan invensi dari berbagai bidang, termasuk bidang pertanian dan pangan. Beberapa invensi pertanian dan pangan yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat, adalah pupuk organik hayati, formulasi untuk probiotik ruminansia, suplemen pakan unggas, mesin sangrai kopi, dan lain-lain. Invensi-invensi ini, diharapkan dapat mengatasi isu dan tantangan nasional, pada sektor pertanian dan pangan.

Peneliti asal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Deksa Presiana, memaparkankan hal terkait pangan. Menurutnya, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air. Baik yang diolah, maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan, atau minuman bagi konsumsi manusia.

Dirinya menambahkan, untuk izin edar pangan terdiri dari pangan segar, dan pangan olahan. “Pangan segar adalah pangan yang belum  mengalami pengolahan dapat dikonsumsi langsung, dan dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan. Sedangkan pangan olahan, berupa makanan atau minuman hasil proses metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan,” kata Deksa.

“BPOM akan memberikan dukungan untuk fasilitasi hilirisasi produk inovasi. Berupa fasilitasi penyusunan standar, atau regulasi produk inovasi. Program Bapak Angkat, yang menjembatani antara UMKM dan industri,” ucapnya. (ns/ed: jml)

Sebarkan