Jakarta – Humas BRIN, Pada perhelatan Konferensi Tingkat  Tinggi (KTT) kelompok G20, Indonesia ditunjuk sebagai pemimpin atau Presidensi G20. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai satu-satunya lembaga riset di Indonesia memiliki peran penting dalam perhelatan G20 tersebut, khususnya dalam membangun kolaborasi riset dan inovasi antar negara anggota G20.

Dalam rangkaian menyambut G20 itulah, BRIN mengoordinasikan beberapa kegiatan, salah satunya adalah Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG). Dua agenda prioritas yang akan dibahas pada kegiatan RIIG yakni, meningkatkan kerjasama riset dan inovasi melalui sharing fasilitas, infrastruktur, dan pendanaan; dan pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk mendukung green and blue economy.    

Plt. Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi, Agus Haryono menyampaikan beberapa hal yang menjadi pertimbangan diusulkannya agenda prioritas terkait meningkatkan kerjasama riset dan inovasi melalui sharing sarana, infrastruktur, dan pendanaan. “Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah meningkatnya berbagai permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara anggota G20 selama ini,” kata Agus pada Focus Group Discussion, Kamis (17/02).

Pertimbagan lainnya menurut Agus, adanya kebutuhan terhadap solusi dari anggota G20 untuk menjawab permasalahan yang dihadapi negara anggota G20 secara bersama dalam perspektif global. Perlunya penetapan target dan komitmen yang kuat antar negara anggota G20 untuk mewujudkan target tersebut.

“Selain itu, masih adanya kesenjangan kemampuan penelitian yang cukup lebar di antara negara anggota G20,” tambah Agus.

Agus menjelaskan, hasil yang diharapkan dari agenda prioritas meningkatkan kerjasama riset dan inovasi melalui sharing sarana, infrastruktur, dan pendanaan adalah munculnya platform kolaboratif riset dan inovasi yang lebih kuat dan lebih efektif di antara negara anggota G20. Selain itu, memberikan nilai dan peran penting riset dan inovasi dalam membangun ekonomi dunia yang tangguh, dalam menghadapi masalah dan tantangan yang dihadapi. 

Di dalam agenda prioritas meningkatkan kerjasama riset dan inovasi melalui sharing sarana, infrastruktur, dan pendanaan, akan diusulkan empat kegiatan penelitian yakni, penelitian tentang keanekaragaman hayati, penelitian kelautan, penelitian energi baru dan terbarukan, dan penelitian ruang angkasa dan atmosfer. 

Agar agenda prioritas ini berjalan dengan baik, Agus mendorong seluruh anggota G20 untuk meningkatkan kolaborasi riset dan inovasi. “Indonesia akan mengajak negara-negara anggota G20 untuk sharing fasilitas dan infrastruktur penelitian, mengurangi kesenjangan yang ada, mengembangkan mekanisme dukungan riset dan inovasi bagi negara-negara anggota,” ujarnya.

Indonesia melalui BRIN, menyambut secara terbuka, dan mendorong peneliti dari seluruh negara anggota G20 untuk melakukan penelitian di Indonesia, sesuai dengan skema kebijakan dan regulasi yang berlaku. 

Plt. Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian, Ocky Karna Radjasa menjelaskan agenda prioritas kedua yang akan menjadi kegiatan di dalam RIIG yakni pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk mendukung green dan blue economy. Setidaknya terdapat dua hal penting yang diharapkan dari agenda prioritas ini.

“Pemanfaatan keanekaragaman hayati menjadi faktor penting dalam mendukung green dan blue economy. Dan meningkatkan kekuatan dan kapasitas negara-negara anggota G20 untuk memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sebagai sumber daya utama untuk mendukung green and blue economy, yang dimobilisasi secara optimal dan kolaboratif, dan manfaatnya dapat dapat dirasakan secara adil,” kata Ocky.

Menanggapi usulan kedua agenda prioritas yang akan dilaksanakan pada RIIG G20, Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia,  Masyarakat, dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjoko mengatakan, side event G20 ini merupakan ajang untuk mempromosikan keunggulan yang dimiliki Indonesia, khususnya terkait riset dan inovasi. Dari ajang inilah diharapkan muncul kolaborasi antara Indonesia dengan negara anggota G20.

“Event ini kita jadikan sebagai ajang jualan kita untuk mempromosikan keunggulan riset dan inovasi. Kita harus mampu menyampaikan kepada dunia apa keunggulan kita, sehingga produk kita dibeli dan negara-negara maju akan berkolaborasi dengan kita,” kata Subandi.

Menurut Subandi, tema utama yang harus dijadikan unggulan dalam perhelatan RIIG nanti adalah pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam mendukung green and blue economy. Hal ini dikarenakan isu green and blue economy menjadi topik mendunia yang selalu dibahas dalam rangka pembangunan berkelanjutan.

Tema berikutnya menurut Subandi adalah meningkatkan kerjasama riset dan inovasi melalui sharing sarana, infrastruktur, dan pendanaan. Tema kedua ini menunjukkan bahwa Indonesia telah mempunyai berbagai fasilitas dan infrastruktur yang siap untuk dikolaborasikan antar negara anggota G20.

“Kapasitas periset kita melalui kolaborasi ini bisa ditingkatkan sehingga sumber daya riset kita nantinya akan semakin kuat,” tambahnya. 

Yang tidak kalah pentingnya lanjut Subandi, hendaknya kedua tema tersebut dalam nantinya dapat dikaitkan dengan isu global yang melanda dunia yakni pandemi covid-19 dan perubahan iklim. Melalui riset dan inovasi, BRIN diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menghadapi tantangan pandemi covid 19 dan perubahan iklim.

Adanya pandemi covid-19 jelas Subandi, turut mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia. Agar bisa lepas dari persoalan ekonomi dan bangkit dari krisis sebagai dampak dari pandemi covid-19, Indonesia memerlukan transformasi ekonomi sebagai strategi jangka panjang.

“Strateginya adalah melakukan pergeseran struktur ekonomi dari sektor kurang produktif ke sektor yang lebih produktif/industrialisasi, dan pergeseran produktivitas antar sektor,”  turunya.

Strategi berikutnya adalah ekonomi hijau sebagai model pembangunan yang mensinergikan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan, yang dilakukan melalui Ekonomi Rendah Karbon dan Transisi Energi.

Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan, Kementerian Luar Negeri, Hari Prabowo memberikan pandangannya terhadap rencana kegiatan RIIG yang menjadi bagian dari KTT G20. Presidensi G20 mengambil tema recover together recover stronger, yang fokus pada pemulihan kondisi ekonomi setelah diterpa pandemi covid-19.

Pemulihan yang diinginkan adalah pemulihan yang memungkinkan semua negara untuk pulih dan maju bersama. “Untuk itu kita akan mengedepankan multilateralisme, partnership dan inklusivitas. Presidensi Indonesia akan memastikan ekonomi dunia yang terbuka, adil, dan saling menguntungkan,” kata Hari.

Menurutnya, kondisi pandemi ini harus dijadikan momen langka untuk transformasi dunia untuk menjadi lebih baik. Presidensi Indonesia akan menyediakan platform terobosan dalam upaya transformasi di berbagai bidang.

Untuk mendorong adanya platform terobosan untuk transformasi di berbagai bidang, jelas Hari, Presidensi Indonesia telah mengidentifikasi tiga sektor prioritas. Pertama, memperkuat arsitektur kesehatan global yakni menyiapkan sumberdaya global untuk menjawab kondisi pandemi dan darurat kesehatan di masa yang akan datang.

Kedua, transformasi digital yang memastikan transisi digital yang inklusif bagi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Ketiga, transisi energi berkelanjutan yang mendorong G20 berperan dalam memastikan ketersediaan teknologi bersih yang terjangkau.

“Bedasarkan tiga identifikasi sektor prioritas tersebut, satu hal yang menjadi pembeda Presidensi G20 kita adalah meski G20 adalah forum multilateral yang bresifat norm setting dan sorm shaping, Indonesia akan mencoba mendorong agar G20 menghasilkan sesuatu yang konkrit deliverables. Dan ini menjadi tantangan kita semua dan harus diupayakan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pencapaian tujuan G20 sebagaimana yang diamanatkan oleh Presiden RI,” pungkasnya. (pur)

Sebarkan