Jakarta – Humas BRIN. Manusia diberikan karunia yang luar biasa, yang membedakan dengan makhluk hidup lainnya, yaitu akal. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, memandang bahwa, kita harus memanfaatkan akal dari sisi kemanusiaan untuk bisa berinovasi, memberikan solusi yang terbaik bagi umat manusia.

“Dalam konteks inovasi, menurut saya adalah bagian dari ibadah yang luar biasa. Karena selama hasil inovasi itu dimanfaatkan, maka akan memberikan solusi bagi umat dan menjadi ladang pahala bagi kita,” ucap Handoko, saat diundang menjadi salah satu pembicara, pada Pengajian 5.0, Seri I: Budaya Inovasi dalam Islam, secara live di YouTube Masjid Istiqlal TV, Senin (11/04).

Bicara soal membangun budaya inovasi, lanjut Handoko, banyak diantara kita yang berpendapat bahwa yang bisa berinovasi hanya akademisi atau periset. Menurutnya, siapa saja bisa jadi periset, selama peka terhadap suatu masalah dan kreatif mencari solusi untuk mengatasi masalah.

“Jadi harus dibedakan periset dan akademisi. Kalau akademisi, dia memang harus memiliki kualifikasi tertentu, dan akademisi biasanya periset. Tapi untuk menjadi periset tidak perlu menjadi akademisi, karena periset butuh kepekaan akan suatu masalah, dan kreativitas dalam mencari solusi untuk mengatasi masalah itu,” tuturnya.

Sebagai upaya membangun budaya inovasi di tengah masyarakat, terang Handoko, BRIN telah melansir berbagai skema pendanaan dan fasilitasi sejak Desember tahun 2021 lalu. Skema-skema ini terbuka tidak hanya untuk akademisi dan periset BRIN, tetapi juga untuk industri kecil maupun besar, perguruan tinggi, komunitas, bahkan masyarakat umum.

“Budaya inovasi menjadi relevan untuk kita saat ini di tengah-tengah ketatnya kompetisi di dunia, kompetisi negara kita dengan negara lain. Sehingga, dengan membangun budaya inovasi, umat muslim, khususnya di Indonesia bisa berdiri tegak dan sejajar dengan negara-negara lain,” tegasnya.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, memberikan pemahaman bahwa Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan dengan inovasi.

“Iqra itu arti basic-nya bukan hanya membaca, tetapi melakukan inovasi. Seakar kata dengan istiqra’, artinya kajilah,” jelasnya.

Dikemukakan Nasaruddin, inovasi harus memiliki legitimasi moral dan religius. Artinya, tidak hanya mendatangkan kebermanfaatan, namun berpedoman nilai agama.

“Rasulullah mengkombinasikan antara iqra (bacalah) dan bismi rabbi (dengan nama Tuhanmu). Sehingga agama tidak untuk dipertentangkan dengan sains,” ungkapnya.

Hampir semua peristiwa-peristiwa monumental dalam sejarah islam, urai Nasaruddin, terjadi pada bulan suci Ramadan. Dalam dunia sains, pendirian Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, didirikan pada bulan suci Ramadan. Begitu pula dengan Baitul Hikmah yang menelurkan para pemikir-pemikir tersohor, yang menjadi saksi tingginya semangat menimba ilmu di kalangan kaum muslimin pada masa lalu.

“Dunia arab telah melahirkan peradaban Islam yang maju. Saatnyalah Indonesia menjadi tumpuan dalam dunia Islam saat ini,” tandasnya.

Pengajian ini juga menghadirkan 2 narasumber lainnya, yaitu Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Habibie, dan Direktur Telkom, M Fajrin Rasyid (tnt).

Sebarkan